Candi Kalasan

Sedulur yang sering melewati jalan Surakarta-Yogyakarta, pasti terbiasa disuguhi dengan pemandangan candi di pinggir jalan menjelang masuk Kota Yogyakarta. Yang paling diingat pasti Candi Prambanan, karena candi itu memang besar dan terkenal, baik di dunia nyata maupun di dunia legenda. Tentunya banyak yang pernah membaca cerita legenda Rara Jonggrang, seorang putri raja yang menipu pagi karena enggan dipersunting Prabu Baka yang walaupun seorang raja adalah musuh sang putri karena telah menahlukkan kerajaan sang putri bahkan telah membunuh raja, ayah dari sang putri malang si Rara Jonggrang itu.

Sempat juga dalam hati saya bertanya-tanya, kenapa sih sang putri sampai sedemikian repot menyalakan api membuat ayam jantan berkokok sebelum waktunya hanya untuk menghindari sang Baka??? Kalau saja putri cantik itu bercinta dengan saya, pastilah tidak akan serepot itu… lancar jaya!!!…

Oops… saya tadi mau cerita soal Candi Kalasan ya? (doh)

gambar-rekayasa-candi-kalasan

Dari Candi Prambanan, bilamana sedulur melanjutkan perjalanan menuju ke arah Yogyakarta, sesampainya di Desa Kalasan, tidak begitu jauh lagi bersiaplah untuk menengok ke sebelah kiri. Ada sebuah candi kecil yang masih berdiri megah di sana. Dari awal penemuannya pada tahun 1806 oleh Cornelius (foto pertama tahun 1900 oleh Cephas), Candi Kalasan belum pernah dipugar secara total, alias masih berdiri utuh walaupun banyak kerusakan di sana-sini yang sebagian sudah berhasil diperbaiki pada pemugaran tahun 1939-1940.

Menurut catatan dari Prasasti Kalasan yang menggunakan bahasa Sansekerta dengan huruf Prenagari, dengan tanda tahun 700 Caka/778M, Candi Kalasan dibangun pada masa Raja Panangkaran sebagai sebuah kuil yang dipersembahkan untuk Dewi Tara dengan nama Kuil Tarabhawana. Disebutkan pula bahwa di dekat Candi Kalasan itu (500 meter ke arah timur laut) didirikan Asrama Pendeta Budha. Mungkin mirip-miriplah dengan pola pondok pesantren.

Candi Kalasan bercorak Budha dengan pola hias utama sulur gelung. Pahatannya terhitung sangat halus dan detail, bahkan pada beberapa bagian dilapisi dengan bajralepa, semacam semen. Di candi ini, terdapat 52 stupa yang sekarang sudah tidak semuanya utuh baik bentuk maupun jumlahnya. Terdapat empat pintu di masing-masing sisinya dengan pintu utama di sisi timur. Sayang sekali, tangga candi sudah sangat rusak sehingga hanya tertinggal sedikit saja sisa tangga untuk menuju pintu-pintunya.

Sekilas, bentuk Candi Kalasan mirip dengan Candi Mendut, namun sedikit lebih besar. Ukurannya; tingginya mencapai 24 meter dengan rincian batur = 1 meter, kaki = 3 mater, tubuh candi setinggi 13 meter, dan atap setinggi 7 meter. Sedangkan penampangnya berukuran 16,5 x 16,5 meter.

Salah satu peninggalan Candi Kalasan adalah sebuah genta besar yang terbuat dari perunggu yang sekarang tersimpan di Museum Sana Budaya Yogyakarta. Sedangkan Prasasti Kalasan sekarang tersimpan di Museum Nasional di Jakarta dengan nomor koleksi D-147.

(thinking) Eh, anu pak… eehm… pak Andy kok tahu selengkap itu sih?

:-D ssssttt… jangan bilang-bilang, saya mbaca dari papan petunjuk yang ada di Candi Kalasan, hihihi…

Post to Twitter Post to Plurk Post to Facebook Send Gmail

Related Posts

35 thoughts on “Candi Kalasan

  1. Wah…Candi yang sungguh indah. Tapi sayang, sudah banyak yang hilang atau rusak. Kalau masih lengkap, pasti akan menjadi salah satu objek wisata yang menarik.

  2. Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang
    ‘tuk Sahabatku terchayaaaaaaaank sukses selalu yaaaak
    I Love U fuuulllllllllllllllllllllllllllll

  3. Nah kalau Candi Mendut saya pernah nyasar gak sengaja ke sana Pak. Waktu malam2 dari Semarang ke Purworejo, eh rupanya si Neng Roro Mendut ngajak mampir, Lha kok bisa nyasar ke sini..? Roro Mendut rupanya lagi senang bejanda….
    Tapi Candi Mendut Lebih Rapi ya.

  4. Nah, lho…
    Candi Budha, tetapi dipersembahkan untuk Dewi Tara…
    Hihihi, aku gak tahu ttg Budha atau Hindu, tapi heran saja, biasanya tentang Dewa-Dewi tuh Hindu kan…

    Tapi, kalau melihat ornamennya, agak beda dg kebanyakan candi Budha yg didominasi oleh stupa, dan Candi Tara ini didominasi dg ornamen yg dipengaruhi oleh budaya aseli Jawa (jaman itu)…

    Secara material, beberapa pahatan relief dilakukan pada semacam “semen” (kalau jaman sekarang, campuran dari beberapa bahan, termasuk –kalau tidak salah– kuarsa), yg dilapiskan ke batu aselinya, dan menciptakan corak warna yg menawan.

    Hmmm… the lost technology of this nation.

    • aku yo bingung plus ra mudheng, tapi itulah yang aku salin dari papan petunjuk di Candi Kalasan… (thinking) kapan2 nek nang Yoja tak mampir ke Museum utk nyari informasi tambahan… hihihi…

    • Dalam agama Buddha, Dewa adalah salah satu makhluk yang tidak setara dengan manusia, memiliki kesaktian, hidup panjang, namun tidak abadi. Agama Buddha mengenal banyak Dewa, namun mereka bukan Tuhan, mereka tidak sempurna dan tidak maha kuasa. Mereka (para Dewa) adalah makhluk yang sedang dalam usaha mencari kesempurnaan hidup.
      Para Dewa tidak selalu sama dengan Bodhisattva. Para Dewa masih terikat pada karma dan samsara.
      Salah satu dewi sangat saya kenal adalah Dewi Kwan Im yang ada dalam cerita legenda Kera Sakti. :-) sakti lho!

    • badala….
      tapi memang sering terjadi seperti itu… ponakan saya yang ada di Denpasar, sampai umur 15 tahun sama sekali belum pernah ke Uluwatu… hihihi…

  5. Saya salah seorang penggemar candi, dan hampir semua candi di DIY dan jateng sudah saya kunjungi, terlebih candi kalasan adalah candi yang terindah menurut saya, hanya sayang rencana pemugaran masih belum bisa terlaksana, alasannya dana masih fokus ke prambanan dan lokasi candi terlalu sempit untuk menata batu apabila candi direkonstruksi ulang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>