Tidak semua yang Liburan di saat Tahun Ajaran Baru bisa benar-benar menikmati liburannya. Sebagian malah disibukkan oleh urusan mencari sekolah. Yang lulus SMA sederajat sibuk mencari peluang masuk di perguruan tinggi ternama, yang lulus SMP sederajat sibuk mencari peluang masuk SMA/SMK favorit, yang baru lulus SD juga sibuk mencari SMP unggulan, yang bosan sekolah sambil bermain di Taman Kanak-Kanak pun ingin segera masuk SD. Tidak mesti yang sibuk adalah anak-anak dan remaja calon peserta didik. Orang tua justru lebih banyak sibuknya disertai kekhawatiran bila anaknya tidak diterima. Termasuk saya…
Untungnya, walaupun istri saya termasuk banyak, anak saya termasuk sedikit… Jadi tidak begitu repot…
Dan tahun ini saya pun disibukkan oleh Diki yang telah lulus SMP dan ingin melanjutkan ke SMK… Forget it! Saya tidak akan membahas itu. Justru saya akan membahas anak-anak yang masuk SD dan akan menikmati Hari Pertama Masuk Sekolah di sekolah yang benar-benar sekolah bukan sambil bermain seperti di TK.
Berikut kutipan dari sebuah artikel yang berkaitan dengan Psikologi Anak:
TAK semua anak punya perkembangan intelektual yang ‘normal’ atau rata-rata. Ada anak ‘gifted’ atau ‘talented’ -yaitu dikaruniai kecerdasan atau bakat luar biasa- yang tingkat intelektualitasnya jauh melampuai anak-anak lain seusianya. Sayangnya, kadang anak gifted ini baru diketahui setelah ia masuk SD. Coba kalau bisa diketahui saat ia masih di preschool, kan bisa masuk SD lebih cepat.
Tapi, bagaimana peluang anak berbakat ini? Gimana orangtua mengetahui kalau anaknya berbakat? Sebenarnya bisa saja lho, anak yang belum berusia 6 tahun bersekolah di sekolah dasar. Sebab yang lebih penting sebenarnya kesiapan umur mental si anak, yakni kemampuan mental dan intelektual, bukan umur kalendernya.
“Contoh, anak umur 4 tahun tapi umur mentalnya 6 tahun, berarti mereka sudah siap masuk SD,” papar Prof Dr. S.C . Utami Munandar, guru besar psikologi anak Universitas Indonesia.
Cuma, untuk mengetahui apakah umur mental anak siap, orangtua mesti mengeceknya dengan melakukan tes umur mental ke psikolog. Dari sini, nanti bisa diketahui IQ anak, dengan rumus: (umur mental/umur kalender) x 100 = IQ. Bila skor IQ anak di atas 130, jauh di atas anak normal (skor IQ 85-115), bisa saja ia dipandang gifted dan dipertimbangkan masuk SD lebih awal, setelah mempertimbangkan aspek-aspek lainnya.
Menurut Utami, jumlah anak berbakat di Indonesia sekitar 2-5% dari keseluruhan anak. Namun sejauh ini belum semuanya mendapat pendidikan khusus. Tak semua sekolah mempunyai fasilitas, sarana, dan prasarana yang bermutu, ataupun kelas unggulan yang bisa mengembangkan dan melihat anak-anak yang berbakat.
Padahal sebenarnya dengan bakat di bidang intelektual, tak menutup kemungkinan balita bisa masuk SD. Akibatnya banyak anak yang umur mentalnya sudah tinggi namun tidak terstimulasi dengan baik, sehingga mereka bosan di kelas karena merasa materi yang diajarkan guru terlalu mudah.
Bila sedulur ingin melanjutkan membaca artikel tersebut, silahkan buka spoiler:
Kemungkinan anak yang masih usia TK bisa masuk SD juga dibenarkan Dra. Shinto B. Adelaar, M.Sc., psikolog perkembangan anak. Namun menurutnya bukan semata-mata karena IQ saja yang kelewat tinggi dibanding anak-anak lain. Si anak juga mesti punya tingkat kematangan yang mampu menghadapi stres dan situasi sekolah. “Sebab situasi dan cara belajar di SD berbeda dengan di TK. Di SD, anak lebih banyak duduk diam di tempat daripada bergerak atau jalan-jalan. Ia juga harus tekun mengerjakan tugas dalam waktu yang lebih panjang serta mau mematuhi instruksi guru. Berarti, dari segi pemikiran, si anak harus lebih matang,” Shinto menjelaskan.
Secara emosi, anak juga harus lebih matang, agar mampu mengontrol diri dan tidak lagi bertingkah laku berdasarkan keinginannya sendiri. Jadi, meski anak IQ-nya tinggi, belum tentu EQ-nya tinggi. Kalau anak itu masih dependent (bergantung pada orangtua), sikap bekerjanya belum terbentuk, masih banyak sikap bermainnya, kemungkinan besar bila anak dimasukkan ke SD ia bisa mengalami tekanan dan stres, sehingga menimbulkan reaksi malas belajar atau tidak mau sekolah.
Selain berefek malas, anak yang terlalu dipaksakan lompat jenjang pendidikan bisa menimbulkan masalah psikologis. Kasihannya, pada anak balita itu. Di usia itu mereka masih ingin main, sementara anak lainnya sudah tidak ingin main lagi. Di jenjang pendidikan berikutnya, misalnya saat di perguruan tinggi dan si anak baru berusia 15 tahun, secara emosional dan sosial ia belum sematang teman lainnya. Tak jarang temannya akan mengangap dia sebagai anak kecil, karena mungkin dari segi fisik belum berkembang sepenuhnya. Jadi dari segi sosial ada hambatan. Atau karena susah bergaul karena komunikasinya sering tidak nyambung, anak lebih senang membenamkan diri pada buku.
Memperdalam, bukan Mempercepat
Kadang orangtua yang punya anak berbakat yang mulai bosan di playgroup atau TK, jadi geregetan dan ingin menaikkan anak ke SD. Namun menurut Shinto, ini bukan solusi yang baik, apalagi jika hanya karena orangtua melihat anak itu lebih cerdas dibanding anak lainnya.
“Jika ingin memasukkan anak ke SD di usianya yang belum cukup, sepatutnya melihat dulu kondisi anak, karena apapun yang dipaksakan sebelum waktunya akan mengundang risiko. Kalau anak itu enjoy, bisa bergaul dengan lingkungan sosialnya dan senang belajar, tak masalah. Silakan saja melompatkan anak ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Tapi jika tidak, jangan dipaksakan, karena orangtua hanya akan merampas waktu bermain anak.”
Lebih baik menurutnya, perkaya pengetahuan dan kematangan anak. Orangtua tidak perlu ‘mempercepat’ tapi lebih ‘memperdalam’ pengetahuan anak. Misalnya anak TK A, pengetahuannya baru sampai C, kita asah pengetahuan anak hingga sampai F. Tapi levelnya tetap TK A. Tujuannya, supaya nanti si anak tumbuh menjadi anak yang pintar dan kreatif dan punya kepribadian yang matang. “Saya percaya kematangan kepribadian itu lebih banyak menunjang keberhasilan anak, daripada
semata-mata kecerdasaan intelektual saja.”
Menaikkan anak ke kelas yang lebih tinggi, misalnya tidak masuk kelas 1 tapi langsung kelas 2, juga bukan solusi yang baik. Sebab dengan menaikkan kelas anak, berarti ada materi tertentu yang tertinggal. Sebaiknya, untuk anak berbakat ini dimasukkan ke kelas akselerasi. Disana mereka akan memperoleh kurikulum lebih singkat dan padat tanpa harus kehilangan satu materi pun. Toh sekarang banyak sekolah unggulan yang menyenggarakan kelas akselerasi.
Dengan masuk kelas akselerasi dan bergabung dengan anak lain yang punya kemampuan yang sama, anak lebih terstimulasi. Sebab anak yang sangat cerdas jalan pikirannya tidak sesuai dengan anak seusianya. Bila ngobrol ia tidak ‘nyambung’. Bagi anak yang kecerdasaannya rata-rata, anak yang terlalu cerdas ini jadi membosankan, menganggap si anak terlalu serius karena omongannya jauh ke depan dari anak yang lain.
Amati Tanda-tanda Awal
Agar orangtua tak terlalu lama mengetahui kalau si kecil berbakat, sebaiknya orangtua melihat dan memperhatikan kemampuan anak sejak dini. Tanda-tanda anak berbakat dapat dilihat dari pertanyaan yang ia ajukan. Pertanyaan si anak biasanya mendalam, kritis, dan tidak cepat puas dengan jawaban yang sekedarnya. Anak memberikan reaksi yang lebih matang dari usia sebayanya, cepat bisa membaca sendiri tanpa diajarkan.
Caranya, dengan memberi rangsangan dan sarana yang bisa merangsang bakat anak, misalnya menyediakan aneka permainan. Dengan begitu, selain anak akan terpacu intelektualitas dan kreativitasnya. Supaya tidak salah langkah, orangtua perlu memeriksakan anak ke psikolog untuk mengetahui apakah anak itu berbakat, sebelum memasukkan anak ke SD pada usia dini.
Shinto menyarankan, orangtua yang punya anak berbakat dengan IQ tinggi, tapi emosinya belum berkembang, sebaiknya tidak meloncatkan anaknya ke kelas atau jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Sebab belajar di SD itu lebih susah, apalagi SD di Jakarta. Anak terlalu banyak di-drill sehingga banyak mengurangi minat anak untuk belajar. Lebih baik anak tetap di TK tapi ia diberi tambahan pengetahuan yang banyak.”
Ada kalimat yang menarik pada kutipan artikel di atas; “jumlah anak berbakat di Indonesia sekitar 2-5% dari keseluruhan anak“…
Terlepas dari validitas angka prosentase tersebut, saya yakin seyakin-yakinnya bahwa jumlah anak berbakat memang sedikit. Jauh lebih banyak yang normal-normal saja.
Permasalahannya, banyak ditemui orang tua yang merasa anaknya istimewa sehingga bersikeras memasukkan anaknya ke SD sebelum cukup usia padahal belum tentu anaknya istimewa atau termasuk dalam 2,5% seperti disebutkan dalam artikel di atas. Mengapa sih tidak sabar sedikit menunggu anaknya berumur mendekati 7 tahun? (sejak saya masih SD dulu, -sependek yang saya tahu dan sepanjang yang saya punya-, usia masuk SD adalah 7 tahun)…
Pelajar sekolah dasar umumnya berusia 7-12 tahun. Di Indonesia, setiap warga negara berusia 7-15 tahun tahun wajib mengikuti pendidikan dasar, yakni sekolah dasar (atau sederajat) 6 tahun dan sekolah menengah pertama (atau sederajat) 3 tahun.
Ketika otonomi daerah mulai diberlakukan sejak 2001 lalu, urusan pendidikan dasar menjadi urusan di bawah dinas pendidikan masing-masing daerah. Aturannya tetap sama, usia masuk SD diutamakan 7 tahun, bila kapasitasnya masih mencukupi bisa menerima murid yang berusia 6 tahun dengan prioritas usia mendekati 7 tahun. Tentunya, angka 7 itu sudah melalui penelitian panjang sebelumnya.
Nah… Apa yang akan terjadi bila anak dipaksakan masuk SD sebelum cukup usia??? Tidak akan terjadi apa-apa kecuali semakin lama anak akan semakin terbebani dengan kewajiban-kewajiban bersekolah yang pada akhirnya bukannya menumbuhkan prestasi malahan menjadikan anak ketinggalan. Perilaku orang tua yang terlalu PEDE akan keistimewaan anaknya akan menciptakan anak-anak lelah yang kehilangan kegembiraan sebagai anak-anak. Mereka tidak lagi bebas bermain dan bersosialisasi dengan teman dan lingkungan melainkan harus belajar dan belajar sepanjang waktu. Seusai sekolah mereka akan mengikuti les-les dan bimbel-bimbel juga menghadapi setumpukan PR yang melelahkan.
Saya bukan psikolog, namun saya mempunyai pengalaman empiris di keluarga dan handai taulan saya dimana yang masuk SD cukup umur, ketika menginjak usia SMP, SMA dan seterusnya akan lebih cakap dalam memecahkan persoalan-persoalan matematis. Yang kesusu sekolah semakin naik tingkat semakin melorot prestasinya. Anak saya yang kedua, Nanin, yang masuk SD pada saat cukup usia (tidak kesusu sekolah seperti Diki kakaknya) lebih enjoy belajar namun prestasinya tak kalah dengan kakaknya. Adik bungsu saya yang termasuk kesusu sekolah sehingga akhirnya menjadi sarjana pada usia menjelang 21 tahun pun mengakui sendiri. Dia merasa dalam banyak hal agak bebal dan perlu belajar ekstra keras bahkan kadang-kadang perlu mundur dulu sedikit agar bisa mengejar ketinggalannya.
Sumpah! Saya tidak menggurui. Dalam soal ini, saya masih banyak belajar dari Bu Noor yang juga bukan seorang psikolog namun dalam kesehariannya adalah praktisi di bidang pendidikan yang berpengalaman mengajar mulai dari SMA, SMK, SMP bahkan TK. Bagaimanapun saya tetap sepakat bahwa idealnya anak masuk SD ketika usianya 7 tahun.
Nih, ada kutipan lagi yang layak untuk dipertimbangkan! Silahkan buka spoilernya:
fakta yang ditemukan oleh ahli-ahli neurologi yang menyatakan bahwa pada saat lahir otak bayi mengandung 100 sampai 200 milyar neuron atau sel syaraf yang siap melakukan sambungan antar sel.
sekitar 50% kapasitas kecerdasan manusia telah terjadi ketika usia 4 tahun, 80% telah terjadi ketika berusia 8 tahun, dan mencapai titik kulminasi 100% ketika anak berusia 8 sampai 18 tahun.
para ahli sepakat bahwa periode keemasan tersebut hanya berlangsung satu kali sepanjang rentang kehidupan manusia
nah …
masalahnya … seperti yang dikatakan oleh Prof Suharyadi dari UI bahwa otak belakanglah yang menentukan kecerdasan seseorang … terutama untuk anak usia 7 tahun ke bawah ya …
untuk usia 7 tahun ke bawah, pembelajaran yang terbaik adalah yang mengedepankan kenyamanan fisik (r-system), emosi (limbic), dan kesempatan untuk berimajinasi (right brain) …
tanpa adanya kenyamanan untuk berimajinasi, maka otak akan memerintahkan tubuh bertindak atas dasar pencarian kenyamanan emosi … terjadilah yang judulnya ngambek, mogok, malas, membangkang, dlsb …
tanpa adanya kenyamanan untuk emosi, maka otak akan memerintahkan tubuh bertindak atas dasar pencarian kenyaman fisik (pertahanan tubuh) … terjadilah yang judulnya badan panas, perut melilit, muntah2, dlsn …
tanpa adanya kenyamanan fisik, maka otak akan memerintahkan tubuh untuk berhenti!
nah lho …
jadi … kembali lagi …
lain dulu lain sekarang …
andaikan kelas 1 SD masih seperti dulu … maka tanpa keraguan saya tidak akan khawatir jika ada anak di bawah umur yang masuk ke SD
sayangnya … SD sekarang tidak seperti SD yang dulu …
SD sekarang sarat materi, yang sayangnya, walaupun beban kurikulum semakin berat tetap saja kualitas HDI kita termasuk di bagian bontot …
kira-kira sudah bisa menjawabkah? kenapa sebaiknya masuk SD di usia 7 tahun?
kalau belum … mari kita melihat kondisi2 sekolah yang ada di sekitar kita …
jika kita masukkan anak ke SD pada usia 6 tahun, maka ia masih berada pada tahap kritis keterampilan sosial … padahal … ketika di SD biasa, bersosialisasi di dalam kelas adalah perilaku yang tidak diijinkan …
jika kita masukkan anak ke SD pada usia 5 tahun, maka selain masih tertatih-tatih dalam keterampilan sosial, ia baru saja melewati (atau malah masih berada pada) masa kritis dalam perkembangan motorik (kekuatan dan keterampilan fisik) … padahal … ketika di SD biasa, bergerak di dalam kelas adalah hal yang tabu kecuali diijinkan oleh gurunya … dan ketika di SD biasa, menulis adalah sebuah keharusan sementara perkembangan anak masih belum matang …
jika kita masukkan anak ke SD pada usia 4 tahun … coba lihat … perkembangan apa saja yang diterabas?
Akhirnya, bila sedulur ingin memasukkan anak ke SD sebelum cukup umurnya, pastikan bahwa dia benar-benar mampu baik secara intelektual maupun secara sosial… Anak kita adalah masa depan kita!…
betul mas..
kebanyakan yang suka ngerasa anaknya sangat istimewa itu ortunya ..
dan ortu juga yang ngerasa gak mau kalah sama anak/ortu yang lain kalo anaknya udah 6 tahun belum masuk sd.. gengsi katanya..
padahal kalo demi kepentingan anak, bisa jadi usia 6 tahun buat anak tersebut belum waktunya dia sekolah sd..
akibatnya justru bisa fatal, anaknya gak mampu mengimbangi kemampuan teman sekolahnya yang setahun lebih tua, jadinya prestasinya terlihat “biasa-biasa” saja..
kalo dah gitu ntar yang disalahin anaknya, atau gurunya gak bisa ngajarin..
halah..!
itu TK mana ya? kok baru 6 tahun sudah diluluskan? setahu saya, kelulusan TK bukan ditentukan oleh kompetensi, melainkan usia…
salam sukses mbak Kania!
Ibn bersekolah di TK Kinderfield cabang Cinere.
Dan menurut Petunjuk Teknis Penerimaan Peserta Didik Baru Depok Tahun 2010 http://bit.ly/bK5wkE
BAB IV
PENERIMAAN PESERTA DIDIK
TAMAN KANAK-KANAK NEGERI
Pasal 6
Persyaratan
(1) Peserta Didik Baru Kelompok A berusia 4 tahun s.d. 5 tahun
(2) Peserta didik baru Kelompok B berusia lebih dari 5 tahun s.d. 6 tahun
(3) Pengelompokan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2), bukan jenjang yang harus diikuti oleh setiap peserta didik. Setiap peserta didik dapat berada selama 1 (satu) tahun pada kelompok A atau kelompok B, atau 2 ( dua ) tahun pada kelompok A dan kelompok B.
salah satu SD swasta, SD Al-Asykar menerima murid kelas satu SD berumur 5 th 10 bulan sampai 6 tahun 9 bulan.
melihat peraturan di atas, harusnya kelulusan TK B adalah lebih dari 6 tahun sampai dengan 7 tahun, karena penerimaannya lebih dari 5 tahun s/d 6 tahun… dengan begitu, seharusnya lulusan TK Negeri bisa diterima di SD Negeri…
Nek jare2ne, ideal kuwi 6-8 taun…
Tapi di Endonesa ada yg menganggap kalau makin dini makin bagus.
Nek menurut aku, kuwi kleru… sedulur marsudiyanto menampilkan tulisan… Sahabat Komutatif
takutnya kalau terlalu dini sudah masuk SD, nanti udah di SMP, SMAnya suka ngadat … saya banyak kasus teman saya yang lebih muda dari saya (karena dulu masuknya awal) sering bertingkah aneh di sekolah … mungkin sudah jenuh sekolah kali yah? …. sedulur rangga aditya menampilkan tulisan… Little Red Riding Hood
dulu waktu kecil..
saya diluluskan TK pas umur 6 tahun..
gara-gara juga teman seumuran juga sudah masuk SD
kesalahan iki marai aku rodo saru yo sedulur anno menampilkan tulisan… Candi Sambisari
7 tahun mas…
tapi kebanyakan orang indonesia keminter…
6 tahunbelum genap dah masukin sd, klo nggak bisa malah pake nyogok segala…
ampun deh…
orang indonesia, rata rata menginginkan terlalu banyak, tapi akhirnya mendapat terlalu sedikit…
kasihan….
ingin lebih cepat, tapi justru paling belakang sampai tujuannya…
kasihan… sedulur Sriyono ST menampilkan tulisan… Grand Candi Hotel
Pernah saya diceritain guru SD, ada orangtua yang ngebet anaknya sekolah disana padahal umurnya baru 6 th. karena gak boleh akhirnya ortunya tu mendaftarkan ke sekolah lain. Tapi karena kadang sekolahan kekurangan murid, banyak sekolahan yang menerima murid yang masih dibawah umur sekolah. sedulur sanjati menampilkan tulisan… Memperbaiki file iso linux yang korup
Wah Pak Andy, jujur saja saya sangat menikmati artikel ini. Kebetulan, saya kerap dihantui persolan tersebut. Ketika anak saya lulus TK nanti, dia belum 7 tahun. Yang menjadi ketakutan salah satunya adalah efek kebosanan ketika dia harus sudah masuk SD dalam usia kurang (dari tujuh tahun). Barangkali saya masih terselamatkan karena sekolah2 di Jakarta tampaknya sangat ketat dalam menerapkan batasan usia SD, yakni minimal 7 tahun. Trims infonya
seperti komen Suryaden sebelumnya, anak-anak masih ada masa bermain yang harus terselesaikan… kalau kesusu sekolah, nanti bermainnya malah ketinggalan… sedulur Anna Wae menampilkan tulisan… Orang Miskin Tidak Boleh Sakit Biayanya Mahal-
Nek aku melbu SD kuwi umur 5 taun. Tapi asal otake wis kuat, ra masalah. Adikku sing ragil umur 4,5 taun melbu SD. Nanging yo kuwi, wis siap mental lan otake kuat yo nganti saiki ra masalah. sedulur Estiko menampilkan tulisan… Deface Blog orang
nice infoo..
lengkap bgt mas infonya..
sipppp bgt,,, :)
semoga bermanfaat bagi pembaca yg lain juga..
btw, salam kenal ya..
visit my blog ya… ditunggu lhoo.. thx kyu.. :) sedulur venty menampilkan tulisan… Michael Buble – Hold On
menurut saya, usia 6 tahu lebih itu pas.
sebab kematangan psikologis dan emosi serta otak anak sudah dalam masanya. kalo kurang maka kasihan, sebab dia masih butuh waktu banyak untuk bermain dan bersenang2. sedangkan usia lebih dari tujuh maka kasihan karena ntar ketuaan lulusnya
sekali lagi ini pendapat saya bukan pendapat pakar pendidikan anak atau ahli psikologi anak sedulur ciwir menampilkan tulisan… KPK Riwayatmu Kini
kematangan anak cew memang lebih cepat. tapi itu setelah usia lebih dari 10 tahun. sebelumnya menurut saya sama saja… lagian kematangan itu terutama masalah kedewasaan fisik (reproduksi), perkembangan otaknya kan setara???
Berapapun usianya kalau dari segi IQ sdh matang, Go…. masuk aja ke SD,
Jaman sekarang beda dgn jaman dulu, anak sekarang Tk aja sdh pinter ngomong kaya di Sinetron2 (malah jangan2 ngikut2 di sinetron), Media Televisi bukan cuma TVRI aja kaya jaman dulu, malah sekarang ada puluhan Stasiun TV swasta yg secara gak langsung di tonton dan ditiru anak2 usia dini.
Banyak dijaman sekarang orang dewasa berpikiran seperti anak2, dan yg anak2 berpikiran matang dan dewasa. Orang2 dewasa jaman sekarang ya kita2 ini yg di produksi di jaman dulu.
pertamax..!
betul mas..
kebanyakan yang suka ngerasa anaknya sangat istimewa itu ortunya ..
dan ortu juga yang ngerasa gak mau kalah sama anak/ortu yang lain kalo anaknya udah 6 tahun belum masuk sd.. gengsi katanya..
padahal kalo demi kepentingan anak, bisa jadi usia 6 tahun buat anak tersebut belum waktunya dia sekolah sd..
akibatnya justru bisa fatal, anaknya gak mampu mengimbangi kemampuan teman sekolahnya yang setahun lebih tua, jadinya prestasinya terlihat “biasa-biasa” saja..
kalo dah gitu ntar yang disalahin anaknya, atau gurunya gak bisa ngajarin..
halah..!
ya..ya..ya… betul sekali, itu yang saya sebut ortu terlalu pede…
tergantung kemampuan si anak ya…jadi berbeda-beda…
sedulur joe menampilkan tulisan… Polisi Tidur dan Polisi Hoegeng
bener..!
lain anak lain kemampuan..!
mungkin karena lain-lain dalam konsumsi gizi dan nutrisinya..!
lagi-lagi yang membedakan adalah masalah ekonomi
itulah, ortu harus benar-benar paham kemampuan anak sebelum memasukkan ke sekolah di usia yang lebih dini…
artikel bagus untuk pemikiran saya pak..!
anak saya yang besar baru mau masuk tk sekarang..!
Wah, lha aku durung duwe anak kie piye….. :)
nggawe anak sik kang!
mantap artikelnya.. anda menyajikan *setajam silet*
dan ini sangat berguna bagi saya sebagai calon orang tua
iya tuh … jam 11:30 … masih setengah jalan
sedulur gadgetboi menampilkan tulisan… Little Red Riding Hood
[...] This post was mentioned on Twitter by Andy MSE, Andy MSE. Andy MSE said: berbagi http://tinyurl.com/2at859d (Berapa Usia Ideal Masuk SD?)
http://plurk.com/p/64wyl7 [...]
aku nembe mikir sekolahe dio taun ngarep.. dan dio kurang 2bln umure ngo mlebu SD..
tunda setahun aja mbak! biar pas 7 tahun kurang 2 bulan… ideal tuh!
saya duLu masuk SD umur 6 tahun.. adik saya maLah umur 5 tahun…
sedulur Hari Mulya menampilkan tulisan… Kemarin Kakakku- Besok Adikku
kalau 5 tahun itu nggak cuma istimewa, melainkan sitimewa
dan bagaimana untuk anak yang baru 6 th sudah lulus TK? jadi nganggur seth u sekolah? sedangkan anaknya nangis2 minta sekolah
pindah TK aja…
sedulur Anna Wae menampilkan tulisan… Orang Miskin Tidak Boleh Sakit Biayanya Mahal-
itu TK mana ya? kok baru 6 tahun sudah diluluskan? setahu saya, kelulusan TK bukan ditentukan oleh kompetensi, melainkan usia…
salam sukses mbak Kania!
Ibn bersekolah di TK Kinderfield cabang Cinere.
Dan menurut Petunjuk Teknis Penerimaan Peserta Didik Baru Depok Tahun 2010
http://bit.ly/bK5wkE
BAB IV
PENERIMAAN PESERTA DIDIK
TAMAN KANAK-KANAK NEGERI
Pasal 6
Persyaratan
(1) Peserta Didik Baru Kelompok A berusia 4 tahun s.d. 5 tahun
(2) Peserta didik baru Kelompok B berusia lebih dari 5 tahun s.d. 6 tahun
(3) Pengelompokan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2), bukan jenjang yang harus diikuti oleh setiap peserta didik. Setiap peserta didik dapat berada selama 1 (satu) tahun pada kelompok A atau kelompok B, atau 2 ( dua ) tahun pada kelompok A dan kelompok B.
salah satu SD swasta, SD Al-Asykar menerima murid kelas satu SD berumur 5 th 10 bulan sampai 6 tahun 9 bulan.
carikan sekolah yang nggak negri aja! kl di negri biasanya penerimaannya urut umur… semoga IBN cepet dapat sekolah!
melihat peraturan di atas, harusnya kelulusan TK B adalah lebih dari 6 tahun sampai dengan 7 tahun, karena penerimaannya lebih dari 5 tahun s/d 6 tahun… dengan begitu, seharusnya lulusan TK Negeri bisa diterima di SD Negeri…
Nek jare2ne, ideal kuwi 6-8 taun…
Tapi di Endonesa ada yg menganggap kalau makin dini makin bagus.
Nek menurut aku, kuwi kleru…
sedulur marsudiyanto menampilkan tulisan… Sahabat Komutatif
sya sepakat dengan pak Mars… secara empiris, saya juga membuktikan dan menerapkan pada anak-anak saya…
sing jelas sak pinter-pintere anak, yo isih butuh masa bermain sing harus diselesaikan…
sedulur suryaden menampilkan tulisan… getir
takutnya kalau terlalu dini sudah masuk SD, nanti udah di SMP, SMAnya suka ngadat … saya banyak kasus teman saya yang lebih muda dari saya (karena dulu masuknya awal) sering bertingkah aneh di sekolah … mungkin sudah jenuh sekolah kali yah?
….
sedulur rangga aditya menampilkan tulisan… Little Red Riding Hood
dulu waktu kecil..
sedulur anno menampilkan tulisan… Candi Sambisari
saya diluluskan TK pas umur 6 tahun..
gara-gara juga teman seumuran juga sudah masuk SD
kesalahan iki marai aku rodo saru yo
hidup saru
sedulur neorenggana menampilkan tulisan… HIRENS Boot CD
carane lihat dan lipat kuwi piye yooo???
suk tak kirim lewat email…
anakku baru wae lulus SMA arep kuliah…
Bener….
sedulur Estiko menampilkan tulisan… Deface Blog orang
Berarti bentar lagi siap nikah Pak Dhe??? Siap2 goletke mantu mesti iki
sedulur Estiko menampilkan tulisan… Deface Blog orang
7 tahun mas…
tapi kebanyakan orang indonesia keminter…
6 tahunbelum genap dah masukin sd, klo nggak bisa malah pake nyogok segala…
ampun deh…
orang indonesia, rata rata menginginkan terlalu banyak, tapi akhirnya mendapat terlalu sedikit…
kasihan….
ingin lebih cepat, tapi justru paling belakang sampai tujuannya…
kasihan…
sedulur Sriyono ST menampilkan tulisan… Grand Candi Hotel
rumangsane nek anake sekolahe enom trus hebat… padahal…
Pernah saya diceritain guru SD, ada orangtua yang ngebet anaknya sekolah disana padahal umurnya baru 6 th. karena gak boleh akhirnya ortunya tu mendaftarkan ke sekolah lain. Tapi karena kadang sekolahan kekurangan murid, banyak sekolahan yang menerima murid yang masih dibawah umur sekolah.
sedulur sanjati menampilkan tulisan… Memperbaiki file iso linux yang korup
Wah berarti kebanyakan orangtua juga menyombongkan anaknya ya? (gak nyambung)
sedulur nahdhi menampilkan tulisan… Posting for Nothing
HEM. . . Saya setuju!
dulu saya masuk SD saat usia 8 tahun *pantes ranking terus*
sedulur khay menampilkan tulisan… LG GD580 Lollipop
waaa.pendidikan yang no satu….
Wah Pak Andy, jujur saja saya sangat menikmati artikel ini. Kebetulan, saya kerap dihantui persolan tersebut. Ketika anak saya lulus TK nanti, dia belum 7 tahun. Yang menjadi ketakutan salah satunya adalah efek kebosanan ketika dia harus sudah masuk SD dalam usia kurang (dari tujuh tahun). Barangkali saya masih terselamatkan karena sekolah2 di Jakarta tampaknya sangat ketat dalam menerapkan batasan usia SD, yakni minimal 7 tahun. Trims infonya
seperti komen Suryaden sebelumnya, anak-anak masih ada masa bermain yang harus terselesaikan… kalau kesusu sekolah, nanti bermainnya malah ketinggalan…
sedulur Anna Wae menampilkan tulisan… Orang Miskin Tidak Boleh Sakit Biayanya Mahal-
bner skali mas,,,,,!!!
thnx infonya,,,,,, :)
Saya masuk sd umur 6th. Teman saya juga banyak.
Aku mbiyen umur 7 pas melbu SD. leh kok curhat
sedulur Ega menampilkan tulisan… membuat menu navigasi dengan software
Nek aku melbu SD kuwi umur 5 taun. Tapi asal otake wis kuat, ra masalah. Adikku sing ragil umur 4,5 taun melbu SD. Nanging yo kuwi, wis siap mental lan otake kuat yo nganti saiki ra masalah.
sedulur Estiko menampilkan tulisan… Deface Blog orang
ora mung istimewa, tapi SITIMEWA…
Berarti Istimewa mbe Sitimewa kuwi seduluran tah???
sedulur Estiko menampilkan tulisan… Deface Blog orang
nice infoo..
lengkap bgt mas infonya..
sipppp bgt,,, :)
semoga bermanfaat bagi pembaca yg lain juga..
btw, salam kenal ya..
visit my blog ya… ditunggu lhoo.. thx kyu.. :)
sedulur venty menampilkan tulisan… Michael Buble – Hold On
salam kenal kembali, venty!
blog-mu nggak bisa dikomen tanpa login… lha mosok aku suruh login ke um.ac.id???
Pak,
Mau tanya dulu, istrinya termasuk banyak, memangnya ada berapa istri pak? Hehehee…
Dimana pak kita bisa cek IQ anak, ada info kah? Biar tahu apakah kita sudah benar dan tepat sasaran ketika menyekolahkan anak… :)
just kidding, mbak Zee!
soal cek IQ, biasanya banyak psikolog yang melayani kebutuhan itu.
aku dulu umur berapa ya ???? lupa lupa
menurut saya, usia 6 tahu lebih itu pas.
sedulur ciwir menampilkan tulisan… KPK Riwayatmu Kini
sebab kematangan psikologis dan emosi serta otak anak sudah dalam masanya. kalo kurang maka kasihan, sebab dia masih butuh waktu banyak untuk bermain dan bersenang2. sedangkan usia lebih dari tujuh maka kasihan karena ntar ketuaan lulusnya
sekali lagi ini pendapat saya bukan pendapat pakar pendidikan anak atau ahli psikologi anak
gimana dengan usia masuk berdasarkan gender ya? karena kecenderungan anak ce lebih cepat matang dibanding co?
kematangan anak cew memang lebih cepat. tapi itu setelah usia lebih dari 10 tahun. sebelumnya menurut saya sama saja… lagian kematangan itu terutama masalah kedewasaan fisik (reproduksi), perkembangan otaknya kan setara???
Berapapun usianya kalau dari segi IQ sdh matang, Go…. masuk aja ke SD,
Jaman sekarang beda dgn jaman dulu, anak sekarang Tk aja sdh pinter ngomong kaya di Sinetron2 (malah jangan2 ngikut2 di sinetron), Media Televisi bukan cuma TVRI aja kaya jaman dulu, malah sekarang ada puluhan Stasiun TV swasta yg secara gak langsung di tonton dan ditiru anak2 usia dini.
Banyak dijaman sekarang orang dewasa berpikiran seperti anak2, dan yg anak2 berpikiran matang dan dewasa. Orang2 dewasa jaman sekarang ya kita2 ini yg di produksi di jaman dulu.
Wow this is a great resource.. I’m enjoying it.. good article