Dalil Pembenaran: Saling Memaafkan

Ramadhan telah usai. Saatnya lebaran -berasal dari kata lebar yang artinya selesai-. Banyak orang bergembira dengan caraya sendiri-sendiri. Ada yang menyambut dengan menggemakan takbir, ada yang tedur -memukul bedug dan kentongan di masjid bertalu-talu berirama-, ada yang menyiapkan masakan istimewa, ada yang menyiapkan pakaian baru yang istimewa. Banyak orang merasa lebih nyaman bila merayakan bersama anggota keluarga sehingga bagi yang hidup di perantauan pun berkeinginan kembali ke kampung halaman (baik desa maupun kota). Karena anggapan bahwa orang yang merantau di kota itu asalnya dari desa atau udik, disebutlah mudik. Entah sejak kapan tradisi mudik dimulai, yang jelas sejak ada orang yang merantau. Di Jawa, istilah mudik juga mengalami kekaprahan karena dipakai untuk menyebut orang yang kembali dari ibukota. Bisa jadi karena pemudik terbanyak dari sana… (haha)

Kekaprahan lain adalah tradisi mengaitkan Hari Raya Idul Fitri -yang biasa disebut lebaran-  itu dengan perilaku saling memaafkan sehingga terkesan bahwa Idul Fitri adalah hari spesial untuk bermaafan. Sejatinya, Idul Fitri adalah perayaan kemenangan setelah 1 bulan penuh berjuang mengendalikan hawa nafsu. Tentu saja bagi yang telah berjuang melawan nafsu, yang enggak berjuang ya biasa sajalah, nggak usah sok menang… :-D Bukannya nggak boleh saling memaafkan sih, tapi seharusnya saling memaafkan itu kan dilakukan kapan saja segera setelah berbuat kesalahan, ya to? Ada juga tradisi lain yang mengikuti perilaku orang orang sholeh terdahulu yaitu bersilaturahmi untuk meminta maaf menjelang masuk bulan Ramadhan dengan maksud agar jiwa menjadi lebih lapang pada saat beribadah di bulan suci itu. Itu sah-sah saja!

Anjurannya, pada Hari Raya Idul Fitri merayakan kemenangan dengan saling mengucapkan taqabballahu minna wa minkum -artinya: semoga Allah menerima amal kami dan amal kalian-, yang dibalas dengan ucapan taqabbal yaa kariim -artinya: terimalah ya Yang Maha Memberi-. Ucapan taqabbalallahu minna wa minkum biasa diucapkan Rasulullah kepada para sahabat. Beberapa sahabat menambahkan shiyamana wa shiyamakum, yang artinya puasaku dan puasa kalian. Jadi ucapan ini bukan dari Rasulullah, melainkan dari para sahabat.

Ada juga yang memberi ucapan minal ‘aidin wal faizin. Yang ini tidak pernah  dicontohkan. Namun sepertinya ucapan ini didasarkan pada anggapan bahwa mereka yang telah meraih kemenangan pada Idul Fitri ini dalah kembali ke fitrah, kembali menjadi bersih karena telah tersucikan noda-nodanya. Secara harfiyah minal ‘aidin wal faizin artinya bagian dari yang kembali dan menang, secara maknawi: semoga kita termasuk golongan yang kembali (maksudnya kembali pada fitrah) dan semoga kita termasuk golongan yang meraih kemenangan. Ini juga sah-sah saja! Kekaprahannya karena ucapan minal ‘aidin wal faizin biasa diikuti dengan kata maaf lahir batin sehingga terkesan itu adalah arti dari minal ‘aidin wal faizin padahal sama sekali bukan itu artinya.

Nah… apapun ucapan-ucapan pada Hari Idul Fitri ini, semuanya baik dan bermaksud baik. Mangga kersa bagi siapa saja yang ingin sesuai anjuran ataupun berimprovisasi sendiri. Tidak perlu dalil pembenaran atas ucapan-ucapan yang baik karena yang terpenting adalah keikhlasan dari diri kita masing-masing.

Update:

Sedikit tambahan, bilamana sedulur mencoba membuka Google Translate dan mencari terjemahan kata “sarapan” ke dalam bahasa Arab, maka sedulur akan menjumpai bunyi kata yang mirip dengan fitri yaitu إفطار …
Entah guyonan entah bukan, setelah tahu kata itu terbersit dalam pikiran saya bahwa Idul Fitri itu adalah hari sarapan dimana setelah sebulan berpuasa tidak melakukan sarapan pagi melainkan sahur di waktu dini hari, tibalah saatnya kita untuk KEMBALI SARAPAN… (mmm)

Akhirnya, saya dan keluarga mengucapkan Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1432H, taqabballahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum, minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin… Komplit kan??? :-D

repost dari tulisan tahun lalu!

Post to Twitter Post to Plurk Post to Facebook Send Gmail

Related Posts

50 thoughts on “Dalil Pembenaran: Saling Memaafkan

  1. Menone sekeluarga mengucapkan:
    Selamat Hari RAYA IDUL FITRI ………………………….MINAL AIDZIN WAL FAIDZIN MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN……………. salam persahabatan

  2. makasih atas arti dari makna kata2 itu mas…boleh disebarin donk biar tahun ini minimal mereka tahu/tambah pengetahuan khan?

  3. Memohon Maaf tak Menjadikan Kita Hina
    Memberi Maaf Jangan Membuat Kita Sombong
    Ada Kalanya Lisan Kurang Terjaga
    Mungkin Juga Ada Janji yang Terabaikan
    Hati yang Berprasangka atau Sikap yang Pernah Menyakitkan

    Terlanjur kata
    Terlampau Cara
    Satukan tangan Satukan hati
    Taqobalallahu Mina Wa minkum
    Taqobalallahu ya Karim
    Siamana wasiamakum

    SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI
    1 Syawal 1431 Hijriah

  4. maaf baru sempat ngucapin …
    sesuai dengan apa yg ada di tulisan …
    denuzz ucapin:
    Taqobbalallahu minna wa minkumm …

    semoga silaturahmin kita tetap terjaga sampai kapanpun …

    Salam BURUNG HANTU …

  5. yah…., katanya, kalo jaman nabi dulu, orang saling meminta maaf malah sebelum memasuki bulan ramadhan, agar bisa benar benar menjalankan ramadhan dengan dengan tenang dan khusuk,

  6. Yang hari ini sudah berlebaran, Alamendah mengucapkan:
    Taqoballahuminna wa minkum shiyamana wa shiyamakum wa kullu aamin bi khoir minal aizin walfaizin.
    Mohon maaf atas segala salah dan khilaf yang dilakukan.
    Selamat Idul Fitri 1432 H; Fitrikan Bumi, Fitrikan Diri.

    Buat yang masih berpuasa; “Met puasa. Sikat habis keberkahan yang tersisa hari ini!”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>