Mencoba Blangkon

Blangkon adalah tutup kepala yang dibuat dari batik dan digunakan oleh kaum pria sebagai bagian dari pakaian tradisional Jawa. Menurut wujudnya, blangkon dibagi menjadi 4: blangkon Ngayogyakarta, blangkon Surakarta, blangkon Kedu, dan Blangkon Banyumasan. Untuk beberapa tipe blangkon ada yang menggunakan tonjolan pada bagian belakang blangkon. Tonjolan ini menandakan model rambut pria masa itu yang sering mengikat rambut panjang mereka di bagian belakang kepala, sehingga bagian tersebut tersembul di bagian belakang blangkon. [wikipedia]

Tapi, bila sedulur menelusur kata blangkon di Google Indonesia malah diragukan, “Mungkin maksud Anda adalah: blankon“. (thinking) … Coba lihat skrinsut berikut ini: (kalau sedulur teruskan ke bawah lagi, sepertinya ada Kecakot ikut di halaman pertama)… :-D

Itu artinya, di dunia online atau daring (dalam jaringan), BlankOn, distro Linux Indonesia turunan Ubuntu ini lebih terkenal dibandingkan blangkon tutup kepala lelaki Jawa itu.

Tulisan ini pun memang akan membahas BlankOn bukan Blangkon. Ini termasuk salin swara, ambigu atau bermakna ganda, sama pengucapannya namun kalau diperlihatkan tulisannya jelas perbedaannya.

Sejujurnya, walaupun rilisnya selalu saya nanti-nanti, BlankOn bukan distro utama yang saya gunakan untuk keperluan sehari-hari. Dan ketika awal Juli ini BlankOn terbaru –BlankOn 6.0 Ombilin– dirilis, saya pun segera mengunduhnya dengan benwit seadanya.

Internet, 05 Juli 2010.

Pada hari ini, Yayasan Penggerak Linux Indonesia (YPLI) dan Tim Pengembang BlankOn dengan bangga mengumumkan terbitnya BlankOn versi 6.0 yang diberi nama “Ombilin”. Seperti biasa, fitur BlankOn rata-rata menggunakan teknologi terbaru Linux, termasuk kernel Linux 2.6.32 dan lingkungan desktop GNOME 2.30.2. Ombilin didukung perangkat lunak hiburan yang siap langsung pakai tanpa memasang codec multimedia tambahan, dukungan akses Internet dengan yang sangat ringan untuk menjelajah web serta komunikasi pesan instan dan jejaring sosial, juga fitur-fitur perkantoran. Selain itu, Ombilin menyediakan fitur-fitur olah grafis vektor dan bitmap serta album foto digital.

siaran pers ombilin

Tidak kesusu, tidak terburu-buru, dan tidak ada target waktu untuk segera menyelesaikan downloadnya, namun ada catatan tersendiri saat download itu. Seperti biasa karena keterbatasan benwit, saya men-download menggunakan prozilla. Di antara tempat-tempat download yang ada saya mencobanya satu per satu. Ternyata Repository Linux punya KLAS yang dibangga-banggain Didiet Si Tidy bersahabat dengan koneksi lambat yang saya gunakan. Pun mendukung resume download. Justru beberapa server terkenal malah tidak mendukung resume download sehingga saya tinggalkan.

Setelah beberapa waktu nyambi download, akhirnya selesai dan file iso si blankon saya copykan ke beberapa komputer saya. Ketika saya melakukan perjalanan ke barat, file iso si bankon itu tersimpan di netbook saya.

Nah… Ketika di tujuan perjalanan, tak dinyana lcd netbook yang saya bawa tiba-tiba bergaris. Saya tahunya saat mengeluarkan pertama kali dari travelbag saat akan menggunakannya setiba dari perjalanan jauh. Bisa jadi itu karena tindihan berbagai macam barang yang ada di travelbag telah membuat lcd netbook saya mengalami kerusakan.  Beruntung saya masih bisa membuat sebuah USB Startup Disk dari file iso si BlankOn walaupun terpaksa membuatnya harus geser sana geser sini jendelanya karena sebagian tak terlihat tertutup garis-garis vertikal kerusakan LCD netbook.   Atas kebaikan hati seorang kawan, saya dipinjami laptop baru yang masih kosong. Tak pakai lama, saya pun menginstall BlankOn bersenjatakan USB Startup Disk itu. Lumayanlah! Bisa digunakan untuk bekerja sementara.

Sekarang saya mau cerita soal si BlankOn itu…

Catatan Rilis BlankOn 6.0 (Ombilin)

BlankOn 6.0 (Ombilin) merupakan versi terbaru distribusi BlankOn. Distribusi ini dikembangkan oleh Yasasan Penggerak Linux Indonesia (YPLI) dan Tim Pengembang BlankOn. BlankOn merupakan distribusi khas Indonesia yang menyertakan beragam perangkat lunak yang sering digunakan oleh masyarakat pada umumnya, seperti program perkantoran, aplikasi keuangan, aplikasi Internet, menggambar (baik vektor maupun bitmap), dukungan untuk memainkan beragam format berkas multimedia, serta aplikasi menarik lainnya.

catatan rilis ombilin

Sebetulnya pemaparan di sana sudah sangat lengkap, namun saya tetap ceritakan kembali berdasarkan pengalaman saya menggunakan BlankOn. :-)

Saat pertama menggunakan BlankOn Live, tiba-tiba saya disuguhi warna merah semangka yang segar, berpadu dengan sedikit hijau kulit semangka dari logo BlankOn. Busyet… baru kali ini saya mendapatkan warna yang se-ngejreng ini di antara Linux-Linux yang saya gunakan sebelumnya. (haha) … Sayangnya, wallpaper desktop yang disuguhkan berwarna biru bercampur merah yang norak dan menyebalkan… Ops… saya salah mengira, belakangan setelah menggunakannya seharian, saya baru menyadari bahwa wallpaper itu berubah-ubah menyesuaikan dengan waktu. Ini selengkapnya:

Sumpah… Keren abisss…

Di setiap aplikasinya pun pembukanya sudah berganti rupa. Semuanya berwarna merah semangka.

Agak berbeda dengan induknya, Ubuntu, inilah sebagian bawaan paket perdana BlankOn 6.0 Ombilin:

  • Di jajaran Aksesoris ada tambahan stardict, sebuah kamus ringan sederhana namun kuat dan lengkap.
  • Di jajaran Grafis sudah ada GIMP juga Inkscape. Ini membuat saya cukup senang karena tidak perlu nambah GIMP seperti halnya di Ubuntu. Kegiatan olah gambar yang biasa saya lakukan lancar…
  • Di jajaran Internet, browser bawaannya dipilih Chrome (bukan Google Chrome), namun saya tetap menambahkan Firefox  dan Opera untuk mendampinginya. Untuk perpesanan, pengembang memilih Pidgin yang sudah sangat familiar untuk memperkuat BlankOn. Empathy yang menjadi aplikasi standar perpesanan sejak Ubuntu 9.10 Karmic Koala tidak digunakan.
  • Ada tambahan Tux Typing yang berada di jajaran Pendidikan.
  • Di jajaran Perkantoran, selain Open Office dan Evolution, ada GNUCash dan Planner. Dua tambahan ini sangat cocok dengan saya. yang pertama karena saya banyak bekerja untuk urusan keuangan dan GNU Cash ini sudah saya gunakan sejak 2 tahun lalu. Planner -Tata Laksana Proyek- sangat membantu saya untuk urusan manajemen proyek. Saya sangat menyukainya. Ini juga saya temui di Fedora 13 Goddard dengan nama Project Management yang juga intens saya gunakan sampai sekarang.
  • Seperti di Linux-Linux yang saya pakai, permainan saya hapus karena saya tidak suka permainan/games.
  • Di jajaran Suara dan Video, ada tambahan Exaile yang jarang sekali saya gunakan.
  • Sayangnya, saya tidak menjumpai disk utility yang kerap saya gunakan untuk mengelola disk. Ya terpaksa saya tambah sendiri.

Semua sudah cukup handal untuk digunakan bekerja sehari-hari, namun saya tetap merubah sedikit tampilan dengan menyuntikkan Menu Linux Mint ke BlankOn. Caranya sama dengan menyuntikkannya ke Menu Linux Mint di Ubuntu, akan tetapi saya harus menambahkan software source > deb http://archive.ubuntu.com/ubuntu lucid main restricted universe multiverse > dan melakukan update terlebih dahulu agar dapat menginstall deskbar-applet.

Ini hasilnya:

Suntikan Menu Linux Mint ini semata-mata karena sehari-hari saya menggunakan layar lebar dan dua panel saya anggap mempersempit pandangan. Keren kan???

Jujur, saya bangga dengan distro Indonesia ini!!!… :-)

=========

NB:

Masih ada distro Linux yang saya nantikan. Besok 15/07 adalah hari perilisan OpenSUSE 11.3 (hehe, baru kali ini tulisan saya menggunakan istilah NB)… (haha)

Post to Twitter Post to Plurk Post to Facebook Send Gmail

Related Posts

42 thoughts on “Mencoba Blangkon

    • Kalau yang saya rasakan sih , memakai Pentium 4 2.0Ghz ke atas sama RAM 512MB juga sudah lebih dari cukup (tongue) …. kalau mau pake compiz emang harus bagus VGA-nya …. NVIDIA 6600 keatas lah …. tapi enggak pake juga udah keren kok …

  1. saya juga baru ja selesai dunlut BlankOn dan langsung coba live. dan menurut saya sangat elegan karena waktu bootingya ja dah ada tiga cahaya yang semakin lama semakin kecil kemudian muncul loga BlankOn sebelum tampil desktopnya. Bangga deh terhadap distro ini.

  2. saya kemarin sempat mau cari-cari dimana temanya.. tapi sampai sekarang belum dapat jg.. :(
    sekalian mau tanya mas, apakah nautilus yang digunakan pada blankon ini sudah mendukung fitur breadcrumbs milik nautilus elementary? :)

    terima kasih.. ;-)

  3. mau mencoba tapi sepertinya virtual box saya bermasalah :(

    mau install berbagai distro di virtualbox selalu diminta untuk install ulang distro tersebut…. benar2 aneh

  4. Pak andy, aku sudah ngunduh blankon lewat unej…. tapi hasilnya gak bisa aku install padahal sudah lengkap unduhan nya. Terus aku request di ubuntu shiping dan dikirimi ubuntu LTS 10.04. Sudah aku install tapi yang jadi permasalahan adalah modemku gak kedetect oleh ubuntu (modem CDMA starone merk ivio iv-2000u). ada solusi gak ya :?: :???: aku sudah bosan dengan bajakan :lol:

    • soal unduhan, barangkali ada yg error… coba di komputer lain!
      soal modem: coba ditancep dan ditilik lewat $ lsusb
      kalau kedetec trus hasilnya (pd modem bersangkutan) dicatat…misalnya:
      Bus 005 Device 003: ID 12d1:1001 Huawei Technologies Co., Ltd. E620 USB Modem
      trus di $ sudo modprobe usbserial vendor=0x12d1 product=0x1001 <= angka vendor & produk disesuaikan hasil lsusb…
      selanjutnya coba dikonekkan…
      saya sendiri biasanya pakai wvdial karena kebetulan modem saya sesekali mogok kl pakai network manager…
      silahkan menuju ke tulisan wvdial di blog ini!

      • wvdial sudah pak terakhir ada tulisan CONECTED tapi aku tunggu tulisan IP proveder koq gak muncul2 :lol:
        maklum mas gak ngerti masalah ini dan baru kenalan dengan ubuntu.

        • seringkali kalau pakai wvdial memang begitu… kalau nggak segera dapat IP dan DNS, tekan Ctrl+C dan koneksikan kembali…
          username, password, dan APN jangan keliru!
          semoga bermanfaat!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *