Facebook Untuk Anak?

Facebook bukan untuk anak-anak!Tentu saja tidak!

Sudah jelas tertulis di Ketentuan Layanan Facebook (Statement of Rights and Responsibilities ~ Date of Last Revision: April 26, 2011) pada poin 4.5. (Registration and Account Security) “You will not use Facebook if you are under 13”. Akan tetapi dua kalimat yakni “Facebook membantu Anda terhubung dan berbagi dengan orang-orang dalam kehidupan Anda” dan “Gratis, sampai kapan pun” rupanya telah membius jutaan orang untuk menggunakan Facebook. Kemudahan penggunaannya juga mempesona karena bisa digunakan dengan berbagai peralatan mulai dari desktop, laptop, tablet, dan banyak macam peralatan mobile lainnya, dari yang canggih-canggih sampai yang sederhana yang menggunakan mode text sekalipun. Bahkan mendaftar Facebook pun sekarang tidak harus memiliki email melainkan cukup berbekal nomor seluler saja. (thinking)

Sayangnya tidak semuanya penggunanya sudah cukup umur sesuai ketentuan layanan, namun banyak juga yang masih di bawah umur.

Mengapa mereka yang di bawah umur juga tertarik menggunakan Facebook? Bisa jadi ada bermacam-macam sebab, bisa jadi karena ikut-ikutan atau ingin gaul, bisa karena games yang menarik yang ada di Facebook, dan lain-lain.

Celakanya, ada orang dewasa (bahkan orang tua sendiri) yang malahan membuatkan akun Facebook untuk anaknya yang belum tigabelas tahun. Alasannya bermacam-macam misalnya; lebih gampang berkomunikasi dengan, mengawasi perilaku online, dan lain sebagainya.

Beberapa hari lalu di Internet For Kids berdatangan beberapa anak SD dari desa sebelah. Mereka ingin diajari cara mendaftar Facebook. Tentu saja ditolak oleh pengelola karena mereka belum cukup umur. Namun mereka ngotot ingin membuat akun Facebook karena disuruh oleh gurunya agar bisa berkomunikasi berkaitan dengan pelajaran, mengirimkan tugas secara online, sekaligus sebagai tugas pelajaran TIK.

Payah! (doh)

Idealnya, tujuan yang baik harus dilakukan dengan cara yang tidak melanggar ketentuan.

Bagaimana mengatasi agar Facebook tidak digunakan oleh anak di bawah umur ketentuan?

Tentu saja pengawasan orang tua yang diperlukan. Namun, anak-anak jaman sekarang yang sebegitu gaulnya, menjadi sangat sulit diawasi perilaku online-nya. Satu akun diawasi, mereka bisa saja dalam beberapa menit membuat akun baru.

Sebetulnya ada sih beberapa pilihan sosial media yang dikhususkan utuk anak-anak dengan pengawasan orang tua, misalnya seperti gambar berikut ini.

Namun, kepopulerannya yang sangat jauh di bawah Facebook membuat anak-anak jarang menggunakannya. Lagi pula, tidak semua layanan juga “gratis sampai kapanpun”… :-D

Di Internet For Kids, sama seperti di tempat-tempat lain, banyak dijumpai pengguna Facebook yang masih di bawah umur ketentuan. Mereka belajar dengan sangat cepat untuk bisa membuat akun sendiri mulai dari email, sampai layanan-layanan lain termasuk Facebook. Tentu saja amat jarang sekali mereka membaca dengan cermat “Ketentuan Layanan” dari masing-masing aplikasi yang digunakan.

Yang tua aja jarang baca, apalagi anak-anak… :-P

Nah, karena terlalu sulit diatasinya penggunaan yang melanggar ketentuan tersebut, di Internet For Kids dibentuk komunitas pengguna Facebook anak-anak. Kebanyakan dari mereka hanya menggunakan Facebook untuk nge-game. Tak dipungkiri, banyak games di Facebook yang cukup baik, menarik, dan layak dimainkan anak-anak. Daripada keinginan nge-game mereka tak tersalur dan pada akhirnya disalurkan secara sembarangan tanpa memperhatikan resiko, komunitas ini berusaha menyalurkan dengan penuh pengawasan. Anggota komunitas adalah anak-anak yang terdaftar di Internet For Kids yang datanya  diperoleh pada saat jam gratisan. Ada salah satu email yang dijadikan email primer yang digunakan untuk membantu anak-anak bila lupa password. Siapa teman mereka dan apa saja aktifitasnya akan diawasi terus-menerus.

Dan pada akhirnya, pengelola Internet For Kids mendapatkan kesibukan baru yaitu menjadi teman nge-game anak-anak itu, hehehe…. (morning)

Tapi, untuk sementara ini aktifitas nge-game agak dikurangi dulu… Minggu ini sedang ada test semesteran untuk anak-anak SD di sekitar Internet For Kids. :-)

Bagaimana pendapat sedulur? Ada yang punya solusi yang lebih baik? Share di sini dong! :-)

Post to Twitter Post to Plurk Post to Facebook Send Gmail

22 thoughts on “Facebook Untuk Anak?

  1. Agha punya juga, hanya yang pegang akunnya tentu orang tuanya. Dibuat sekedar untuk mengelompokkan foto-foto dia di facebook. Suatu hari nanti akunnya akan diberikan ke Agha, tentu kalau sudah cukup umur (cukup umur versi orang tua dan atau facebook).

  2. uyis kelas 2 sd. njaluk digawekke… ning tak omongi anak sd gak boleh, suk nek smp wae
    sayangnya ponakanku yang baru kelas 5 punya fb. anakku jadi punya alasan. Tp ttp tak ulur2. Nanti lah…

  3. Pingback: Facebook Untuk Anak Andy Mse Kecakot | Tempat Wisata Indonesia

  4. Seandainya saja FB seperti awal keberadaannya: harus dapat invitation dari teman, maka sepertinya kejadian-kejadian kriminalitas ataupun cyber bully kepada anak-anak enggak akan terjadi …

    kalau dari dulu semua sepakat “harus SMA yang boleh facebook-an” maka enggak akan begini jadinya … anak SD pun akan mengerti (tanpa harus baca ketentuan) …

  5. Wah, ternyata anak SD pun juga ada yang ngotot ingin punya FB. Ngeyel banget itu anak, sudah tidak diijinkan tapi masih ngotot saja (yah, itulah namanya anak kecil selalu punya rasa ingin TAHU yang besar).

  6. Ciamik Pak andy solusinya,,

    Sementara itu yang terbaik,,, disuruh mikir solusi saya buntet pak,,,
    SUkses terus buat IFK nya

  7. wah itu gurunya ampe juga yg minta, brarti juga kurang ngeh ya :D. btw, ternyata ada pilihan lain socmed aman utk anak, togethervile, baru tau Om.
    mengenai definisi anak, mgkn SD msh terdefini anak ya, smp remaja yg butuh diawasi, dan sma abg yg butuh ditemani :D hehehe

  8. TERBAIK!! karena anak anak sudah terlanjur punya facebook jadi dibuatkan komunitas pengguna facebook bawah umur, dengan pengawasan!! salut buat IFK!

  9. Mas bro, ciptain aja FBK (face book kids) yg isinya game untuk mereka n siapa tahu ntar bs bersaing ma fb? Gimana.

  10. guru SD-nya ngasih tugas kurang bijak, jangan-jangan malah buta IT. Alih-alih upgrade tentang skill IT. Ngurus Instrumen Belajar aja banyak yang bingung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *