Faktanya emang begitu…

Lha wong bulan Puasa, tapi pengeluaran koq malah membengkak? wots wrong..??” demikian kata xitalho di plurk

Jujur saja saya ikut tersentil karena memang kenyataannya pengeluaran (keuangan) keluarga saya setiap bulan Ramadhan pasti lebih besar dibanding bulan_bulan lainnya. Budaya di masyarakat sangat mempengaruhi pembengkakan pengeluaran itu. Itu hal yang lumrah.

Saat orang berpuasa, apalagi berpuasa beramai-ramai sebulan penuh, ada yang karena badan terasa lemas menjadi malas memasak dan memilih cara gampang dengan membeli masakan untuk keperluan sehari-hari. > Pengeluaran akan bertambah…

Yang suka memasak pun akan memasak yang lain dari pada hari-hari biasa karena menginginkan kenikmatan lebih saat sahur dan berbuka puasa. Alasan lain adalah menjaga asupan gizi agar saat berpuasa tetap dalam kondisi fit. Ini juga lumrah, dan > Pengeluaran akan bertambah…

Setelah bulan puasa usai nanti, akan ada hari kemenangan walaupun tidak semua yang merasa menang benar-benar memperoleh kemenangan… Menang atau tidak yang penting bergembira. Puasa tidak puasa yang penting saat lebaran ikut bersuka-ria… Ini lumrah saja, dan karena terpesona oleh hari kemenangan yang nggak jelas itu sebagian orang malah sudah memikirkan lebaran di saat puasa pun belum dimulai. Ini manusiawi… dan > Pengeluaran akan bertambah…

Jadi masalahnya itu apa to?

Sederhana saja!… Perilaku menambah komsumsi di bulan Ramadhan itu yang menambah pengeluaran keuangan. Tentu saja tidak hanya itu. Kalaupun semua dilakukan dalam tingkatan yang wajar atau hanya sedikit berbeda dibandingkan dengan hari-hari biasa, tentu saja hanya sedikit perbedaannya. Cilakanya, perilaku ini dilakukan berjamaah secara makro, sehingga yang tidak menambah konsumsinya pun terkena imbasnya.

Kok bisa begitu?

Ya bisa saja! Saya rasa semua sudah paham soal invisible hand –tangan yang tak kelihatan– yang secara otomatis mengatur korelasi permintaan, penawaran dan harga. Bila konsumsi rumah tangga di saat bulan Puasa pun ditahan agar tidak serta merta mengalami kenaikan, masih banyak acara-acara khas bulan Ramadhan yang berpotensi menaikkan konsumsi misalnya tajilan bareng, buka bersama, pengajian-pengajian, dan lain sebagainya yang secara makro meningkatkan angka permintaan barang konsumsi.

Dalam situasi yang normal dan etis, itu tidak akan banyak berpengaruh. Lagian yang puasa pun sudah bersiap sebelumnya. Jadi secara umum semua akan baik-baik saja. Cilakanya, banyak pihak yang menangguk di air keruh, mulai dari mengedarkan daging busuk, daging glonggongan, ayam tiren, makanan kemasan yang sudah kadaluwarsa, dan lain sebagainya. Perilaku ekonomi yang secara empiris sudah mendapat stigma kenaikan setiap puasa dan lebaran menjadikan para penyedia barang dan jasa serta merta menaikkan harga walaupun permintaan belum mengalami kenaikan. Istilah Jawanya “Uwis dititeni yen  reregan ana undhakan“… Ditambah lagi ada kepercayaan dalam agama akan keutamaan meningkatkan amal ibadah dan sedekah. Khusus yang terakhir seringkali terhubung dengan urusan konsumsi.

Jadi harus bagaimana nih?

Tenang coy! Konsentrasi saja pada ibadah! Soal konsumsi ya biasa sajalah… Ini nggak berlaku pada saat puasa saja, namun juga menjelang lebaran nanti. Puasa dan Lebaran intinya bukan konsumsi saja!

Sedulur setuju pendapat saya? Atau ada tambahan yang mencerahkan? Silahkan!…

Gambar dari Neo Renggana

Post to Twitter Post to Plurk Post to Facebook Send Gmail

46 thoughts on “Faktanya emang begitu…

  1. kalo buat saya, yg mahal itu karena tiket juga melonjak naik di waktu2 ini, mau tidak mau harus beli kan, daripada nangis gerung2 gegara lebaran sendiri di kampoeng orang :-P belom lagi ole2 buat ponakan, uwwew.. *malah curhat (haha)

  2. jadi ingat hukum penawaran dan permintaan waktu pelajaran ekonomi di sma
    saat puasa emg entah kenapa jadi pengin makan yg enak2
    hmmm, mungkin seperti balas dendam
    seharian ga makan jadinya waktu berbuka semua makanan disikat

  3. semik, malah dadi postingan nang kene (worship)

    Dampak baiknya, ekonomi mikro yang menggeliat ini tanpa sengaja mempengaruhi perekonomian makro, karena setiap orang seperti rela untuk membelajakan lebih uangnya.

  4. Setuju pak, emang faktanya begitu :lol: tapi kalau menurut diri pribadi saya mestinya puasa gak perlu ada pengeluaran tambahan yang sampai 2 kali lipat. Namun kalau dibuat begitu, kasihan anak-anak. Mereka sudah mencoba ikut puasa dan menahan segalanya, akhirnya demi menyenangkan mereka dan memenuhi gizi yang berkurang selama puasa aku menginstruksikan bagian logistik untuk memasak yang agak lebih. :lol:
    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

  5. memang harus bijaksana… kalo malu pakaiannya nggak trendi ya ndak usah traweh, atau kalo pas lebaran malu nggak punya sarung baru yo.. ngapain.. emang salaman harus pake sarung baru (lmao)

      • ada hadits yang mengatakan bahwa bilamana akan pergi ke shalat Ied, dianjurkan memakai “pakaian baru”. sebetulnya “baru” di hadits itu bermakna bersih atau habis dicuci karena budaya di Arab sono ganti pakaian bisa beberapa hari sekali lain dengan di Indonesia yang sehari bisa beberapa kali… salah kaprah itu jadi budaya sampai sekarang, “pakaian baru” dimaknai “baru beli”… (haha)

  6. Harga barang naik, pengen makan enak, pengen serba ada,,, serba serbi bulan puasa..
    bahkan orang2 rantau (saya) sudah memikirkan gimana pulang lebaran sebelum puasa. Takut kehabisan tiket.. <= otomatis biaya membengkak karena tiket kereta melambung tinggi gila2an

  7. mmm,, *manggut=setuju*
    happy rhomadhon = sekali ibadah tetep ibadah… rosoo (haha)
    Alt+Shift+A <~ qo link punya ku ndak ada maz…
    se_diki_t aja ada di note's d atas (tears)

  8. Seperti kata orang jaman dulu, kebanyakan dari kita2 adalah menerapkan pola apa yang disebut dengan tobat sambel, atau anget2 tai ayam (gw banged kl yang ini) hihihi

  9. biasa mas Andy … saya juga niatnya puasa senen-kamis mau hemat kok jatuh-jatunya jadi boros (lmao) apa lagi ini …. boleh lah sebulan dimanja … (nyengir)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *