Bicara yang baik… atau Diam

Setiap kali melewati Semarang atau Kendal, saya memastikan untuk berkunjung ke rumah ibu. Rasanya kurang pas kalau sudah dekat kok tidak mampir. Maklum domisili saya sekarang cukup jauh dan tidak memungkinkan untuk sering-sering berkunjung. Maklum pula ibu saya adalah seorang janda, dan beliau tinggal tanpa anak-anak di dekatnya, hanya bersama Markumi yang sekarang pun sibuk dengan bayinya sendiri.

Setiap kali bertemu, selalu saja ada petuah-petuah dari beliau. Seringkali terdengar lucu karena anak-anaknya yang sudah dewasa masih saja mendapatkan petuah seperti anak-anak yang masih kecil. Tapi, begitulah orang tua. Saya yakin, dimana-mana juga sama saja. Sering pula, petuah-petuah beliau menyitir petuah agung para nabi, sehingga kami mendengarnya dengan tekun.

Mungkin kegemarannya berpetuah sudah sedemikian mendarah-daging, karena ibu -di sekitar tempat tinggalnya- terkenal sebagai ustadzah, mubalighoh, yang sering berbicara di banyak tempat atas undangan banyak orang. Pun beliau sejak tahun 1960an mengelola pengajian anak-anak di rumah yang sekarang berkembang menjadi Majelis Taklim Nur Minal Islam dan TPQ Nur Minal Islam.

Selain gemar berpetuah, ibu saya juga gemar menyanyi dan menulis. Kebanyakan nyanyian berkaitan dengan lagu anak-anak untuk diajarkan kepada murid-murid di TPQ. Sedangkan kegemaran menulis, isinya selalu petuah-petuah, lagi-lagi sering menyitir petuah agung para nabi. Medianya, bisa apa saja. Banyak tulisan tersebar di kertas-kertas, buku-buku, bahkan petuah-petuah beliau pun tertulis di dinding dan di pintu. Ini salah satu tulisan beliau, “Bicara yang baik, atau Diam“…

bicara yang baik, atau diam

Bila melihatnya, dalam hati saya selalu berkata, “Ibu ini kok aeng-aeng wae, nge-blog kan lebih enjoy daripada nulis di pintu!”…

Post to Twitter Post to Plurk Post to Facebook Send Gmail

Related Posts

59 thoughts on “Bicara yang baik… atau Diam

        • Jiuhhhh..aku nulis komen akeh2 kok ra mlebu…

          Pada intinya apa yang keluar dari mulut orang tua itu baik bagi anak2 mereka, meski gak melulu berisi petuah. Seperti Ibu saya yang sering “nyreweti” saya mulai dari soal sekripsi sampe rambut gondrong yang bikin beliau sebel, kalo bapak saya hanya sekali dua kali melontarkan kata2 bijak, terutama menyangkut hidup, seperti misalnya “wong urip ki ibarat koyo wong mlaku, ojo ndelok dhuwur terus ndak kesandung”.

          Salam sungkem buat ibundanya Kang Andy…

          tukang nggunem´s last blog post..Pilpres 2009 dan internet

  1. wah, coba jaman ibunda sampean dulu masih muda, yg namanya blog itu dah merakyat..
    mungkin pintu itu malah ada grafittinya..
    dan mungkin jaman sekarang nge-blog itu dah ktinggalan jaman bgt..
    hehe,,

  2. Mas, Ibundanya gaul dan sholehah yaa….terlihat dari grafiti nya dilawang ituu…. Dan terbukti dari anaknya yang (ngaku) cah Sholeh ituu…Alhamdulillah.Sungkem katur Ibunda yaa…

    ayik´s last blog post..tragis

  3. kurnia [bilang] Jangan Cuman Diam! Loe Harus Grak! (lmao)
    wagh kuwi luweh mantep mas dari sekedar ngeblog. goresan
    tangane kuwi mesti menghasilkan aura yang kuat bagi orang
    yang membacanya. lha buktine sampeyan sampe buat
    posting soal ini (LOL)

  4. Wkwkwkwkw…. kejam nyaaa…. masa DIAM ! nya pake tanda !

    But org2 tua memang punya petuah2 yg postifi, tidak ada salahnya kalo kita terima dgn positif juga…

  5. he…pasti anak2 di TPQ susah banget diatur …ato jangan2 mas andy orangnya crewet bgt…he….

    tapi saya suka dengan ibu njenengan….begitu spontan…

    dien´s last blog post..Sample Simple

  6. kalian ini knp si..??
    itu kan hak dia mau nulis di pintu ke
    mau nulis di dinding….( itu kan rumah nya dia )
    yang jelas inti nya itu baik lah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *