Catatan Hati Seorang Istri

Bukan… bukan… Ini bukan soal buku Catatan Hati Seorang Istri yang ditulis oleh Asma Nadia. Saya bukan penggemar buku itu, pun belum membaca semuanya, hanya sebagian kecil saja. Kalau istri saya sih penggemar berat, jadi hampir semua buku Asma Nadia  sudah dibaca sampai tamat.

Catatan Hati Seorang Istri yang menjadi catatan saya berkaitan dengan  Hari Kartini -21 April 2010- kali ini adalah kumpulan surat-surat R.A. Kartini kepada teman-teman Eropa-nya yang belakangan diterbitkan menjadi sebuah buku berjudul Door Duisternis tot Licht. Dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang.

Walaupun saya belum pernah membaca keseluruhan buku R.A. Kartini itu, menyimak beberapa suratnya, saya menangkap bahwa perempuan Mayong-Jepara itu adalah seorang yang cerdas, pandai berbahasa termasuk berbahasa asing, suka menulis (banyak tulisan Kartini dimuat di koran jaman itu -de Locomotief terbitan Semarang-), dan mempunyai  perhatian yang tinggi pada masalah-masalah sosial. Tak heran bilamana R.A. Kartini pun dianggap sebagai pelopor Emansipasi Wanita Indonesia.

Catatan Hati Seorang Istri Ke-Empat (Kartini adalah istri ke-4 Bupati Rembang) yang banyak berisi tentang ungkapan keprihatinan atas kondisi soaial perempuan tahun 1900-an yang mengalami kemunduran itu tentu saja berbeda dengan Catatan Hati Seorang Istri yang ditulis Asma Nadia yang berisi dialog hati, pertanyaan dan ketidakmengertian tentang isi kepala dan sikap laki-laki. Asma Nadia masih jauh kelasnya (setidaknya beda kelas) dibandingkan R.A. Kartini…

Begitupun, saya masih menyayangkan, Kartini yang mati muda itu kok lebih banyak menyimak buku-buku Eropa, Multatuli, Louis Coperus, Van Eeden, Augusta de Witt, Ny Goekoop de-Jong Van Beek, Berta Von Suttner, dan lain-lain. Seandainya beliau juga menyimak sejarah 300 tahun sebelumnya dimana seorang Grande Dame MalahayatiLaksamana Perempuan Pertama di Dunia– menghabisi Cornelis de Houtman, mungkin saja Kartini tidak sekedar menulis surat saja.

OOT:

Kalau jaman sekarang, barangkali Kartini kelasnya cuma nge-blog… (haha)

Walaupun begitu, dalam tataran yang berbeda-beda, ketiga perempuan di atas adalah perempuan luar biasa… Dan walaupun sama luar biasanya, -jujur saja- saya bingung dengan kelas perempuan yang gambarnya menjadi penutup tulisan ini… (thinking) Yang jelas, dalam segala aspek,  sependek yang saya tahu dan sepanjang yang saya punya, perempuan pada gambar terakhir ini tidak layak disandingkan dengan ke-tiga perempuan di atas.

Ini juga emansipasi??? (woot)

Post to Twitter Post to Plurk Post to Facebook Send Gmail

Related Posts

83 thoughts on “Catatan Hati Seorang Istri

  1. Wahhh… jadi inget dialog saya dengan dosen saya yang notabene seorang perempuan dan seorang wanita karir yang salah satunya membahas tentang emansipasi wanita sa’at ini yang sudah keluar jalur… kalau ditelaah dari intisari surat kartini, justru wanita sekarang malah *maaf* banyak yang merendahkan dirinya sendiri, dan bukan… sekali lagi bukan emansipasi seperti ini yang diinginkan ibu kita kartini.

    ahhh, besok mau ditulis di blog ahhh.
    makasih pakdhe dah mengingatkan tentang tema ini (cozy) .-= sedulur andri menampilkan tulisan..Cara Setting Multiple Gateway di Linux =-.

  2. perlu diperjelas nieeh, kenapa gambar terakhir “tidak layak” ? apakah ini pemberangusan emansipasi, ? gaa taau laah, capeek

  3. sebagai orang indonesia, sya malu dengan para politikusnya…, masa orang beginian (jupe) diangkat jadi pemimpin…., emang ga ada yang lebih layak yang lebih baik???

  4. Sing paling sangar gambar sing ngisor kang.. hahaha…
    Cah koyo ngene koq meh dadi pemimpin… hahaha…
    .-= sedulur Rock menampilkan tulisan..EDGUY =-.

  5. Menurut saya, dibanding buku Catatan Hati Sorang Istri (Asma Nadia), lebih keren Catatan Pernikahan Helvi Tiana Rosa ;)

    Ttg pic yg terakhir itu, (woot) buset dah! (doh) Awas kena RPM Konten loh Pak! (hassle) (ninja) .-= sedulur cici silent menampilkan tulisan..First Trip to Bandung =-.

  6. Pak, gambar terbawah itu apa benar iklannya Jupe to pak, saya masih ragu-ragu kalau dia mau nyalon bupati kok kayak gitu iklannya.

  7. Walah, sing ngisor dewek malah masa depane gendhe. Tapi sayang, mung ngandalna masa depan kuwi, tanpa ngandalna kepintaran n otak, pengen nyalon. (doh) semoga rakyate nek milih bisa bener, ra mung karna masalah “masa depane” sing dicekel tangane deweke

  8. Pingback: Kartini Sang Pahlawan Emansipasi | dafhy.net

  9. Pingback: Cah Sholeh - Wonder Women

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *