Bunga Yang Tak Lagi Mekar

Sebetulnya saya ~Andy MSE~ tidak bermaksud melakukan pelecehan. Justru semata-mata ingin mengingatkan diri saya sendiri untuk menghargai, menghormati orang lain baik semasa hidup maupun setelah meninggal sekalipun…

Berawal dari keisengan saya melihat-lihat makam di dekat proyek perumahan yang sekarang ini sedang saya kerjakan. Tiba-tiba saya melihat sebuah batu nisan. Biasanya, nisan seringkali ditulisi nama dari yang sudah meninggal. Gelar kemasyarakatan seperti H, Hj, Ky, masih sering dijumpai, namun jarang sekali dijumpai gelar akademis dipasang pada nama yang tertulis di nisan makam.

Jarang pula embel-embel nama seperti; pak, bu, mbak, dik, mas, dan lain sebagainya. Tentunya ini bukan urusan di jenazah yang dimakamkan di situ, melainkan dari orang-orang sekitar yang dulu mengurus pemakamannya. Yeach… Kenapa kuburan Ngadiyem ini dikasih embel-embel bu??? Padahal kan nggak ada yang namanya bunga Diyem… Kalau bunga mawar, bunga melati, bunga anyelir sih biasaaaaa…

#tulisan di nisan itu ada yang keliru, seharusnya binti, bukan bin…
di desa saya malah pernah ada keisengan yang –menurut saya- kelewat batas. suatu hari seorang warga sepuh bernama mbah Kalimah meninggal… oleh anak-anak muda yang ikut mengurus pemakamannya, di nisan makam mbah Kalimah ditulis nama singkat X-MAH… (doh)

Post to Twitter Post to Plurk Post to Facebook Send Gmail

Related Posts

46 thoughts on “Bunga Yang Tak Lagi Mekar

  1. Jyah. . . . Itu nisannya kekecilan ya pak? Kok kalimah jadi di singkat? Hahaha. . . . Sing nulis kui di enteni mbah kalimah neng enggok2an. .

  2. Kalimah jadi X-Mah? Apa keluarganya tidak marah jika saudaranya, bahkan mbah-nya ditulisi nama seperti itu di batu nisan? :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *