Flamboyan

Suatu hari dalam cuaca yang mendung di awal musim penghujan, saya berjalan-jalan di sekeliling Desa Bebengan, Kec. Boja, Kab. Kendal, desa kelahiran saya. Di bagian barat desa saya berhenti… Di kejauhan nampak desa tetangga dan hutan karet yang baru saja mengalami peremajaan. Hamparan sawah yang sebagian masih kering, sebagian sudah menghijau, dan kebanyakan sedang dalam masa labuh berpadu dengan Flamboyan yang sedang berbunga yang berderet di pinggir jalan.

Subhanallah indahnya!!!… (nottalking)

bunga-flamboyanTiba-tiba saya teringat masa kecil di desa itu.

Dulu, sehabis mencari kayu bakar di hutan karet, seringkali saya dan teman-teman beristirahat di bawah pohon Flamboyan. Bercanda ria, merebahkan badan, tidur-tiduran di rerumputan dalam naungan Flamboyan. Bilamana kebetulan sedang berbunga ~yang bisa memenuhi segenap dahan dan rantingnya~, kami bisa betah berlama-lama di sana… Bilamana sedang merontokkan bunga-bunganya, kami sering menikmatinya. Membiarkan muka dan badan kejatuhan Bunga Flamboyan dan menjerit-jerit bilamana ada semut ikut jatuh bersama bunga itu Bilamana kebetulan sedang berbuah tua, Buah Flamboyan yang panjang pipih dan kaku berwarna coklat kehitaman itu sering kami gunakannya untuk bermain pedang-pedangan.

Tanaman Liar dari Madagaskar:

Syarifah, S.P. (12/28/2006)

ADA sejumlah kontroversi berkaitan dengan nama populer flamboyan. Sebagian menyebut dengan istilah ‘mohr’ (artinya merak) dan ‘gul’ (artinya bunga). Secara harfiah, maknanya mendekati peacock flower (bunga merak) atau di Indonesia dikenal juga dengan sebutan jingoh. Meski sama-sama cemerlang dengan warna bunga merah dan jingga, flamboyan jelas berbeda dengan bunga merak.

Orang India menyebutnya dengan nama gulmohar. Nama etnik lainnya adalah sunkervara, mayarum, atau shima sankesula. Namun, di antara nama-nama yang diberikan, yang paling dikenal adalah nama yang berasal dari bahasa Prancis, fleur de paradis dan flamboyant. Nama inilah yang kemudian diadopsi oleh masyarakat kita di Indonesia.

Sedangkan nama botani Royal Poinciana diberikan sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasa Gubernur Antilles, M. de Poinci, yang pada abad ke-17 untuk pertama kalinya membawa tanaman flamboyan dari habitat aslinya yang liar di hutan Malagasy Barat, Madagaskar, untuk kemudian didomestikasi dan disebarluaskan ke berbagai belahan dunia. Berkat jasa Poinci pula, bunga flamboyan yang semula dianggap angker itu bisa dinikmati keindahan oleh masyarakat, termasuk kita di Indonesia.

Flamboyan merupakan tanaman berbunga yang tumbuh di kawasan tropis dan subtropis. Tanaman ini cukup toleran di daerah kering dan kondisi air yang asin. Di daerah dengan kondisi kemarau panjang, daun flamboyan tumbuh hampir sepanjang musim. Namun, di daerah lain, flamboyan malah menggugurkan daun-daunnya seperti terjadi di Suriname dan sebagian Indonesia. Musim berbunganya berbeda antara satu tempat/negara dengan tempat/negara lain. Jika di Indonesia bunga flamboyan mekar pada Oktober-Desember, di India bunganya mekar pada periode April-Juni.

Selain tampak indah sebagai tanaman hias, flamboyan juga memainkan fungsi lain yang tak kalah pentingnya, sebagai pohon peneduh. Bagi penduduk yang menghuni kawasan tropis, kehadiran flamboyan dengan daun-daunnya yang rimbun menjadi anugerah tersendiri. Orang-orang yang berada di bawah rindangnya pohon flamboyan bukan saja terhindar dari sengatan sinar matahari yang terik, tapi juga bisa menikmati kesegaran udara (oksigen) yang dihasilkan oleh daunnya yang rimbun.

Flamboyan juga tumbuh di Australia. Di Amerika Serikat juga bisa ditemui meski di kawasan yang terbatas seperti di Florida, Rio Grande Valley sebelah selatan Texas, dataran rendah Arizona dan California, Hawaii, Pulau Virgin. Flamboyan tumbuh secara luas di Karibia, Puerto Rico, dan Kepulauan Guam. Di Kepulauan Mariana Utara, flamboyan merupakan pohon resmi negara.

Di Kepulauan Karibia biji flamboyan digunakan sebagai instrumen perkusi yang dikenal dengan sebutan the shak-shak atau maraca. Status tanaman ini termasuk yang dilindungi..

(sumber: http://www.plantamor.com)

flamboyan

Flamboyan di desa kelahiran yang saya lihat baru-baru ini, sebagian sudah ada sejak saya masih kecil. Yang dulunya besar dan rimbun nenaungannya banyak yang sudah bolong-bolong batangnya, sebagian sudah rubuh meninggalkan pokok yang lapuk, dan ada pula yang masih tegak berdiri. Yang dulu masih sebesar paha anak-anak, sekarang sudah menjadi batang besar yang kekar…

Tanaman Terindah di Dunia:

Senja itu
Flamboyan berguguran
Seorang dara memandang
Terpukau …
Satu-satu
Daunnya berjatuhan
Berserakan di pangkuan bumi
Bunga flamboyan itu diraihnya
ahnya terlihat sayu
Flamboyan berguguran
Berjatuhan, berserakan
Sejak itu sang dara berharapkan
Esok lusa kan bersemi kembali
(“Bunga Flamboyan”, Bimbo)

Masa berbunganya memang tergolong jarang, sekali dalam setahun. Persisnya terjadi pada masa pancaroba, pera-lihan dari musim kemarau ke musim hujan. Saat itulah, bu-nganya bermekaran. Namun, karena tampilannya yang luar biasa menawan, orang selalu menanti dan merindukan kehadiran bunganya. Apalagi, setiap kali bunga bermekaran, akan tercipta suasana romantis, saat yang tepat untuk rendezvous. Itulah flamboyan, pohon legendaris yang oleh kalangan pencinta tanaman hias dikenal sebagai “tanaman terindah di dunia”.

Terdapat banyak julukan yang diberikan orang sebagai bentuk kecintaan dan kekaguman terhadap bunga yang bernama Latin Delonix regia itu. Orang Indonesia menyebutnya flamboyan, yang diadaptasi dari kata flamboyant (bahasa Prancis) yang bermakna “cemerlang”. Kalangan ilmiah menyebutnya Royal Poinciana. Orang India menyebutnya dengan gulmohar. Julukan lainnya adalah “flame of the forest”, “flame tree”, atau bersama-sama dengan mawar dijuluki juga sebagai “queen of the flame”.

Di luar julukannya itu sendiri, istilah flamboyan juga menjadi sebutan untuk orang atau situasi tertentu. Ada istilah “flamboyant personality” untuk menyebut pribadi yang cemerlang. Ada juga “flamboyant colors” untuk menggambarkan warna yang semarak dan penuh bunga. Atau “flambo-yant speech” untuk menyebutkan situasi pidato atau pembicaraan seseorang yang penuh dengan bunga bahasa.

Penuh warna

Flamboyan adalah tanaman hias berbentuk pohon dengan perilaku unik dan penuh warna. Tingginya bervariasi dengan paling tinggi mencapai 12 meter. Ia menyukai tempat terbuka dan cukup sinar matahari. Batangnya licin, berwarna cokelat kelabu dengan teras sangat keras, berat, dan tahan air atau serangga. Akarnya cukup kuat sehingga jika ditanam di trotoar bisa mengangkat permukaan trotoar atau jalan. Bentuk pohonnya yang bercabang banyak dan melebar seolah membentuk payung raksasa. Dengan bentuk daun majemuk dan rapat, menciptakan kerimbunan yang khas dan memberikan kerindangan, serta kenyamanan bagi siapa pun yang berteduh di bawahnya.

Daun-daunnya akan terus menghijau sepanjang musim hujan hingga awal musim kemarau. Barulah ketika memasuki pertengahan kemarau, daun-daun flamboyan berguguran. Bahkan beberapa batang dan rantingnya me-ngering, meranggas, lalu patah. Saat itu, flamboyan tampak seperti pohon yang kurus dan gundul. Tampaknya, inilah cara alami flamboyan beradaptasi dengan perubah-an lingkungannya.

Namun, begitu air mulai tercurahkan dari langit dan musim hujan tiba, flamboyan yang tampak kering dan meranggas itu bergairah. Mereka pun seolah menebar “senyum” lewat kemunculan bunga-bunga berwarna jingga dan merah. Ya, ketika musim hujan tiba, bunga flamboyan bermekaran serentak. Periode inilah yang banyak ditunggu pencinta bunga, yang selama hampir setahun dengan sabar menanti kemunculan kembali sang pohon cemerlang itu menampakkan bunganya.

Bunga flamboyan berukuran cukup besar, berbentuk seperti anggrek dan mekar dalam sebuah kumpulan yang padat dan rapat. Warnanya antara merah jingga hingga merah tua (scarlet). Dalam satu kumpulan terdapat lima helai mahkota bunga yang menyebar, di mana salah satunya tampak berbeda dari empat mahkota lainnya. Inilah yang disebut dengan “standar” di mana ukurannya tampak lebih panjang dan ditandai oleh bintik-bintik putih atau kuning pada sisi bagian dalam. Rata-rata panjang tiap helai mahkota bunga 8 cm.

Keindahan bunga flamboyan akan tampak jika bunga itu masih di pohon dalam bentuk “gerombolan”. Jika dilihat satu per satu, bunganya tampak kurang menarik. Namun, untuk bisa menyaksikan kecerlangan bunga flamboyan memang harus pandai mencari waktu yang tepat. Bunga flamboyan biasanya terlihat paling cemerlang pada minggu pertama kemunculannya. Pada saat langit cerah dan matahari bersinar terang, warna merah jingga menyala memendarkan cahaya berkilauan. Birunya langit yang menghampar luas, seolah menjadi latar belakang yang menciptakan kontras dari sebuah lukisan alam dengan warna merah bunga flam-boyan sebagai objeknya. Saat itulah, kita akan menyaksikan panorama alam yang luar biasa menakjubkan, sebuah gambar hasil ciptaan Tuhan yang tak mungkin bisa ditandingi siapa pun.

Sayangnya, periode penuh keindahan itu hanya sebentar. Begitu memasuki minggu berikutnya, kecerlangan bunga flamboyan mulai luntur. Kita hanya akan menyaksikan warna pastel yang lebih lembut dan merah tua yang sudah redup. Penampakan bunganya mulai membosankan. Apalagi kemudian, satu per satu bu-nganya berguguran, berjatuhan, dan berserakan di atas rerumputan atau aspal jalan. Meski demikian, musim bunga flamboyan yang berlangsung antara bulan Oktober hingga Desember itu tetap menghadirkan suasana romantis. Bagi sebagian masyarakat kita—entah berhubungan langsung atau tidak—periode tersebut sering pula disebut musim kawin atau bercinta.

Seiring berjalannya musim hujan dan rontoknya bunga, flamboyan pun berganti warna penampilan, dari merah ke hijau. Inilah periode kemun-culan daun-daunnya yang secara perlahan mengalami evolusi dari warna hijau muda menjadi hijau tua cerah. Daunnya tergolong daun majemuk, berbentuk seperti pakis, ringan, dan lembut. Daunnya terbagi dalam dua tangkai (pinnate), tangkai utama (pinnae) dan tankai skunder (pinnules). Panjang daun mencapai 30-50 cm. Dalam satu daun terdapat 20-40 pasang pinnae dan 10-20 pasang pinnules.

Setelah bunga rontok, putiknya berubah menjadi buah yang berbentuk seperti pedang (polong). Saat masih muda, warna buahnya hijau muda cerah, namun saat ke-ring dan tua, akan berubah menjadi cokelat dan hitam. Panjang buah bisa mencapai 60 cm dan lebar 5 cm. Meski buahnya berbentuk polong besar, bijinya tergolong kecil dengan berat tiap biji rata-rata 0,4 gram. Bijinya bisa ditanam untuk menghasilkan tanaman baru, namun biasanya budi daya flamboyan dilakukan dengan cara stek batang atau cangkok karena alasan kepraktisan.

Belum populer

Di sejumlah negara, flambo-yan sudah menjadi komoditas penting sebagai tanaman hias yang diperdagangkan. Di Indonesia sebenarnya tanam-an ini juga sudah cukup banyak dikenal dan dibudidayakan di berbagai tempat. Namun, umumnya masyarakat kita menanam flamboyan lebih karena alasan fungsinya sebagai peneduh yang cepat tumbuh. Di beberapa kompleks perumahan atau trotoar jalan, pohon flamboyan mudah dijumpai. Sedangkan menjadikan flamboyan sebagai tanaman hias demi terciptanya keindahan, harus diakui masih sangat kurang.

Karena lebih ke alasan fungsional sebagai peneduh, tanaman flamboyan sering ditanam cul leos, alias setelah tumbuh, ya sudah, dibiarkan hidup sendiri, tanpa mendapat pera-watan atau pemeliharaan sebagaimana layaknya dilakukan terhadap tanaman hias. Tak jarang, tanaman pun bisa tumbuh menjulang tinggi dan tak terawat. Padahal, de-ngan perlakuan yang tepat melalui pemangkasan yang teratur, kita bisa menghasilkan bentuk tanaman yang tidak terlalu tinggi. Atau sistem penanaman yang berjejer teratur. Sehingga saat musim bunga tiba, kita bisa menyaksikan keindahannya lebih leluasa. Sambil menikmati kemun-culan bunganya, kita juga akan tahu bunga itu sebagai pertanda, musim hujan sudah tiba.

(sumber: http://anekaplanta.wordpress.com)

Aaach…. Jaman begitu cepat berlalu. Elpiji telah menggantikan dan memudahkan. Tak ada lagi anak-anak pencari kayu bakar yang bermain di bawah Flamboyan…  PS dan game komputer lebih menarik perhatian. Tak ada lagi anak-anak yang bermain pedang-pedangan, atau merangkai mobil-mobilan bambu di bawah naungan rimbun Flamboyan

Adakah sedulur masih menyimpan kenangan???

Post to Twitter Post to Plurk Post to Facebook Send Gmail

Related Posts

92 thoughts on “Flamboyan

  1. Kenanganku indah gak yach?… Kalau ku ingat masa kecilku malah justru buat aku takut… aku hampir-hampir gak mau ingat lagi masa kecilku… meski kenangan itu gak bisa dilupakan…

    • @katakataku, itu ilmu jadul kang, jarang dikeluarin karena dulu nggak suka… sekarang, ketika harus banyak kutipan dan terlalu panjang, terpaksa dilipat deh!
      *yang tahu rasa bunga flamboyan keknya cuma pemain kuda lumping aja dech*

  2. jadi teringat masa2 di SMA dulu, *bercengkrama di bawah naungan Flamboyan* (LOL)
    Indah, simbol kenangan bagi saia, hehehehe….

  3. Sayang, ga punya kenangan dengan bunga flamboyan. Tapi, kenangan yang tidak pernah bisa terlupakan adalah saat masa kecil di desa (sekarang juga kembali ke desa). Pak Guru, kalau jadi ketempat saya, nanti aja waktu musim buah. Mau durian, dukuh atau manggis?

    • @Next Jimbun Punya, saya paling suka manggis… itu buah yang sangat mahal menurut saya karena sudah mulai langka… Kalau durian sih sudah bosan, karena sejak kecil terlalu banyak makan durian…
      *saya lebih suka di desa mas, apalagi kalau desa yg akses internetnya cepat, hihihi*

  4. flamboyan kuwi jenenge kembang
    podo koyo kamboja yo jenenge kembang
    mawar, melati lan sak piturute yo jenenge kembang…

  5. jadi ingat masa kecil, sering maen di sawah, nyari ikan sama katak. sekarang, pohon-pohon rindang yang dulu enak dijadikan tempat berteduh sudah hilang tanpa bekas. jadi panas sekali.

  6. Aku sering liat bunga flombyan waktu kecil di sekitar rumah di Rempoa… makanya sekitar itu dinamakan jalan flamboyan.. karena banyak pohon flamboyan disana…. Jadi kangen kesana lagi…

    • @Wandi thok, mohon mangap pak guru! postingan ini sekalian pamer spoiler yang ditanyakan pak guru kemaren… nanti saya kirim skripnya dech!

    • @marsudiyanto, tanam aja pak! di Jalan Mawar… nanti kalau flamboyannya sudah besar dan berbunga, nama jalannya diganti sekalian jadi Jalan Flamboyan… xixixi

  7. Yaa saya punya om… ngarep umahku ndhisik ono tandurane Flamboyan..
    Tapi mburi umahku wit ringin…cedhak kuburan hiiiii ngeriiii…..

  8. wah enak ya masa kecilnya..masa kecil kita lebih enak daripada anak-anak jaman sekarang. dulu rasa kebersamaan lebih terasa. apalagi game-game seru yang mulai jarang pada anak-anak jaman sekarang..seperti main gundu, tak umpet, galasin, ..pokeknya indah kalau dikenang..

  9. wehh., baru kemaren saia baca soal spoiler gambar…
    sekarang baru lihat spoiler tulisan…, piye carane pak’e???

    *oot bangetz.. :D

  10. saya juga sering merasakan kenangan saat kecil mas,apalagi saat musim hujan begini.
    sudah tidak ada lagi anak kecil bermain bola bermandikan lumpur.
    entah dilarang ama ortu mereka atau makah mereka keasyikan dengan permainan modernnya.

  11. Jadi Inget Flamboyan yang dulu tumbuh di halaman SD, senang rasanya klo lihat halaman sekolah jadi berwarna merah.. Di bawah flamboyan anak2 kelas VI biasa berbaris disetiap upacara hari senin, sejak kelas satu setiap upacara, aku berharap bisa mengikuti upacara berada di bawah rindang flamboyan.. sampai tak terasa lewat sudah masa itu, eh flamboyan itu masih berdiri tegak sampai sekarang lho..

    • flamboyan memang bisa tahan sampai puluhan tahun… sayang sekali, di ruas jalan yang sama, pohon2 mahoni yang besar2 ditumbangkan DPU dengan alasan pelebaran jalan, padahal dijual… (doh)

    • kita seringkali mengharapkan itu walaupun tahu sebenar-benarnya bahwa itu tak mungkin terjadi… Aaach…. Jaman begitu cepat berlalu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>