Autis

Seringkali bila kita melihat seseorang yang sedang sibuk dengan sesuatu dan tidak memperdulikan orang lain, kita sebut dengan “autis”. Di jaman banjir gadget seperti saat ini, istilah autis juga semakin banyak digunakan. Kalau ada orang yang memelototi gadget ditambah sesekali mengerutkan kening, tersenyum sendiri, atau bahkan terkikik-kikik, langsung saja dibilang “autis”.

Tidak bisa begitu saja disalahkan, namun itu juga tidak benar-benar betul. :-D

Autisma atau autisme adalah gangguan perkembangan pervasif pada anak yang ditandai dengan adanya gangguan dan keterlambatan dalam bidang komunikasi, gangguan dalam bermain, bahasa, perilaku, gangguan perasaan dan emosi, interaksi sosial, perasaan sosial dan gangguan dalam perasaan sensoris.

http://yogasmara.org

Jadi… Contoh penyebutan di atas adalah kesalah-pahaman analogis. Banyak yang mengira autisma adalah keterbelakangan. Itu tidak betul. Ada juga yang mengira autisma adalah pengembaraan di dunianya sendiri. Menurut saya itu juga kurang pas. Secara empiris setelah beberapa waktu saya bergaul dengan komunitas-komunitas peduli autisme, justru saya menemui banyak anak autistik justru tidak terkungkung dalam dunianya sendiri melainkan mereka memandang dunia dari sisi yang berbeda dengan kebanyakan orang. Mereka bukannya tidak peduli dengan sekelilingnya melainkan menyimak segala hal di luar kemampuan kebanyakan orang, namun tetap berkonsentrasi pada hal yang disukainya saja. Tentu saja gangguan ini berbeda-beda pada setiap individu. Ada yang sedikit terganggu dimulai dari sifat yang pemalu, ada juga yang cukup berat sehingga benar-benar mempengaruhi urusan sosialnya.

Barangkali karena hal itu pulalah banyak individu autistik yang justru menonjol dalam bidang-bidang tertentu. Salah satu contoh (baru dugaan) adalah Albert Einstein. Ditengarai, penemu teori relativitas itu mengalami gangguan perkembangan mental yang disebut Sindrom Asperger, sebuah kondisi yang berhubungan dengan autisme.

Sangat mungkin saya salah dan keliru, mohon diluruskan. Yang jelas, tulisan menyambut 2 April, Hari Peduli Autisme se-Dunia ini kembali mengajak sedulur sekalian agar tidak menggunakan kata “autis” untuk bercandaan sehari-hari…

Post to Twitter Post to Plurk Post to Facebook Send Gmail

Related Posts

31 thoughts on “Autis

  1. berarti besok hari peduli autis sedunia. kalau misalnya nggak tahu apa sebenarnya itu autis, mending nggak usah ngatain orang lain autis, dari pada salah malah malu sendiri :)

  2. ya tidak layak kalau kata2 “autis” untuk candaan, apalagi langsung melihat si penderita gimana keadaanya. Pasti ada kelebihan mereka dibanding yang dianggap “normal”

  3. kira-kira aku kena pnyakit autis a yah… hehhe

    gan, sekedar mau bagi info.. daftar blog dofollow da disini, linknya agan juga masuk disini loh….

  4. mo autis atau bukan mereka pun tetep manusia yang diciptakan oleh Nya,,, jadi ga ada alasan untuk dibuatnya sebagai bahan candaan.. klo kata bahasa jawanya humano no perfecto..alahh sotoy gw ” nice artikel brother salam persohiban:)

  5. ane stuju ma atas ane . . . orang autis tu butuh kita . . . sring” lah berkomunikasi dengan mereka, bermain dengan mereka, dll . . .

  6. jangan mencemooh anak autis, nanti bisa kwalat lho… nanti baru tahu klo kena cobaan… menimpa anaknya sendiri. ALLOHU AKBAR………………………

  7. iya betul Pak..anak salah satu temen saya juga katanya autis,pernah dibawa main ke kantor sama ibunya,memang anaknya seperti di dunianya sendiri,gak mau merhatiin orang lain,tapi..begitu ditanya itung2an matematika,tanpa menoleh langsung dijawab

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *