Dalil Pembenaran: Saat Berzakat

Ramadhan hampir berakhir. Orang-orang pun sibuk menyambut hari kemenangan, entah menang beneran atau hanya merasa menang atau hanya terpengaruh kata-kata “hari kemenangan” atau memang suka menang-menangan. Hal ini sering menimbulkan kekaprahan dan menjadikan banyak orang menyambut hari kemenangan dengan perilaku konsumeris. Yang jelas, sekaranglah saat yang tepat untuk mengeluarkan zakat baik zakat fitrah maupun zakat maal. Zakat fitrah sih sepele, cuma dua setengah liter bahan makanan pokok. Akan tetapi sebelum mengeluarkan zakat maal butuh penghitungan lebih teliti untuk menentukan seberapa besar zakat yang menjadi kewajiban.

Si orang kaya raya yang bermain-main dengan dalil pembenaran seperti dalam cerita kemarin juga sudah tahu dan memang bermaksud mengeluarkan zakat. Subhanallah!

Untuk keperluan zakat fitrah, berhubung si orang kaya raya itu juga menanggung beberapa anggota keluarganya yang terdiri dari dua istri dan tiga anak, dibelilah lima belas liter beras sekualitas beras jatah pegawai negeri yang rasanya sudah nggak karuan karena terlalu lama digudangkan di Dolog. Diantarkanlah beras itu ke amil zakat di masjid terdekat dan diserahkan sebagai zakat fitrah bagi enam orang anggota keluarga termasuk dirinya sendiri. MasyaAllah!… Si orang kaya raya rupanya lupa bahwa sehari-hari dia dan keluarganya makan beras terbaik dan terlezat yang ada di negerinya. Jauh berbeda kualitasnya dengan beras yang diserahkan ke amil zakat sebagai zakat fitrah.

Ya… Bagaimanapun zakat fitrah si orang kaya raya itu sah karena aturan zakat fitrah adalah dua setengah liter bahan makanan pokok. Tapi si orang kaya itu mengeluarkan zakat fitrahnya berdasarkan dalil pembenaran, bukan kebenaran sebagaimana mestinya.

Nah… Giliran mengeluarkan zakat maal, si orang kaya pun berhitung keras. Sebagai orang kaya raya, tentunya cukup banyak pula yang harus dikeluarkannya dan dia tahu bahwa sudah menjadi kewajibannya untuk mengeluarkan zakat maal. Dasarnya jelas!

Kriteria harta kekayaan yang wajib dizakati adalah sebagai berikut:

  • Kepemilikan penuh. Yaitu harta kekayaan yang sepenuhnya milik pribadi dan tidak ada hubungannya dengan kepemilikan orang lain serta sedang dalam penguasaan bukan dalam keadaan terpiutang. Soal harta piutang ini sebagian ulama berpendapat wajib dizakati, sedang sebagian lain berpendapat dizakati setelah dilunasi.
  • Berkembang  atau produktif. Artinya bahwa harta tersebut bisa bertambah nilainya baik pertambahannya karena diupayakan maupun berkembang dengan sendirinya walaupun didiamkan oleh pemiliknya karena nilainya memang berpotensi berkembang atau nilainya berkecenderungan untuk terus meningkat. Contoh harta yang berkembang karena diupayakan adalah ternak, barang dagangan, hasil bumi, dan lain sebagainya. Contoh jenis harta yang berpotensi berkembang adalah emas, tabungan yang dibagi-hasilkan, koleksi barang mewah atau barang seni, dan lain sebagainya. Syarat “berkembang atau produktif” ini mempunyai arti penting dalam menentukan kategori harta wajib zakat, yaitu untuk membedakan dari kekayaan yang mempunyai fungsi (walaupun itu sifatnya individual) misalnya perhiasan yang dipakai, mobil pribadi, perabotan rumah tangga, rumah pribadi, dan lain-lain.
  • Mencapai nisab. Apapun jenis harta yang dimiliki,wajib menzakatinya bila harta tersebut nilainya telah mencapai nisab yang berbeda tergantung jenis hartanya.  Dalam proses penentuan nisab, disyaratkan harus sempurna setelah menjumlah keseluruhan anggaran kebutuhan pokok berupa sandang, papan, pangan, peralatan kerja, dan lain-lain sehingga  nisab terhitung atas harta yang sudah terbebas dari biaya kebutuhan pokok untuk pribadi dan keluarga. Ketika jaman semakin maju dan jenis-jenis harta pun menjadi lebih beraneka macam, sebagian ulama berpendapat bahwa harta kekayaan berupa tabungan yang dibagi-hasilkan, investasi, andil kepemilikan usaha, dan simpanan harta lain berwujud aktiva tetap nisabnya mengikuti emas.
  • Kepemilikan selama setahun (menurut kalender hijriyyah). Syarat wajib zakat yang terakhir adalah kepemilikan harta senilai nisab selama 12 bulan, menurut hitungan hijriyah. Tempo haul (setahun) ini dihitung sejak permulaan sempurnanya nisab dan tetap utuh sampai akhir tahun, meski mungkin pada pertengahan tahun sempat berkurang. Jika pada akhir tahun, jumlah tersebut berkurang dan tidak mencapai nisab lagi, maka si pemilik tidak wajib menzakatinya. Ketentuan kepemilikan nisab secara utuh hingga akhir tahun ini dimaksudkan demi menghindari pengulangan dalam pembayaran zakat karena aturan untuk membersihkan zakat ini sama sekali tidak bermaksud memberatkan. Ketentuan haul ini hanya berlaku untuk harta produktif seperti harta perniagaan, ternak, simpanan, emas, perak, perhiasan dan lain-lain. Sedangkan harta lain seperti hasil bumi, buah-buahan, barang tambang, dan kekayaan laut diambil zakatnya setelah sempurna perkembangannya dan mencapai nisab tanpa menunggu haul. Begitu juga halnya al-mâl al-mustafâd, yaitu uang/kekayaan baru yang dimiliki seseorang dan belum dizakati sebelumnya. Artinya harta baru ini bukan dari produktifitas harta wajib zakat, namun sang pemilik mendapatkannya dari jalan yang terpisah dari harta wajib zakatnya seperti upah kerja, kompensasi, laba dadakan, dan hibah. Harta-harta jenis ini bila telah mencapai nisab wajib dizakati langsung saat mendapatkannya.

dari berbagai literatur…

Si orang kaya raya sebetulnya ingin membagi-bagikan zakatnya seperti orang-orang kaya lainnya dengan cara membagikan kupon zakat sehingga orang-orang miskin penerima zakat akan berbondong-bondong mengantri di depan gerbang rumah si orang kaya raya itu. Dengan begitu si orang kaya raya itu akan semakin harum namanya dan dikenal sebagai seorang yang dermawan di seluruh pelosok penjuru negeri, apalagi bilamana yang mengantri zakat sampai berdesak-desakan tak peduli ada yang pingsan atau meninggal dunia kehabisan nafas dan kepanasan.

Namun, si orang kaya raya tadi mengurungkan niatnya karena dengan cara begitu pengeluaran zakatnya akan sangat banyak sekali.

Alhasil, si orang kaya raya yang kemarin telah menjual sebuah rumahnya berikut ranjang usang, membeli sebuah rumah baru dari uang hasil penjualan ranjang usang. Dipikirnya, rumah karena fungsinya sebagai tempat tinggal tidaklah perlu dizakati. Demikian pula aneka perhiasan yang dikenakan keluarganya tidaklah perlu dizakati. Juga harta-hartanya yang lain yang berupa berbidang-bidang tanah di banyak tempat yang dimaksudkan untuk simpanan semata tidaklah perlu dizakati. Mobil-mobil mewah dan tidak mewah yang berjejer-jejer di garasi yang sudah melebihi kebutuhan masing-masing pribadi dalam keluarganya dan selebihnya merupakan koleksi dan kepameran semata dirasa tidak perlu dizakati.

Lagi-lagi si orang kaya raya itu menggunakan dalil pembenaran, lupa bahwa dia disebut kaya karena mempunyai kepemilikan harta yang lebih dari kebutuhannya. Namun, sebagaimana umumnya manusia selalu saja terlalu banyak yang diinginkannya, padahal tidak semua yang diinginkan oleh manusia tidaklah bisa disebut sebagai kecukupan kebutuhan. Sekalipun sudah mempunyai dua gunung emas manusia akan tetap mencari tambahan segunung lagi, dan lupa bahwa di dalam hartanya ada hak orang lain yakni hak para penerima zakat.

Yaa Rabb yang membolak-balikkan hati… Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar Lagi Maha Mengetahui…

Post to Twitter Post to Plurk Post to Facebook Send Gmail

25 thoughts on “Dalil Pembenaran: Saat Berzakat

  1. selamat hari raya idul fitri 1431 H (bagi yang merayakannya), bagi yang merayakannya dengan cara mudik ke kampung halaman, tetap hati-hati di jalan karena keluarga anda menanti anda…
    sekali lagi mohon maaf ya, mungkin ada tulisan di postingan saya yang tidak berkenan…

    salam,

  2. Dari Tabanan aku meminta dibukakan pintu maaf yang sebesar-besarnya apabila ada kata serta tulisan yang kurang berkenan semua itu karena kekhilafan saya sebagai manusia yang masih jauh dari sempurna.
    Taqabbalallahu minna wa minkum wa ja’alanallahu minal ‘aidin wal faizin
    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

  3. bener beh, zakat maal itungane pancen angel…
    tapi nek aku yo pokoke sudah mencapai nishab maka itu wajib dizakati…

    • sejauh ini saya belum mempelajari secara mendalam mengenai zakat profesi karena memang belum menemukan tuntunan tentang itu.
      menurut hemat saya, profesi kan menghasilkan pendapatan, dan berkumpul menjadi harta kepemilikan, ya itu yang harus dizakati… :-)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *