Fakta di Balik Kriminalisasi KPK, dan Keterlibatan SBY

Anonimous yang Mengganggu

cicak vs buayaAnonimous memang menjadi bagian tak terpisahkan dari dunia internet. Itu hal yang lumrah dan wajar-wajar saja, karena internet adalah dunia maya yang luas hampir-hampir tak terbatas. Namun, bilamana anonimous  digunakan secara tidak tepat tentunya akan terasa mengganggu. Nah, baru-baru ini ketika saya membuka sebuah milis, ada yang berbagi link dan mempertanyakan, “Apakah yang seperti ini termasuk pelanggaran terhadap UU ITE ~yang pasal 27 ayat 3-nya ditolak oleh banyak kalangan~?”…

Bukan soal pasalnya, juga bukan soal blog-nya, melainkan validitas informasi yang disampaikan di blog itu…

Inilah tulisan yang 100% saya copy-paste berikut sumber aslinya:

Oleh : Rina Dewreight

Apa yang terjadi selama ini sebetulnya bukanlah kasus yang sebenarnya, tetapi hanya sebuah ujung dari konspirasi besar yang memang bertujuan mengkriminalisasi institusi KPK. Dengan cara terlebih dahulu mengkriminalisasi pimpinan, kemudian menggantinya sesuai dengan orang-orang yang sudah dipilih oleh “sang sutradara”, akibatnya, meskipun nanti lembaga ini masih ada namun tetap akan dimandulkan.Agar Anda semua bisa melihat persoalan ini lebih jernih, mari kita telusuri mulai dari kasus Antasari Azhar. Sebagai pimpinan KPK yang baru, menggantikan Taufiqurahman Ruqi, gerakan Antasari memang luar biasa. Dia main tabrak kanan dan kiri, siapa pun dibabat, termasuk besan Presiden SBY.

Antasari yang disebut-sebut sebagai orangnya Megawati (PDIP), ini tidak pandang bulu karena siapapun yang terkait korupsi langsung disikat. Bahkan, beberapa konglomerat hitam — yang kasusnya masih menggantung pada era sebelum era Antasari, sudah masuk dalam agenda pemeriksaaanya.

Tindakan Antasari yang hajar kanan-kiri, dinilai Jaksa Agung Hendarman sebagai bentuk balasan dari sikap Kejaksaan Agung yang tebang pilih, dimana waktu Hendraman jadi Jampindsus, dialah yang paling rajin menangkapi Kepala Daerah dari Fraksi PDIP. Bahkan atas sukses menjebloskan Kepala Daerah dari PDIP, dan orang-orang yang dianggap orangnya Megawati, seperti ECW Neloe, maka Hendarman pun dihadiahi jabatan sebagai Jaksa Agung.

Setelah menjadi Jaksa Agung, Hendarman makin resah, karena waktu itu banyak pihak termasuk DPR menghendaki agar kasus BLBI yang melibatkan banyak konglomerat hitam dan kasusnya masih terkatung –katung di Kejaksaan dan Kepolisian untuk dilimpahkan atau diambilalih KPK. Tentu saja hal ini sangat tidak diterima kalangan kejaksaan, dan Bareskrim, karena selama ini para pengusaha ini adalah tambang duit dari para aparat Kejaksaan dan Kepolisian, khususnya Bareskrim. Sekedar diketahui Bareskrim adalah supplier keungan untuk Kapolri dan jajaran perwira polisi lainnya.

Sikap Antasari yang berani menahan besan SBY, sebetulnya membuat SBY sangat marah kala itu. Hanya, waktu itu ia harus menahan diri, karena dia harus menjaga citra, apalagi moment penahanan besannya mendekati Pemilu, dimana dia akan mencalonkan lagi. SBY juga dinasehati oleh orang-orang dekatnya agar moment itu nantinya dapat dipakai untuk bahan kampanye, bahwa seorang SBY tidak pandang bulu dalam memberantas korupsi. SBY terus mendendam apalagi, setiap ketemu menantunya Anisa Pohan , suka menangis sambil menanyakan nasib ayahnya.

Dendam SBY yang membara inilah yang dimanfaatkan oleh Kapolri dan Jaksa Agung untuk mendekati SBY, dan menyusun rencana untuk “melenyapkan” Antasari. Tak hanya itu, Jaksa Agung dan Kapolri juga membawa konglomerat hitam pengemplang BLBI [seperti Syamsul Nursalim, Agus Anwar, Liem Sioe Liong, dan lain-lainnya), dan konglomerat yang tersandung kasus lainnya seperti James Riyadi (kasus penyuapan yang melibatkan salah satu putra mahkota Lippo, Billy Sindoro terhadap oknun KPPU dalam masalah Lipo-enet/Astro, dimana waktu itu Billy langsung ditangkap KPK dan ditahan), Harry Tanoe (kasus NCD Bodong dan Sisminbakum yang selama masih mengantung di KPK), Tommy Winata (kasus perusahaan ikan di Kendari, Tommy baru sekali diperiksa KPK), Sukanto Tanoto (penggelapan pajak Asian Agri), dan beberapa konglomerat lainnya].

Para konglomerat hitam itu berjanji akan membiayai pemilu SBY, namun mereka minta agar kasus BLBI , dan kasus-kasus lainnya tidak ditangani KPK. Jalur pintas yang mereka tempuh untuk “menghabisi Antasari “ adalah lewat media. Waktu itu sekitar bulan Februari- Maret 2008 semua wartawan Kepolisian dan juga Kejaksaan (sebagian besar adalah wartawan brodex – wartawan yang juga doyan suap) diajak rapat di Hotel Bellagio Kuningan. Ada dana yang sangat besar untuk membayar media, di mana tugas media mencari sekecil apapun kesalahan Antasari. Intinya media harus mengkriminalisasi Antasari, sehingga ada alasan menggusur Antasari.

Nyatanya, tidak semua wartawan itu “hitam”, namun ada juga wartawan yang masih putih, sehingga gerakan mengkriminalisaai Antasari lewat media tidak berhasil.

Antasari sendiri bukan tidak tahu gerakan-gerakan yang dilakukan Kapolri dan Jaksa Agung yang di back up SBY untuk menjatuhkannya. Antasari bukannya malah nurut atau takut, justeru malah menjadi-hadi dan terkesan melawan SBY. Misalnya Antasari yang mengetahui Bank Century telah dijadikan “alat” untuk mengeluarkan duit negara untuk membiayai kampanye SBY, justru berkoar akan membongkar skandal bank itu. Antasari sangat tahu siapa saja operator –operator Century, dimana Sri Mulyani dan Budiono bertugas mengucurkan duit dari kas negara, kemudian Hartati Mudaya, dan Budi Sampurna, (adik Putra Sanpurna) bertindak sebagai nasabah besar yang seolah-olah menyimpan dana di Century, sehingga dapat ganti rugi, dan uang inilah yang digunakan untuk biaya kampanye SBY.

Tentu saja, dana tersebut dijalankan oleh Hartati Murdaya, dalam kapasitasnya sebagai Bendahara Paratai Demokrat, dan diawasi oleh Eddy Baskoro plus Djoko Sujanto (Menkolhukam) yang waktu itu jadi Bendahara Tim Sukses SBY. Modus penggerogotan duit Negara ini biar rapi maka harus melibatkan orang bank (agar terkesan Bank Century diselamatkan pemerintah), maka ditugaskan lah Agus Martowardoyo (Dirut Bank Mandiri), yang kabarnya akan dijadikan Gubernur BI ini. Agus Marto lalu menyuruh Sumaryono (pejabat Bank Mandiri yang terkenal lici dan korup) untuk memimpin Bank Century saat pemerintah mulai mengalirkan duit 6,7 T ke Bank Century.

Antasari bukan hanya akan membongkar Century, tetapi dia juga mengancam akan membongkar proyek IT di KPU, dimana dalam tendernya dimenangkan oleh perusahaannya Hartati Murdaya (Bendahara Demokrat). Antasari sudah menjadi bola liar, ia membahayakan bukan hanya SBY tetapi juga Kepolisian, Kejaksaan, dan para konglomerat , serta para innercycle SBY. Akhirnya Kapolri dan Kejaksaan Agung membungkam Antasari. Melalui para intel akhirnya diketahui orang-orang dekat Antasari untuk menggunakan menjerat Antasari.

Orang pertama yang digunakan adalah Nasrudin Zulkarnaen. Nasrudin memang cukup dekat Antasari sejak Antasari menjadi Kajari, dan Nasrudin masih menjadi pegawai. Maklum Nasrudin ini memang dikenal sebagai Markus (Makelar Kasus). Dan ketika Antasari menjadi Ketua KPK, Nasrudin melaporkan kalau ada korupsi di tubuh PT Rajawali Nusantara Indonesia (induk Rajawali Putra Banjaran). Antasari minta data-data tersebut, Nasrudin menyanggupi, tetapi dengan catatan Antasari harus menjerat seluruh jajaran direksi PT Rajawali, dan merekomendasarkan ke Menteri BUMN agar ia yang dipilih menjadi dirut PT RNI, begitu jajaran direksi PT RNI ditangkap KPK.

Antasari tadinya menyanggupi transaksi ini, namun data yang diberikan Nasrudin ternyata tidak cukup bukti untuk menyeret direksi RNI, sehingga Antasari belum bisa memenuhi permintaan Nasrudin. Seorang intel polsi yang mencium kekecewaan Nasrudin, akhirnya mengajak Nasrudin untuk bergabung untuk melindas Antasari. Dengan iming-iming, jasanya akan dilaporkan ke Presiden SBY dan akan diberi uang yang banyak, maka skenario pun disusun, dimana Nasrudin disuruh mengumpan Rani Yulianti untuk menjebak Antasari.

Rupanya dalam rapat antara Kapolri dan Kejaksaan, yang diikuti Kabareskrim. melihat kalau skenario menurunkan Antasari hanya dengan umpan perempuan, maka alasan untuk mengganti Antasari sangat lemah. Oleh karena itu tercetuslah ide untuk melenyapkan Nasrudin, dimana dibuat skenario seolah yang melakukan Antasari. Agar lebih sempurna, maka dilibatkanlah pengusaha Sigit Hario Wibisono. Mengapa polisi dan kejaksaan memilih Sigit, karena seperti Nasrudin, Sigit adalah kawan Antasari, yang kebetulan juga akan dibidik oleh Antasari dalam kasus penggelapan dana di Departemen Sosial sebasar Rp 400 miliar.

Sigit yang pernah menjadi staf ahli di Depsos ini ternyata menggelapakan dana bantuan tsunami sebesar Rp 400 miliar. Sebagai teman, Antasari, mengingatkan agar Sigit lebih baik mengaku, sehingga tidak harus “dipaksa KPK”. Nah Sigit yang juga punya hubungan dekat dengan Polisi dan Kejaksaan, mengaku merasa ditekan Antasari. Di situlah kemudian Polisi dan Kejaksaan melibatkan Sigit dengan meminta untuk memancing Antasari ke rumahnya, dan diajak ngobrol seputar tekana-tekanan yang dilakukan oleh Nasrudin. Terutama, yang berkait dengan “terjebaknya: Antasari di sebuah hotel dengan istri ketiga Nasrudin.

Nasrudin yang sudah berbunga-bunga, tidak pernah menyangka, bahwa akhirnya dirinyalah yang dijadikan korban, untuk melengserkan Antasari selama-laamnya dari KPK. Dan akhirnya disusun skenario yang sekarang seperti diajukan polisi dalam BAP-nya. Kalau mau jujur, eksekutor Nasrudin buknalah tiga orang yangs sekarang ditahan polisi, tetapi seorang polisi (Brimob ) yang terlatih.

Bibit dan Chandra. Lalu bagaimana dengan Bibit dan Chandra? Kepolisian dan Kejaksaan berpikir dengan dibuinya Antasari, maka KPK akan melemah. Dalam kenyataannya, tidak demikian. Bibit dan Chandra , termasuk yang rajin meneruskan pekerjaan Antasari. Seminggu sebelum Antasari ditangkap, Antasari pesan wanti-wanti agar apabila terjadi apa-apa pada dirinya, maka penelusuran Bank Century dan IT KPU harus diteruskan.

Itulah sebabnya KPK terus akan menyelidiki Bank Century, dengan terus melakukan penyadapan-penyadapan. Nah saat melakukan berbagai penyadapan, nyangkutlah Susno yang lagi terima duit dari Budi Sammpoerna sebesar Rp 10 miliar, saat Budi mencairkan tahap pertama sebasar US $ 18 juta atau 180 miliar dari Bank Century. Sebetulnya ini bukan berkait dengan peran Susno yang telah membuat surat ke Bank Century (itu dibuat seperti itu biar seolah–olah duit komisi), duit itu merupakan pembagian dari hasil jarahan Bank Century untuk para perwira Polri. Hal ini bisa dipahami, soalnya polisi kan tahu modus operansi pembobolan duit negara melalui Century oleh inner cycle SBY.

Bibit dan Chandra adalah dua pimpinan KPK yang intens akan membuka skandal bank Bank Century. Nah, karena dua orang ini membahayakan, Susno pun ditugasi untuk mencari-cari kesalahan Bibit dan Chandra. Melalui seorang Markus (Eddy Sumarsono) diketahui, bahwa Bibit dan Chandra mengeluarkan surat cekal untuk Anggoro. Maka dari situlah kemudian dibuat Bibit dan Chandra melakukan penyalahgunaan wewenang.

Nah, saat masih dituduh menyalahgunakan wewenang, rupanya Bibit dan Chandra bersama para pengacara terus melawan, karena alibi itu sangat lemah, maka disusunlah skenario terjadinya pemerasan. Di sinilah Antasari dibujuk dengan iming-iming, ia akan dibebaskan dengan bertahap (dihukum tapi tidak berat), namun dia harus membuat testimony, bahwa Bibit dan Chandra melakukan pemerasan.

Berbagai cara dilakukan, Anggoro yang memang dibidik KPK, dijanjikan akan diselsaikan masalahnya Kepolisian dan Jaksa, maka disusunlah berbagai skenario yang melibatkanAnggodo, karena Angodo juga selama ini sudah biasa menjadi Markus. Persoalan menjadi runyam, ketika media mulai mengeluarkan sedikir rekaman yang ada kalimat R1-nya. Saat dimuat media, SBY konon sangat gusar, juga orang-orang dekatnya, apalagi Bibit dan Chandra sangat tahu kasus Bank Century. Kapolri dan Jaksa Agung konon ditegur habis Presiden SBY agar persoalan tidak meluas, maka ditahanlah Bibit dan Chandra ditahan. Tanpa diduga, rupanya penahaan Bibit dan Chandra mendapat reaksi yang luar biasa dari publik maka Presiden pun sempat keder dan menugaskan Denny Indrayana untuk menghubungi para pakar hokum untuk membentuk Tim Pencari Fakta (TPF).

Demikian, sebetulnya bahwa ujung persoalan adalah SBY, Jaksa Agung, Kapolri, Joko Suyanto, dan para kongloemrat hitam, serta innercycle SBY (pengumpul duit untk pemilu legislative dan presiden). RASANYA ENDING PERSOALAN INI AKAN PANJANG, KARENA SBY PASTI TIDAK AKAN BERANI BERSIKAP. Satu catatan, Anggoro dan Anggodo, termasuk penyumbang Pemilu yang paling besar.

Jadi mana mungkin Polisi atau Jaksa, bahkan Presiden SBY sekalipun berani menagkap Anggodo!

copy-paste dari: http://faktakriminalisasi.wordpress.com

Uneg-uneg dalam diri saya masih sama dengan uneg-uneg di milis itu, “Apakah yang disampaikan dalam blog itu mempunyai landasan yang cukup sehingga informasi yang dipublikasikan dapat dipertanggungjawabkan?”… Pertanyaan lain adalah, ” Siapakah Rina Dewreight atau dreweight yang menulis itu? Mengapa tidak berani menunjukkan jati diri-nya?”… Saya tetap merasa bahwa anonimous adalah perilaku yang tidak sehat. Apalagi, sekilas melihat blognya, sepertinya baru dibuat dan hanya ada satu tulisan sebagai teman Hello world!(doh)

Anonimous memang bisa menimbulkan banyak persepsi, dan kita harus pandai-pandai menyikapi…

Post to Twitter Post to Plurk Post to Facebook Send Gmail

Related Posts

88 thoughts on “Fakta di Balik Kriminalisasi KPK, dan Keterlibatan SBY

  1. siall..teori konspirasi macem ini yang sering bikin gemas sekaligus cemas…seandainya semua itu benar dan bisa dibuktikan, negara macem apa yang kita tinggali ini???
    .-= sedulur Tukang Nggunem menampilkan tulisan..Sang Pembisik =-.

  2. tadinya mo ngomentari tentang kasus CakBuy, tapi karena di akhir postingan pertanyaannya tentang anonimous ya ga jadi deh (ninja) kalo Rina Dewreight beneran saya ga tau sapa dia suwerrrr……. (lmao) .-= sedulur katakataku menampilkan tulisan..Maafkan Aku =-.

    • @katakataku, CakBuy-nya nggak penting, mas Addie! itu bukan topik utama saya! anonimus-lah yang menjadi keprihatinan, apakah itu sehat ataukah enggak…. menurut saya sih kurang sehat…
      saya pribadi, kalau berani ngomong ya berani tanggungjawab… (LOL)

  3. Ada pepatah lama yang mengatakan…, “Jangan lihat siapa yang bicara.., tapi dengar apa yang dikatakannya…” Kebenaran tetaplah kebenaran sekalipun setan belang yang mengatakannya… Sebaliknya.., sepandai-pandainya menyimpan bangkai.., baunya akan tercium juga…”

    Walaupun tak cukup data yang saya miliki.., namun saya punya kesimpulan yang sama… ini terkait dengan aliran dana untuk membiayai kampanye pilpres salah satu capres…

    Lagi pula.., siapa yang mau bertanggung jawab atas keselamatan Rina Dewreight atau dreweight jika dia membuka iidentitasnya yang sesungguhnya… Bahkan Prita Mulyasari pun sampai saat ini masih dituntut 6 bulan oleh jaksa karena kasus pencemaran nama baik…

    Jadi jangan juga terlalu naif dengan mempertanyakan siapakah Rina Dewreight atau dreweight…

      • saya pernah mendapatkan petuah dari Kyai Zakaria dari Pekalongan tentang takzim terhadap ilmu…
        silahkan menyimak http://andy.web.id/sarung-kyai.php
        pak kyai itu juga mengulang perkataan Ali bin Abi Thalib, tetapi, tentu saja memberi batasan bahwa sumber2 ilmu itu jelas dan teruji… bilamana tidak jelas, bisa saja dipelajari lebih lanjut…
        jadi, sah-sah saja bilamana saya tidak percaya pada informasi yang disampaikan Rina Dewreight… :-)

        • @Andy MSE,
          Setuju Kang…
          Oleh karena itu yang lebih penting pada konten muatannya… Bukankah kita bisa menggunakan aqli/akal untuk menganalisa kebenaran atau ketidakbenarannya dan bukan malah mempersoalkan siapa yang menyampaikannya…
          Sehingga ada alasan yang lebih cerdas dan logis ketimbang hanya karena kita tidak tahu siapa yang bicara.

          Apalagi di dunia blogosphere sekalipun data pribadinya jelas tidak lantas ada jaminan bahwa informasinya valid. Karena yang paling sulit justru bukan mengetahui siapa yang menulis, tapi apa sesungguhnya niyat dibalik setiap tulisan.

          Setidaknya Rina membuat postingan itu tidak hanya karena sekedar niyat untuk nembak keywords untuk menaikan traffic blognya… (lmao) .-= sedulur Love4Live menampilkan tulisan..Tips Mengembalikan Notification Area Applet Yang Hilang di Ubuntu 9.10 Karmic Koala =-.

  4. Mungkin dia seperti “deepthrough” (cari aja istilah itu di wikipedia) sewaktu jaman nixon dengan skandal watergate-nya. (dance) kok saya jadi exited yah. Semoga indonesia berakhir bahagia seperti di filem all president’s men. :)) all the best for indonesia!

  5. Aniwey maksud exited itu karena ceritannya too good to be true. Wah kalow memang bener pasti bakal laku dibikin fìlem. Pasti menang oskar dah. Hehe (LOL) kategori best true story. Kira2 judulnya apa yah? Setelah “ketika cicak bersaksi”. Mungkin “sayat-sayat citra”… (lmao)

  6. semua semakin jelas sekarang sejak Anggodo ditahan. Seharusnya tuduhan pemerasan yang dituduhkan kepada Bibit-Chandra gugur dengan sendirinya karena Anggodo ditahan salah satunya karena dugaan penyuapan
    .-= sedulur oglek menampilkan tulisan..Berharap Pada Copenhagen =-.

  7. Hmmmmm…Benar-benar negara kita ini sudah bobrok. Kalo tulisan di atas benar, maka negara kita termasuk negara yang benar-benar hancur. Masa pemimpin negaranya mau disuap buat menghancurkan salah satu penegak hukum yang mengatasi korupsi? Berarti sekarang memang sudah tidak ada lagi Pancasila.
    .-= sedulur Next Jimbun Punya menampilkan tulisan..Akhir dari masalah koneksi di linux mint =-.

  8. Semua org boleh bercerita, tapi kalau tanpa fakta, biar saja itu jadi sebuah ceita. Adalah bodoh kalau sebuah cerita yg dianalisa sulit masuk logika malah karena asik bagi telinga, kita jadikan fakta.
    Yg pasti, setiap perkataan yg kita kalimatkan, pasti akan kita pertanggungjawabkan dihadapan Tuhan. Selama kita nggak lihat fakta, jgn mau ikut menghakimi. Sekarang ini banyak org yg kecdewa krn kehilangan kesempatan menikmati kuasa dan kesempatan, menjadi larut dalam hiruk pikuk mengumpat, caci maki sana sini, sebar isu dsb. Semua kita sepakat, setiap korupsi dan konspirasi yg merugikan rakyat dan negara, harus dibabat habis, tapi itu juga berlaku bagi para provokator yg cuma bisanya menggonggong dibalik nama samaran. Negeri ini membutuhkan org yg berrani berdiri didepan barisan, bicara lantang memperjuangkan kebenaran.

    • @Hendrik,
      berdiri di depan barisan?
      barisan yang mana?
      wakakakakak…
      yang ada cuma barisan pengecut, oportunis, pragmatis dan safety player…
      abis bicara di depan barisan… barisannya kabur cari selamat sendiri2…
      kecuali memang barisannya orang2 yang mau sungguh2 berjuang tanpa pamrih untuk bangsa dan negara ini…

      lagian tak ada yang memaksa siapapun untuk membaca apalagi percaya tulisan Rina Dewreight atau dreweight. Percaya syukur…, gak percaya ya gak papa…
      negara kucluk ya harus disikapi dengan kucluk juga…

  9. Wah kayak film aja, gampang banget ngelakoninnya. Biasanya tulisan seperti ini ditulis oleh orang-orang yg frustasi dan pengecut. Kalau benar tulisannya, seharusnya berani maju, apalgi kita semua mendambakan negaa yg bersih dan kredibel dengan munculnya org-org yg perduli dan berani. Apa artinya tulisan spt ini kalau cuma ditulis seperti sebuah uneg-uneg.

  10. UU ITE memang senjata paling ampuh membungkam suara.
    Artikel copas diatas pun, masih tidak ada data yang jelas. sehingga tidak bisa dipercaya sepenuhnya.

  11. siap siap revolusi jilid 2 neh kalo gene critanya, tapi dibandingin yang lama saat ini emang mending daripada yang dulu2

  12. sapa yg mau terbuka menyampaikan ini karean susah dibuktikan. Ini ibarat kentut, terasa tapi ga bisa dilihat. Jangankan yg samar gini, yang terang aja masuk penjara kok……….saya yakin yg nulis punya integritas, dan tulisannya bisa dipercaya, sedikitnya 80 % betul menurut saya.

  13. @Rina Dewreight:
    Hidup cuma sekali, ndak perlu nambah keruh keadaan untuk ambil keuntungan sepihak, Apa manfaatnya bagi anda jika sudah mati nanti, Masyarakat luas jangan mudah terpengaruh dengan omongan-omongan yang belum terbukti faktanya…berpikirlah yang jernih dan Positif untuk kemajuan bangsa Indonesia tercinta ini

  14. aduh, dejavu, ternyata ada dimana-mana postingan dia ini..
    dan komentar saia lagi2., no bukti means hoax.. :D
    saia kok setuju sama itempoeti.., hehhehehe…
    nda penting siapa n bagaimana cara menyampaikannya, tapi lebih penting apa yang disampaikan..

    sudah ada kok yg meng-counter attack postingan ini, beberapa nama yang disebutkan konon katanya tidak duduk di jabatan yang dimaksud dalam artikel..
    tapi, di saat kita sudah tidak bisa lagi percaya DPR, polisi, jaksa, hakim, dan juga KPK, sapa lagi yang mau kita percaya?? ini seperti sudah mengarah pada bahwa SBY juga sudah tidak bisa dipercaya lagi, huhuhu…

    Saia sih percaya orang-orang yang ada di dekat saia saja, orang tua saia, teman2 saia, pacar saia, itu mungkin sudah cukup.. :hammer:
    .-= sedulur yunaelis menampilkan tulisan..Soto Ceker Pasar Kreneng.. =-.

  15. BlogE koyo ndongeng. Besok Indonesia bisa jadi negeri sejuta-satu dongeng. Lumayan iso nggo cerita anak-cucu sakdurunge turu. Hehehe….
    Itu pinternya orang Indonesia. Pinter bikin skenario, pinter bikin cerita, pinter mempublikasikan. Pinter le ngreko-ngreko jg. Haghaghag…..
    .-= sedulur nahdhi menampilkan tulisan..Setiap Batu Punya Cerita: Ratu Boko =-.

  16. “Sikap Antasari yang berani menahan besan SBY, sebetulnya membuat SBY sangat marah kala itu. Hanya, waktu itu ia harus menahan diri, karena dia harus menjaga citra, apalagi moment penahanan besannya mendekati Pemilu, dimana dia akan mencalonkan lagi. SBY juga dinasehati oleh orang-orang dekatnya agar moment itu nantinya dapat dipakai untuk bahan kampanye, bahwa seorang SBY tidak pandang bulu dalam memberantas korupsi. SBY terus mendendam apalagi, setiap ketemu menantunya Anisa Pohan , suka menangis sambil menanyakan nasib ayahnya.”

    Alenia di atas……membuat saya yakin 70%, tadinya 50%. Ini adalah konspirasi tingkat tinggi…pasti ada “petingginya”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *