Anak Satu Seperti Enam

Renungan di Hari Peduli Autisme Sedunia

(dideklarasikan PBB 2 April 2008)

Hati ibu mana yang tak hancur saat mengetahui anaknya tak mungkin tumbuh normal seperti anak-anak lainnya? Catra didiagnosis autis, sebuah gangguan perkembangan yang masih asing pada masa itu. Di saat anak-anak lain mulai belajar berinteraksi, ia malah sibuk dengan dunianya sendiri, sebuah dunia yang tak bisa dimasuki orang lain, tak terkecuali ibu yang telah melahirkannya.
Benarkah harapan sudah sirna? Tidak, Catra harus bisa tumbuh seperti anak-anak lainnya, sebuah keinginan yang tampak musykil kala itu. Namun, bersama uluran tangan sang ibu yang selalu siap memandunya keluar dari dunia soliternya, Catra menyingkirkan semua ketidakmungkinan yang membayang dan menggantinya dengan sebuah kebanggaan berbalut rasa syukur.

Dua alinea di atas adalah sinopsis buku “Tumbuh Di Tengah Badai” yang ditulis oleh : Herniwatty Moechiam, orang tua dari individu autistik dewasa yang saat ini menempuh pendidikan di salah satu universitas negeri. Seorang ibu yang sangat luar biasa yang menceritakan suka dukanya mendampingi putranya yang terlahir sebagai individu autistik.

Lebih lanjut tentang Autisme:

Autisme adalah suatu kondisi mengenai seseorang sejak lahir ataupun saat masa balita, yang membuat dirinya tidak dapat membentuk hubungan sosial atau komunikasi yang normal. Akibatnya anak tersebut terisolasi dari manusia lain dan masuk dalam dunia repetitive, aktivitas dan minat yang obsesif. (Baron-Cohen, 1993). Menurut Power (1989) karakteristik anak dengan autisme adalah adanya 6 gangguan dalam bidang:

  • interaksi sosial,
  • komunikasi (bahasa dan bicara),
  • perilaku-emosi,
  • pola bermain,
  • gangguan sensorik dan motorik
  • perkembangan terlambat atau tidak normal.

Gejala ini mulai tampak sejak lahir atau saat masih kecil; biasanya sebelum anak berusia 3 tahun.
Autisme dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder R-IV merupakan salah satu dari lima jenis gangguan dibawah payung PDD (Perpasive Development Disorder) di luar ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) dan ADD (Attention Deficit Disorder). Gangguan perkembangan perpasiv (PDD) adalah istilah yang dipakai untuk menggambarkan beberapa kelompok gangguan perkembangan di bawah (umbrella term) PDD, yaitu:

  1. Autistic Disorder (Autism) Muncul sebelum usia 3 tahun dan ditunjukkan adanya hambatan dalam interaksi sosial, komunikasi dan kemampuan bermain secara imaginatif serta adanya perilaku stereotip pada minat dan aktivitas.
  2. Asperger’s Syndrome Hambatan perkembangan interaksi sosial dan adanya minat dan aktivitas yang terbatas, secara umum tidak menunjukkan keterlambatan bahasa dan bicara, serta memiliki tingkat intelegensia rata-rata hingga di atas rata-rata.
  3. Pervasive Developmental Disorder – Not Otherwise Specified (PDD-NOS) Merujuk pada istilah atypical autism, diagnosa PDD-NOS berlaku bila seorang anak tidak menunjukkan keseluruhan kriteria pada diagnosa tertentu (Autisme, Asperger atau Rett Syndrome).
  4. Rett’s Syndrome Lebih sering terjadi pada anak perempuan dan jarang terjadi pada anak laki-laki. Sempat mengalami perkembangan yang normal kemudian terjadi kemunduran/kehilangan kemampuan yang dimilikinya; kehilangan kemampuan fungsional tangan yang digantikan dengan gerakkan-gerakkan tangan yang berulang-ulang pada rentang usia 1 – 4 tahun.
  5. Childhood Disintegrative Disorder (CDD) Menunjukkan perkembangan yang normal selama 2 tahun pertama usia perkembangan kemudian tiba-tiba kehilangan kemampuan-kemampuan yang telah dicapai sebelumnya.

Diagnosa Perpasive Develompmental Disorder Not Otherwise Specified (PDD – NOS) umumnya digunakan atau dipakai di Amerika Serikat untuk menjelaskan adanya beberapa karakteristik autisme pada seseorang (Howlin, 1998: 79). National Information Center for Children and Youth with Disabilities (NICHCY) di Amerika Serikat menyatakan bahwa Autisme dan PDD – NOS adalah gangguan perkembangan yang cenderung memiliki karakteristik serupa dan gejalanya muncul sebelum usia 3 tahun. Keduanya merupakan gangguan yang bersifat neurologis yang mempengaruhi kemampuan berkomunikasi, pemahaman bahasa, bermain dan kemampuan berhubungan dengan orang lain. Ketidakmampuan beradaptasi pada perubahan dan adanya respon-respon yang tidak wajar terhadap pengalaman sensoris seringkali juga dihubungkan pada gejala autisme. [wikipedia]

Herniwatty Moechiam tidak sendiri. Masih banyak orangtua-orangtua luarbiasa yang mengasuh individu autistik.

Beberapa waktu lalu saya bertemu dengan seorang kawan saya semasa SMA. Dulu tidak begitu akrab. Tentu saja begitu karena dia seorang yang cerdas, berprestasi, jauh dengan keadaan saya yang sering menduduki posisi juru kunci. Pada waktu wisuda kelulusannya dari perguruan tinggi, kawan saya itu duduk di deretan depan, termasuk salah satu di antara 10 orang lulusan terbaik. Istrinya pun sama, cerdas dan berprestasi. Tak seorangpun menyangka dari individu-individu berkemampuan tinggi itu terlahir individu autistik. Anak pertama mereka (laki-laki) adalah individu autistik, sedangkan anak kedua (perempuan) tumbuh normal. “Rasanya seperti ada silet yang menghunjam ke dalam hati, saat mengetahui keadaan tersebut”, demikian penuturan kawan itu kepada saya suatu malam ketika saya berkunjung ke rumahnya membawakan sebonggol senthe wulung.

Ketika saya iseng menanyakan kepada istrinya mengapa si bungsu tidak mempunyai adik lagi, “Ah, mengasuh dua anak saja rasanya seperti mengasuh tujuh anak”… (woot)

Dengan segala hal yang dimiliki individu autistik, sepertinya benar juga bahwa mengasuh seorang individu autistik seperti mengasuh enam individu sekaligus. Lebih luarbiasa lagi, kawan saya suami-istri itu tidak hanya berjuang mengatasi segala kendala, hambatan, rintangan dalam mengasuh putra mereka, malahan mengelola Yayasan Yogasmara yang didedikasikan kepada individu dengan kebutuhan khusus termasuk autisma dan kepada seluruh anggota masyarakat pemerhati individu dengan kebutuhan khusus.

Ya… Autisme memang suatu keadaan yang tidak diinginkan siapa saja baik orang tua maupun anak autistik sendiri. Namun, keadaan itu tidak bisa dihindarkan ketika memang kita mendapat anugerah sekaligus cobaan dariNya. Masa-masa selanjutnya adalah masa Proses Perbaikan Yang Tak Menyenangkan. Hanya ada Ikhlas, Sabar, Tabah/Tawakal dan Selalu Mampu Bersyukur

Seorang kawan bernama Riwis Sadati menyampaikan pesan melalui sosial mediaTahukah kamu tgl 2 april adalah hari Autisme sedunia. Sudahkah kamu tidak menggunakan kata “autis” untk bercandaan sehari2?

Post to Twitter Post to Plurk Post to Facebook Send Gmail

Related Posts

56 thoughts on “Anak Satu Seperti Enam

    • saya juga sering menganggap ‘autis’ sebagai salah satu dari kata yang dipakai untuk meledek orang yang sedikit anti sosial. Saya janji dech enggak akan menggunakannnya lagi … (sad)
      .-= sedulur rangga aditya menampilkan tulisan..What is Yerr Gadget? =-.

  1. sayah jg baru tauk belakangan ini klo ternyata autis sering dipake becandaan sm orang2 yg suka sibuk sendiri, biasanya malah ditujukan ke para onliner, palagi yg sering fesbukan di hape, di tengah keramaian.
    salut sm orangtua yg dikaruniai anak autis, dan tetap mendidik anaknya, tentunya dengan kesabaran luar biasa (worship)

  2. saya juga punya saudara seperti itu tapi alhamdulillah skr sudah bisa berbaur. memang butuh perjuangan luar biasa tuk bisa seperti ini.

  3. Seorang penyandang autis, maka selain dia sendiri, keluarga & lingkungan sekitarnya juga akan merasakan

  4. Bagi keluarga yang dikaruniai “anak luar biasa” tetap berjuang! untuk mendapatkan indahnya hidup! God believe you to become special one …
    Bagi siapa pun yang tidak berperasaan dengan menggunakan kata “autis” untuk bahan ejekan … tolong hentikan kebiasaan ini, mereka para penyandang juga orang seperti kita yang berhak untuk dihargai dan dicintai…
    apakah kalian bisa merasakan bagaimana sakitnya hati seorang ibu dan keluarga dari penyandang anak autis, jika anaknya dijadikan bahan ejekan?
    Suppose if you were them!

  5. atensi dan empati dr masyarakat umum terhadap autisma menjadi motivator bagi kami, orang tua penyandang autisma u tetap optimis dalam mendampingi buah hati kami yg “spesial”……terima kasih teman…..

  6. yah, jangan pake kata itu buat bercanda. Ternyata banyak yang belum tahu apa itu autis, temanku bahkan bilang autis itu penyakit anak nakal/mbeling. Salah kaprah, bahkan kata autis itu sering dilontarkan oleh selebritis dalam lawakannya….ckckckckckck

    *nglirik diri sendiri yang iri dengan anak autis yang bisa nggambar landscape tokyo hanya dengan sekali pandang*
    .-= sedulur riuusa menampilkan tulisan..versus Pengamen =-.

  7. saya belum nikah kang, mudah2an ntar klo sdh nikah trus dikaruniai putra sama gusti Allah gak diberi cobaan anak autis. Tapi saya sangat salut dengan org tua yg anaknya autis dan mereka begitu sabar, serta telaten mengasuhnya, seperti tetangga q di kampung.
    .-= sedulur Andrik Sugianto menampilkan tulisan..Cara Mudah Menjadi Kaya =-.

  8. memang miris hati melihat anak autis..
    lebih miris lagi mendengar kata autis buat becandaan

  9. Tuhan memberi kekurangan sekaligus memberikan kelebihan, yakinlah bahwa setiap badai pasti ada akhirnya. Ibu adalah pendidik yang pertama dan utama, ditangan sosok ibu yang penuh dengan kelembutan dan melakukan segala sesuatu dengan hati seorang anak autis akan menjadi tokoh besar.

  10. membaca judulnya pak saya, bertanya2 ada apa dengan anak-anak.
    baru tau saya autis itu apa.

    Ngomong2 masalah anak, saya belum diberikan tambahan lagi nih pak de’

  11. wah bener banget mas andy, teman bapak saya itu saksi hidup (LOL) … anaknya yang pertama autis … dan dari kecil (saya kenal dari umur 5 tahun) itu obsesinya menjadi tentara. sampai gede semua bajunya loreng. rumah sudah enggak berbentuk lagi … pantesan kalau bapak saya ingin bersilahturahmi ke rumahnya, dia selalu mendahului kita dengan datang kerumah kita lebih dulu … kasihan dech … rumahnya di jadiin ‘arena perang’ kali sama anaknya
    .-= sedulur rangga aditya menampilkan tulisan..What is Yerr Gadget? =-.

  12. Pada dasarnya anak2 autis adalah anak2 istimewa. Sebuah tulisan yg menginspirasi. ;)

    BTW, daku kok ngebaca kata “autistik” pengennya “akustik” yak? (haha) Jd inget gitar soalnya :P .-= sedulur cici silent menampilkan tulisan..Sebait Lirih =-.

  13. Menjadi orang tua seorang anak autistik adalah proses belajar panjang, dengan hasil yang baru terasa dalam jangka panjang juga. Dan tidak jarang godaan untuk mengambil jalan pintas selalu melintas dalam pikiran, apalagi perasaan…..
    .-= sedulur Bang Iwan menampilkan tulisan… HIBAH NOVEL SAAT POSTINGAN KE-1000 =-.

  14. Kebanyakan anak yang menderita autisme tidak menyukai perubahan dalam kesehariannya. Anak-anak tersebut menyukai jadwal yang selalu sama dan mungkin juga bersikeras supaya mainan atau benda tertentu diatur sedemikian rupa dan menjadi marah bila benda tersebut dirubah atau dipindahkan.
    .-= sedulur Bang Iwan menampilkan tulisan… HIBAH NOVEL SAAT POSTINGAN KE-1000 =-.

  15. wah pencerahan banget pakde andy. Tak link di plurk ya, soale kemaren saya masih make autis buat becandaan.. Semoga saya bisa istiqomah untuk tidak mengulangi :)
    .-= sedulur phie menampilkan tulisan… Cicitcuit :p =-.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *