repost: politikana.com
Tahun 2004, di saat banyak orang mulai ramai membicarakan soal Pemilu untuk memilih wakil rakyat, gaung keramaian itu rupanya tidak cukup menarik minat warga Dusun Jengkol, Desa Kedungboto, Kec. Limbangan, Kab. Kendal. Warga dusun terpencil yang terletak di pojok selatan Kab. Kendal berbatasan dengan Kab. Temanggung, dengan jumlah penduduk sekitar 600 jiwa, terbagi dalam 144 KK ini memiliki kesadaran berpikir yang berbeda dalam berdemokrasi. Bagi mereka, seorang Kepala Dusun (Kadus) lebih penting perannya dibandingkan dengan Kepala Desa, Bupati, bahkan anggota DPR.
Dalam memilih seorang pemimpin dusun pun, mereka tidak melakukan cara-cara seperti di dusun-dusun yang lain, yang umumnya untuk memilih seorang Kadus harus ada dana ganti rugi karena warga harus meluangkan waktu untuk mengikuti pemilihan.
Yang terjadi justru sebaliknya…
Adalah seorang Mistari (sekarang 38 tahun), satu di antara 4 orang warga Dusun Jengkol yang berhasil lulus SMP, menjadi kandidat Kadus. Padahal, Mistari sendiri telah beberapa lama tinggal di perantauan di Kota Bandung, bahkan sudah berkeluarga di perantauan. Rupanya warga Jengkol mengharapkan seorang pemimpin yang bisa mengayomi warga, serta berpikiran maju untuk membangun desa. Maklumlah, Dusun Jengkol cukup terisolir. Dipisahkan oleh sungai yang cukup besar, tidak ada jembatan, jalanan berbatu yang sulit dilewati, bahkan di musim hujan seringkali Dusun Jengkol benar-benar terisolir karena tidak ada sarana transportasi yang bisa menyeberangi sungai.

Dari hasil kesepakatan yang dilakukan dalam beberapa rembug dusun, berangkatlah beberapa tokoh masyarakat menuju ke Kota Bandung untuk menemui Mistari dan meminta agar Mistari berkenan kembali ke desa untuk menerima amanat sebagai Kadus. Kunjungan pertama tidak membuahkan hasil, mereka pulang dengan tangan hampa karena Mistari menyatakan tidak sanggup untuk melaksanakan amanat tersebut. Pada kunjungan selanjutnya, warga Dusun Jengkol terpaksa melibatkan orang tua Mistari untuk meluluhkan hati Mistari agar bersedia menerima amanat kepemimpinan. Walhasil, Mistari pun akhirnya bersedia, dan pulanglah Mistari beserta anak dan istrinya, boyong kembali dusun terpencil tersebut. Kedatangan Mistari di kampung halaman disambut warga dengan penuh gembira, haru, dan berharap. Seketika itu Mistari menangis dan suasana haru menyelimuti warga yang hadir menyambut kedatangan Mistari. Masih dalam keharuan, Mistari pun dengan suara yang terisak menguatkan pernyataan kesanggupannya.
Kesanggupan saja ternyata tidak memuluskan jalan Mistari untuk menjadi pemimpin dusun. Berbagai persyaratan administratif menuntut tersedianya dana yang cukup yang ternyata Mistari tidak sanggup memenuhinya. Kembali warga Dusun Jengkol menyatakan bahwa ketidak-mampuan Mistari untuk memenuhi persyaratan administratif sudah mereka pikirkan. Warga Dusun Jengkol bergotong-royong, mengumpulkan sepuluh ribu rupiah setiap kepala keluarga.
Sekarang Mistari telah menjadi seorang pemimpin dusun terpencil dengan tanggung jawab yang sangat besar karena keterpinggiran dusunnya.
Beberapa prestasi telah diraih, diantaranya telah berhasil dibangun instalasi air bersih untuk kebutuhan warga Dusun Jengkol. Namun, sampai saat ini belum berhasil mengusulkan kepada pemerintah agar dibangun jembatan guna memperlancar transportasi yang nantinya akan memacu perkembangan perekonomian.
—–
Diangkat dari kisah nyata warga Dusun Jengkol, oleh Arifin al Indandit (081326942797), pegiat Persyarikatan Sekolah Rakyat, Kendal, Jateng.






Wahhh…
Mungkin yang seperti ini yang harus dilaksanakan di Indonesia kali ya? Pemimpin bukanlah dipilih tapi diminta, kan sudah ada di Pasal 4 Pancasila :
Sepertinya disitu ga ada kata-kata dipilih atau yang menyiratkan dipilih secara langsung…
ãñÐrî ñâwáwï´s last blog post..Seutas Do’a Untuk Keponakanku : Ayu Riza Fatimah & Suyudi
Lha karena ada perwakilan itulah trus diadaken pemilihan wakil

Lama-lama jadi wakil dianggap sebagai pekerjaan, trus karena jadi wakil itu ternyata uenake polll, mendapat banyak fasilitas, akhirnya pada berebut dan berjejeralah para wakil yang terdiri dari orang2 yang haus kekuasaan, yang sangat menginginkan jabatan, kedudukan… bukan orang2 yang benar2 diinginkan rakyat untuk mewakili dan memimpin…
ah mbuh ah…
Andy MSE menampilkan tulisan… Tulisan ke 200
Heheheee… aku malah melu mumet ikih…
Trus bagaimana dengan pilpres kang?
ãñÐrî ñâwáwï menampilkan tulisan… Seutas Do’a Untuk Keponakanku : Ayu Riza Fatimah & Suyudi
kemaren ada di jawapos,
di negara mana ya tepate aku lupa. seorang caleg itu justru malah disumbang oleh konstituen yang mendukungnya, bukan seperti di indonesia, caleg membeli suara. :)
denologis menampilkan tulisan… Belajar Njowotenan
saia pernah dengar sebuah ulasan di India, ada seorang caleg yang dipilih oleh oleh penduduknya dan bahkan semua biaya kampanye termasuk pencalonan dibayari oleh penduduk yang disana, dari situ tersirat akan sebuah pemikiran dari saia sendiri sebagai warga negara yang (berusaha) baik, seandainya caleg yang ada di Indonesia ini seperti itu, aku yakin.. semua kebobrokan pasti akan dilibas…
gajah_pesing´s last blog post..Amazing or Simulating ?
Betul… sayang sekali sekarang dewan perwakilan rakyat banyak diisi oleh orang-orang yang ingin, bukan orang-orang yang diinginkan… hhhh…
woh masih ada hal seperti ini, keren keren
cerita yang menarik mas
semoga segera mendapat tanggapan dari pemerintah
Hari ini pencontrengannya nih…
Kita tunggu hasilnya…
Wah kok ada yang namanya dusun jengkol. Dusun pete ada gak ya?
Pondokku
erik94979 menampilkan tulisan… Quick count prediksi hasil pemilu 2009
Ra urusan…. ora mudeng
masHendri_cakep menampilkan tulisan… WordPress University
didadekke crito pilem wae kayake menarik kuwi…based on true story…
tukang Nggunem menampilkan tulisan… ngoyoworo
suatu negara akan benar-benar berjaya jika pemimpinnya diajukan rakya bukan mengajukan diri.
mistari dicalonkan oleh warga dengan bukti ikut menyumbang uang untuk melengkapi adminstrasi persyaratan menjadi calon kepala desa
dafhy menampilkan tulisan… Hitam putih Pemilu
kayaknya perlu dicontoh di Indonesa nih
meylya menampilkan tulisan… Plurk Wabah Atau Trend?