Istilah-istilah itu sering terdengar saat menjelang bulan puasa Ramadhan dan menjelang Lebaran. Biasa digunakan untuk menentukan pergantian bulan. Seringkali membingungkan karena ada yang percaya ini dan ada yang percaya itu.
Sependek yang saya tahu dan sepanjang yang saya punya, hilal itu artinya bulan sabit, rukyat itu artinya pengamatan, dan hisab itu artinya perhitungan. Selesai… Hanya itu saja! Tapi kenapa sering diributkan setiap kali jelang Ramadhan dan jelang Lebaran? Harusnya ribut juga dong di pergantian bulan-bulan lain? Kalau di bulan-bulan lain sudah pas, kenapa sekarang jadi nggak pas?
Sebagai orang yang awam astronomi (orang Arab menyebutnya ilmu falak), saya percaya saja kepada yang berwenang atau yang sudah ahli dalam melakukan pengamatan dan perhitungan pergantian bulan. Tentu saja saya tetap berusaha memahami perhitungan kalender, karena dalam keseharian sudah terbiasa menggunakan kalender solar (syamsiyah) sedangkan dalam Islam menggunakan kalender lunar (qomariyah). Masing-masing orang akan menggunakan perhitungan atau pengamatan tergantung yang diyakininya. Itu sah-sah saja karena masing-masing ada dasarnya.
Yang agak nakal dikit, khusus untuk bulan puasa, rasanya lebih enak kalau ngikuti yang lebih telat puasanya dan lebih awal lebarannya
Kapanpun sedulur memulai dan mengakhiri puasa Ramadhan, saya tetap mengucapkan “Selamat Menunaikan Ibadah Puasa Ramadhan! Mohon Maaf Lahir dan Batin atas segala kesalahan saya sekeluarga! Mari kita tingkatkan ibadah di bulan Ramadhan, tapi selanjutnya jangan surut lagi ya!”…
Pertamax
Premium….
Selamat menunaikan Ibadah Puasa pakde… semuga berkah.
worship dah!
Solar…
Kelender kecelup solar po…??
telezz kebezzz
Lunar
Lunar Mayar..
Astaghfirullah…
awas ana sing ngisruh jelang ramadhan
Tempilingi wae pakde…
ya udah mas..jangan marah-marah…met menjalankan ibadah shaum ya..
lha yang marah2 tu siapa to?? payah
lah kok curang, malah mau ngikuti yang lebih telat puasanya dan lebih awal lebarannya
yeeee… namanya juga agak nakal…
Cocok iku kang…. melu sing telat posone tapi lebarane melu sing disek… hahaha….
hus… kuwi sing agak nakal… nek alim yo ora!
Untung aku saiki wis dadi wong alim kang… wkwkwk….
wis seng ndi penak’e waelah..!
ngono ae koq repot
sepakat…
Daripada pusing2 pak , kan kita gak bisa lihat .. Kemenkominfo menyediakan sarana untuk melihat Hilal secara Online dan tentunya terjamin dehh keasliannya :) mari ikuti ulil amri ..
lho… siapa yang pusing?
rasanya lebih enak kalau ngikuti yang lebih telat puasanya dan lebih awal lebarannya
Saya banget tuh
…. mulai ikut NU, lebaran ikut Muhamaddiyah …
… sayang sekarang samaan euy
kalau saya hilalnya pake linux ajah dech
*sombong baru dapat ilmu*
sudah menjajal mas…
yang jadi heboh dan ramai ketika ada perbedaan penentuan awal puasa sebenarnya hanya dua ormas aja…
lha itu naqsabandiyah di padang sudah menentukan bahkan sudah puasa duluan juga nggak masalah.
atau misalnya persis, beda pendapatnya dengan muhammadiyah dan nu sementara keduanya (nu dan muhammadiyah) sama penentuannya, maka nggak akan heboh…
seharusnya itu bisa dijadikan perbedaan yang saling melengkapi,,,jadi bener kapanpun mulai puasa ato kapan pun lebaranya kita semua sodara
makanya…
pas awal puasa, pergi ke pondok Bumiayu yang NU
dan lebaran pulang ke rumah Pati yang Muhammadiyah
eh, ora ding…melu Pemerintah,kok
*mugo-mugo ae, waktu awal dan akhir puasa nya belum dikorupsi juga*