Auto Mount Partisi di Ubuntu

Salah satu fitur yang menurut saya sangat membantu keamanan di kebanyakan sistem Linux adalah tidak dilakukannya mounting partisi (pengaitan sistem berkas) pada saat penyalaan komputer (booting) kecuali partisi tempat beradanya system, home, dan swap. Partisi-partisi lain dianggap sebagai sebuah media penyimpanan yang berbeda. Lain halnya dengan system Windows yang pada saat boot, walaupun tetap menganggap partisi lain adalah media penyimpanan berbeda, tapi dilakukan mounting semua partisi yang bisa dibaca.

Bagi pengguna linux pemula seperti saya, kadang-kadang hal ini merepotkan, misalnya ketika sehabis boot dan ingin langsung membuka pemutar musik, ternyata file-file yang ada di playlist tidak bisa dimainkan. Ini terjadi karena tak lain dan tak bukan file-file musik itu terletak di partisi yang berbeda. Terpaksa buka file-manager dulu dan melakukan mounting (pengaitan) partisi yang dikehendaki, dan barulah playlist bisa dimainkan.

Di Ubuntu dan derivatifnya yang digunakan di Internet For Kids, karena beberapa komputer sering digunakan untuk coba-coba anak-anak SMK, partisi yang ada di harddisk menjadi banyak dan ada yang terletak di luar system/home/swap. Ini menjadikan pengguna lain yang sama-sama pemula seperti saya terkadang mengalami kebingungan serupa.

Sebetulnya itu sangat mudah diatasi dengan mengedit file /etc/fstab dengan menambahkan partisi yang dikehendaki beserta aturan-aturan yang ditentukan di bawah <file system> <mount point>   <type>  <options>       <dump>  <pass>. Namun bagi pengguna linux pemula ini, cara itu agak merepotkan karena butuh pemahaman yang lebih baik serta beresiko terjadi kesalahan.

Ada cara untuk mempermudah agar partisi-partisi yang dikehendaki bisa langsung dikaitkan (mount) pada saat booting. Cukup install aplikasi kecil yaitu Storage Device Manager yang sudah disediakan Ubuntu. Gunakan mantra:

sudo apt-get install pysdm

Instalasi juga bisa dilakukan melalui Synaptic atau Software Center. Setelah terinstall, buka melalui System > Administration > Storage Device Manager. Aplikasi ini bisa digunakan untuk bermacam hal mengenai pengelolaan partisi termasuk auto mount pada saat booting, baik untuk partisi linux maupun partisi system operasi lain misalnya FAT, NTFS, dan lain-lain (namun saya belum mencoba untuk partisi HFS)…

Berikut ini screenshot yang diambil dari laptop milik salah satu pengguna yang kebetulan sedang belajar di Internet For Kids:

Harddisk 320GB yang digunakan ternyata mempunyai 9 partisi. Untuk lebih memperjelas peta partisi di dalam harddisk, ada baiknya membuka Disk Utility atau GParted atau aplikasi lain yang diperuntukkan mengelola partisi.

Berikut tampilan peta partisi ditilik menggunakan Disk Utility (gambar sudah diedit agar lebih jelas pembagian partisinya):

Ada beberapa sistem operasi yang terpasang antara lain Windows 7 di partisi sda1, Ubuntu di partisi sda2, dan Debian di partisi sda8. Sedangkan media penyimpanan dokumen dan lain-lain ada di partisi sda5, sda6, dan sda7. Partisi sda3 adalah swap yang dibuat pada saat instalasi Ubuntu, sedangkan partisi sda9 adalah swap yang dibuat pada saat instalasi Debian (sebetulnya menurut saya tidak perlu dobel swap, tapi sudahlah, itu bisa dibahas lain kali saja). :-D

Penamaan partisi pada sistem Linux (x86 & x86-64) menurut saya sangat sederhana dan mudah dipahami. Media penyimpanan pertama (biasanya berupa harddisk), diberi nama sda. Partisinya diberi nama sda1, sda2, dst… Media penyimpanan selanjutnya (bisa berupa harddisk atau removable disk) diberi nama sdb, sdc, sde, dst. Partisinya diberi angka berurutan di belakangnya, partisi utama berangka 1-4, dan partisi logical dimulai dari angka 5 dan seterusnya.

Dalam sistem x86 serta x86-64, partisi utama yang dapat dibuat hanyalah empat buah saja, sementara sistem IA-64 dapat mendukung partisi hingga 128 buah. Sistem operasi akan menganggap partisi-partisi yang berbeda ini dianggap sebagai sebuah media penyimpanan yang berbeda. Membuat beberapa partisi dalam sebuah hard disk akan lebih memudahkan dalam melakukan manajemen data pengguna. (wikipedia)

Kembali ke soal Storage Device Manager, pada saat pertama kali memilih partisi yang akan dikelola, akan muncul notifikasi. Klik OK, dan tilik button di bawah assistant, bila partisi belum dikaitkan (mount) silahkan klik Mount!

(skrinsut diambil setelah selesai mengelola partisi sda5, ketika selanjutnya di-klik sda6 muncul notifikasi untuk sda6, namun pada name dan mountpoint masih menunjukkan sda5)

Selanjutnya akan muncul jendela seperti berikut ini:

Ada tiga bagian yang secara default dicentang, ditunjukkan dengan tanda panah merah pada gambar. Hilangkan centang pada ‘Mount file system in read-only mode’, kemudian klik OK dan Apply, selanjutnya restart komputer sedulur.

Begitu saja! Dan setelah restart akan ketahuan bahwa partisi yang dipilih akan otomatis dikaitkan (mount) pada waktu boot.

Sedikit tambahan, ada baiknya ganti ‘Name’ di bawah ‘Information’ sesuai dengan volume label partisi yang dipilih karena pada beberapa kasus saya menemui partisi yang di-auto-mount hanya ditunjukkan sebagai /media/sda5 (contoh menggunakan sda5) bukan /media/volume-label.

Demikianlah cerita pengguna linux pemula kali ini, semoga bermanfaat! 

Post to Twitter Post to Plurk Post to Facebook Send Gmail

37 thoughts on “Auto Mount Partisi di Ubuntu

  1. Top markotop memang master linux yg satu ini.

    Eh pak, adaide buad ngatur kecerahan katya di acer 4750 ? Aplet brigthnes gak isa dipake e.

    • lho, kok sama ya?
      //sebetulnya lebih gampang diatasi dengan mengedit /etc/fstab, namun pemula seperti saya masih takut resiko kesalahan, hehehe…

  2. ck ck ck juragan siji iki menguasai linux tenanan sajake, mbok aku diuruki kang, piye carane ngelola linux secara remote beserta segi securitynya.. terutama centOS

    • CentOS itu saudara jauh dengan Debian, Ubuntu, dan lain-lain yang biasa saya pakai, tapi bersaudara dekat dengan RedHat dan Fedora… Saya yang pemula ini tidak biasa pakai CentOS, RedHat dan Fedora, jadi gagap juga kl pakai itu.
      Coba sampeyan berkenalan dengan sedulur lanang http://andri.web.id/ yang sehari-hari mengelola server bermesin CentOS…

  3. opsi tidak otomatis itu menarik, untuk ngirit setrum mungkin.. tapi kalo harus dipake terus ya otomatis lebih enak. Fungsi manual mount membuat kita selalu ingat bahwa ada yang harus di kerjakan….

    • bagi saya tidak otomatis berarti lebih aman…
      di Debian, defaultnya kalau mau mount partisi lain malah harus masukin password. luwih aman maneh! :-)

      • Setuju. Namun sejak perkembangan Ubuntu baru, terutama Ubuntu 10.04, saat mount partisi lain, tidak menggunakan password lagi.

  4. wah iya mas emang Ubuntu itu OS paling TOP dah. kalau boleh request postingannya Tutorial Desain Ubuntu aja ya mas soalnya saya pengen lebih mendalami Ubuntu.

  5. itu, satu masalah diantara banyak masalah yang saya alami saat berkenalan dengan linux. saat itu saya coba berbadai distro, ubuntu 8.04 dari ship it, suse, blankon, puppy, damn, ubuntu studio, tapi ada aja satu hal yang tidak nyaman, terutama masalah codec. kemudian saya mendapat ubuntu muslim edition , hampir semua masalah terjawab dalam distro ini (dan kemudian linux mint ‘mbak julia’ yang saya poligami ngasih solusi yang sama). sabily Manarat, Sabily Al-Quds dan sekarang Sabily Badr (reinkarnasinya Mbak Nety) berturut-turut singgah dan mendiami komputer jadul saya. i love it full. hanya sayang, belum ada Office di Linux yang tampilanya menyenangkan. saya suka Kingsoft 2011 yang mirip MS. Office 2003, bisa diinstal via wine namun tidak bisa dipakai. masalah lain, sampai saat ini sya ingin instal maktabah syamilah tapi belum bisa. maktabah elkirtass kurang nyangkut dihati saya.

    barangkali Mas Andi bisa memberi solusi.
    sebelumnya, saya ucapkan banyak terima kasih.
    maaf terlalu panjang.

  6. salam kenal.
    Linux memang punya kelebihan tersendiri, yang tidak di miliki oleh windows, baik dalam operasi file ataupun penggunaan file, yang tidak bisa diakses oleh program jahat seperti virus, sehingga relatif aman buat pengguna dan linux juga terkenal dengan kestabilannya, bila di gunakan terus menerus. dan saya pernah mencoba linux ubuntu yang lebih user friendly, dibanding dengan linux veris yang lain,
    Salam.

  7. Tadinya sudah mau komen “kan tinggal merubah pengaturan di /etc/fstab” beres deh, ternyata sudah disanggah di paragraf ke berapa itu :D. Sebenarnya pas instalasi juga bisa kok diatur supaya langsung dikaitkan itu drive dari tetangga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *