Alas nDarupono

Di tahun-tahun 2002-2004 ketika aku bekerja di Kendal dan Tegal, aku sering sekali melewati Alas nDarupono, suatu kawasan hutan yang -konon- angker, lebih angker daripada Alas Roban. Tapi dasar aku ya biasa-biasa saja melewati tempat-tempat yang angker sekalipun sudah lewat tengah malam.

Sejak dulu berkembang mitos-mitos tentang Alas nDarupono, sampai-sampai blandong liar maling kayu pun tidak berani mengambil kayu di kawasan Alas nDarupono. Padahal, kayu-kayu di Alas nDarupono yang terletak di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah ini sangat bagus, maklumlah, menurut data dari Ideo.columbia.edu dan Departemen Kehutanan, pohon-pohon jati di Alas nDarupono mulai ditanam pada tahun 1776-1820, dan pada tahun 1933 ditetapkan sebagai Cagar Alam dengan Surat Penetapan GB. No.19 Stbl 965, seluas 30 hektar dengan nama Cagar Alam Pagerwunung Darupono.

Karena periodisasi tanam-tebang pohon jati di Alas nDarupono berakhir pada tahun 2004 lalu, sedangkan kawasan itu berstatus Cagar Alam, maka Departemen Kehutanan kembali mengeluarkan Surat Penetapan Sebagai Cagar Alam melalui SK No 115 Menhut-II/Tahun 2004, Tanggal 19 April 2004 dengan luas 33,2 hektar.

Post to Twitter Post to Plurk Post to Facebook Send Gmail

Related Posts

33 thoughts on “Alas nDarupono

  1. Pasti terinspirasi Setelah datang dari rumah terus lewat Ndarupono kok Alase Sepi Mengerikan…, baru menghibur diri dengan melahirkan inspirasi.
    Yes……..
    Makasih Set.blognya… terus disempurnakan agar tambah bagus iya.

  2. saya sudah berkali-kali melewatu alas ndarupono ketika mau silaturahmi dg teman2 di boja dan sekitarnya. terkesan angker memang, apalagi pada malam hari. semoga ndarupono tetep menjadi hutan yang terlindungi. selamat berlebaran, mas andy, mohon maaf lahir dan batin.

  3. tulisan yang informatif and educated ini
    membuatku tau soal Alas nDarupono
    di Sumut jg sangat bnyk terjadi penebangan
    hutan secara membabibuta

    *Minal Aidin wal Faidzin*

  4. Mugkin mas andy neh keberanian lebih angker dari tempat itu..heueuue

    oh yaaa – Minal aidin wal faidzin mas.. salam juga untuk keluarganya mas

    maaf yah bila ada salah2 kata atau apapun itu.. ngomong2 ngga mudik yach..hehueueu

  5. wah keren itu mas tempatnya sekali waktu pengen juga kesana lihat lihat pemandangan saya paling suka masuk hutan liat hal hal yang asing kapan bisa bareng kesana mas
    salam dari gunung kelir

  6. Memang kalau berjalan di alas (hutan) agak merinding mengingatkanku waktu jalan kaki dari Sarangan ke Tawangmangu jalan kaki melewati hutan, Salam

  7. sangat tidak bijak bila harus mengorbankan hutan hanya demi TPA,, ingat bahwa dulu DARUPONO adalah desa yang asri dan sejuk,, sekarang?
    bila memang ingin membangun TPA yang menjadi solusi bersama bagi masyarakat kendal,,
    yo mbok ya o,, jagan mencemari lingkungan yang msih bersih.
    saran saya, TPA lebih cocok berada di kawasan pesisir yang secara geografis memang lahannya kritis dan sudah trcemar olh limbah pabrik,,
    intinya ::: JANGAN MENCEMARI DAERAH YANG MASIH ALAMI

    Masyarakat kendal semuanya,,,mari perjuangkan keasrian DARUPONO,, kembalikan alam desa yang membanggakan kabupaten Kendal ini,,
    ini adalah tgas kita sebaai warga kendal untuk melindungi aset yang masih ada,, jangan justru di rusak oleh kepentingan sekitar.

      • siiip kang,, q siap bila sewaktu2 sampean memerlukan bantuan. nuwun banget atas niat baiknya,, semoga cepat terealisasi kang,, amin

  8. Masyarakat Kendal marilah kita sadar,,
    kita jaga yang masih alami dan kita maksimalkan daerah2 pesisir yang lahan kritis untuk membangun TPA terpadu,,
    Saya yakin dengan status ka Kendal yang masuk 50 besar daerah berpendapatan per kapita terbear di republik ini pasti mampu untuk membangun TPA terpadu,,
    jangan hanya mengandalkan HUTAN untuk menjadi TPA “terpadu”,, itu bukannya SOLUSI bagi kita, tapi POLUSI.

    mari bersama,, silahkan reply dan berikan sumbagsih dukugan anda,,,
    kita lihat seberapa bijak hati masyarakat kendal,,,
    ingat… ” yang PINTAR memang BANYAK,, tapi yang BIJAK???”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>