Bibit Suloyo

Beberapa hari terakhir ini ramai diperbincangkan mobil rakitan anak SMK yang diberi nama Kiat Esemka (sebetulnya sudah diperkenalkan dua tahun lalu namun meramai karena ulah Jokowi-Rudy -Walikota/Wakil Walikota Solo- yang hendak menjadikan Esemka sebagai mobil dinasnya).
Bagi saya ini sesuatu yang membanggakan. Ya bangga pada anak-anak SMK atas prestasinya, bangga pada sponsornya, juga bangga pada Jokowi-Rudy mempelopori untuk menggunakan mobil itu. Tentunya Jokowi tidak sebegitu bodoh untuk langsung menggunakan Esemka. Pastinya nunggu surat-suratnya (BPKB, STNK) keluar dulu, kalaupun jalan sekarang pastinya ada ijin khusus misalnya test drive, dlsb. Soal kelayakan dan keamanan, pasti pembuatnya sudah memikirkannya. Membuat mobil tentu saja tidak sesederhana membuat Becak Lawu. Soal emisi, kalau nggak bisa langsung ngikuti standar Euro ya nggak apa-apa, mikrolet berasap tebal pun masih bebas berkeliaran, pastinya Esemka jauh lebih baik dan mesinnya tak dibuat semacam kereta kelinci.

Saya justru berharap Esemka nantinya menjadi cikal bakal mobil nasional Indonesia yang bebas dari mafia otomotif.

Jadi…

Nggak perlu ditanggapi berlebihan. Biasa saja dan yang penting didukung. Berbagai kebanggaan terutama kebanggaan anak-anak SMK sendiri rasanya tidak perlu dikotori dengan bibit-bibit suloyo

Soal ramainya kibaran warna-warni bendera politik terkait dengan diperkenalkannya Esemka, itu hal yang wajar dan lumrah-lumrah saja. Nggak perlu dituduh cari muka atau “golek rai“.

Bagi saya, semakin ramai justru semakin baik, asal penggunanya juga semakin banyak, karena saya yakin seyakin-yakinnya bahwa suatu produk hanya akan berhasil bila didukung oleh pengguna. Titik!

baca juga: Jokowi Berulah

Catatan:

*suloyo (Jw) –secara fonetik seharusnya ditulis “sulaya“– adalah kata penuh makna:

  • bisa berarti macet, mogok, atau rusak, mis. dalam kalimat “sepedaku suloyo“.
  • bisa berarti bertengkar, mis. dalam kalimat “ngajak suloyo“.
  • bisa berarti ingkar atau bohong, mis. dalam kalimat “ojo suloyo“.
  • dan lain-lain…

Post to Twitter Post to Plurk Post to Facebook Send Gmail

Related Posts

22 thoughts on “Bibit Suloyo

  1. kalau saya takut dengan penyakit “anget-anget t*hi ayam” yang sering di derita orang indonesia :D … semoga berlanjut ke level yang jauh lebih tinggi: mass production! tentu dibarengi dengan after sales yang baik juga

  2. Semoga angan-angan kita untuk memiliki industri mobil nasioal, apalagi dimotori anak-anak SMK dan bengkel-bengkel, bisa segera terwujud.

  3. Saya setuju sekali…indonesia harus bangkit dari keterpurukan..masak kalah ma negara tetangga yang mobil nya uda terkenal ke negara lain….mari kita dukung produk-produk indonesia…sukses selalu kang!!!!!!

  4. Itu mobil Esemkanya apa baru untuk kalangan Pejabat Dinas apa sudah ada awamis yang punya pak? Saya dongakkan pak Andy bisa memilikinya dan bisa dibawa mudik ke BEBENGAN :lol:

    • Anda keliru… Produsen mobil besar pun tidak membuat sendiri semua komponennya. Mereka mempunyai banyak vendor.
      Jadi sah-sah saja kalau esemka mengklaim mereka memproduksi mobil karena mereka yang melakukan rancang bangun mulai dari awal.
      Bila anda pernah mendengarkan kisah mobil nasional Timor (Keppres No 42/1996), pasti akan lebih sedih lagi.
      Yang ini lain banget dan membuat bangga!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *