Bang Napi

Sudah 9 tahun ini pemirsa televisi khususnya RCTI disuguhi Sergap (sejak 24 Agustus 2001) yang menayangkan berita-berita kriminal yang terjadi setiap hari. Ada segmen khusus yang menarik di penghujung acara itu yakni Bang Napi. Akhir-akhir ini malah segmen itu berkembang Bang Napi Lepas, dimana Bang Napi ikut meliput berita-berita kriminal sebelum akhirnya memberi nasehat; “Kejahatan tidak selalu terjadi hanya karena niat pelakunya, tapi juga karena ada kesempatan. Waspadalah, waspadalah!“.

Jujur saja! Saya prihatin dengan acara-acara penayangan berita kriminal seperti Sergap, juga acara-acara serupa di stasiun televisi lainnya. Maksudnya sih baik, memberikan informasi kepada masyarakat tentang aneka tindak kejahatan sehingga diharapkan masyarakat semakin waspada.

Di sisi lain, hampir satu dekade adanya penayangan berita-berita kriminal itu justru semakin merajalela tindak-tindak kejahatan yang terjadi. Bisa jadi dulu pun tindak kejahatan sama banyaknya dengan sekarang ini, namun beritanya lebih sedikit. Bisa jadi sekarang memang benar-benar lebih banyak. Bisa jadi justru para pelaku tindak kejahatan terinspirasi dari berita-berita kriminal sehingga mereka merancang tindak kejahatan yang lebih canggih.

Yang jelas, hidup di penjara itu enak. Buktinya, Bang Napi yang sekarang lebih tambun dibandingkan Bang Napi yang dulu… (thinking)

Ah, tokohnya keliru! Harusnya yang memberi nasehat waspada bukanlah seorang napi (walaupun sudah tobat sekalipun)…

Post to Twitter Post to Plurk Post to Facebook Send Gmail

Related Posts

56 thoughts on “Bang Napi

  1. wah……….. betul juga ya pak, harusnya bukan napi yang kasih nasehat, paling tidak diganti mantan napi gitu (lmao)

    selain acara berita kriminal, juga film adegan tentang bagaimana seorang perampok profesional juga bisa jadi inspirasi perampokan saat ini, contoh filmnya yang lumayan seru kalau ga’ salah italian jobs pak, wuih seru pak pokoknya, nyuri emas sak tok (rofl)

    • kayak zaman Orba yah (minus kekangan lah …) … berita yah berita! enggak ada lagi “sub-genre” (lmao) … enggak ada kayak gini, enggak ada infotaiment …. yang penting berita yang bermanfaat … enggak bikin kita, rakyat kecil, semakin parno, pusing dan stress (doh)

  2. karena napi sekarang tu bisa bebas berkeliaran di luar penjara walaupun belum habis masa tahanannya, jadinya makin hari ya makin tambun aja!
    bukan cuma kriminal yang meningkat pak tapi seperti berita bunuh diri juga makin tambah rame aja, sampe-sampe anak SD pun juga dah ada yang bunuh diri. Kalo dulu kata guru saya berita di TV yang jelek-jelek tidak ditayangkan.

  3. Saya malah justru sependapat bahwa banyaknya modus operandi kriminalitas 1 dekade terakhir, karena banyaknya tayangan televisi yang menayangkan modus yang dipakai oleh para kriminil, sehingga mereka (orang2 jyg berniat ahat itu) terinspirasi dari modus yg digunakan ‘rekan mereka’ sebelumnya.

  4. saya juga kurang suka sama acara seperti ini. terlebih lagi ternyata sebagian penangkapan sudah ada “skenario”nya … seperti kaki pencuri yang tertembak, ternyata ditembak ketika sudah ketangkap. karena tidak mungkin polisi kita jago nembak, lha emang ada dananya untuk latihan nembak (LOL) dan sebagainya yang sudah di edit sehingga ceritanya menarik untuk di tonton layaknya menonton film action … ckckck … :-(

    jadi mirip termehek-mehek sama realigi kan. nah, kalau sudah begini apa masih bermanfaat untuk publik?

  5. iya ya klo di pikir2 emang jadi banyak tindak kriminal ni… makin kroposnya mental bangsa gara-gara di susupi sama kebudayaan luar ni… waspadalah… hehehe awas kecakot …eh!? :D

  6. semua memang ada sisi positif dan negatifnya.

    Yang jelas kalau sudah bersuami cenderung suka yang positif
    sedangkan yang masih pacaran kalau sampai positif berarti kebobolan

  7. Penjahat sekarang canggih-canggih, ga mau kalah ama kecanggihan aparat dan masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *