Jakarta menakjubkan: Stasiun dan Kereta Api

suatu waktu aku pernah naik kereta api, siang dari solo ke jakarta. biasanya aku selalu jalan malam hari kecuali kalau balik dari jakarta ke semarang atau ke solo. kali itu spesial, berhubung dikejar target, aku ke jakarta siang-siang (terakhir kalinya aku naik kereta siang dari jawa ke jakarta adalah tahun 1998).

dasar sial, ranselku ilang. isinya pakaian, laporan-laporan, dan laptop, juga blackberry gendut yang baru ditebus beberapa minggu, juga barang-barang kecil lainnya.

kalau jalan malam, aku selalu tidur di bawah (lantai) walau di kereta eksekutif sekalipun, beralas selimut berbantal ransel. aku selalu merasa aman. sekali jalan siang malah kena petaka. sialan!… selalu saja naik kereta bisnis membuat aku lebih waspada, kalau naik eksekutif selalu merasa aman. itu salahnya. ransel hilang justru di kereta eksekutif. laporan pada polsuska juga tidak ada pengaruhnya sama sekali.

dulu, di tahun 80-90an, kereta bisnis/utama adalah kereta terbaik di negeri ini. sejalan dengan waktu, gerbong-gerbong yang semakin uzur tak lagi layak dijual mahal, digantikan dengan kereta eksekutif yang nyaman ber-AC.
di suatu akhir pekan aku pulang ke solo, karena kehabisan uang, juga habis pula tiket kereta eksekutif terpaksa naik bisnis, senja utama solo. lumayan juga. sewa gelaran 3000 rupiah, tidur di pojokan, bangun-bangun sudah sampai jogja. sejam kemudian sudah bertemu komputer kesayangan.

kisah nyata di jatinegara:

beberapa kali pulang ke jawa liwat stasiun jatinegara membuat beberapa hal cukup apal. pernah ada seorang tua yang kelihatan gundah gulana. duduk di lantai di sebelahku, tiba-tiba membuka pembicaraan bahwa dia terlantar. mencari anaknya yang kerja di jakarta tapi nggak ketemu. berceritalah dia (selanjutnya berbahasa jawa) bahwa asalnya dari sebuah desa di boyolali jateng. mau pulang uang tinggal tigarebu, rencana dia mau nggandul loko. mendengar cerita itu, aku -yang sangat berpengalaman sejak SMA naik kereta, loko, truck, bus tanpa bayar- enteng saja kasih saran. “sampean naik saja kereta bengawan sampai ke solo, nanti mbayar di atas langsung sama kondektur. paling-paling dikasih sepuluh rebu kondekturnya nggak apa-apa”. trus aku belikan sebotol akua dan aku beri uang duapuluh rebu. ketika kereta bengawan sudah mampir di jatinegara, dia aku suruh naik. blas… ilanglah dia di tengah kerumunan orang. aku -dalam hati- bersyukur bahwa sekarang tidak lagi mengalami kejadian ngandul-ngandul loko.

beberapa waktu sesudah itu, aku kembali mampir di jatinegara karena mau pulang ke jawa. we…e…e…e… kok ketemu lagi sama orang itu. duduklah dia di sebelahku. membuka pembicaraan yang hampir sama dengan beberapa waktu lalu aku ketemu. hhmmm… sebelum dia selesai bercerita, aku memberi nasehat,

“pak!, kalau sampean mau nipu orang itu cari sasaran lain saja. saya sudah apal raine sampean, lagian kalau sampean cari duit caranya jangan kayak gini. nanti rejekine sampean nggak barokah, sampean itu mau bikin malu wong jowo ya?”.

bapake itu diam dan kelihatan malu buangets, kemudian minta maaf. ketika aku ambil fotonya dia melengos, akhirnya kena juga satu jepretan buram. aku yang sudah puas beruneg-uneg trus keluarin dompet, ambil sepuluh rebu trus aku berikan pada bapak itu (untuk menebus dosa karena aku sudah marah-marah padanya, hehehe…). sebelum dia berkata-kata lebih lanjut aku tinggal pergi saja.

dasar jakarta menyebalkan, ada-ada saja cara orang mencari nafkah.

yang menarik di perjalanan:

melihat-lihat bermacam stasiun yang beraneka gaya. ada beberapa stasiun yang aku suka karena tidak menggunakan lagu standard ting-tang-ting-tong seperti biasanya. aku catat: stasiun semarang tawang, sering mengumandangkan lagu empat penari, stasiun purwokerto (atau kroya, aku lupa), sering mengumandangkan lagu di tepinya sungai serayu. hampir semua stasiun kereta di negeri ini adalah peninggalan masa penjajah belanda tengik. untung saja negeri ini pernah dijajah, coba saja kalau tidak pernah, mana bisa punya banyak stasiun yang megah.

Pernahkah saudara dua kali bertemu penipu yang sama? Kalau iya, maafkan saja, mumpung bulan Puasa…

Post to Twitter Post to Plurk Post to Facebook Send Gmail

25 thoughts on “Jakarta menakjubkan: Stasiun dan Kereta Api

  1. itu foto bapak penipunya terlihat blom terlalu tua ya

    sampeyan ini murah hati ya, ketemu lagi org yg pernah menipu masih dikasih uang.
    jadi inget nasihat alm. ibuku, kalau ada yg menipu kita ikhlaskan saja, karena bukan mereka yang akan tambah kaya tapi sebaliknya

  2. ya itulah jakarta karena itu saya ga betah disna dan memilih untuk tinggal di sini aja, btw, mungkin udah saatnya orang di jakrta ikut transmigrasi buat ngurangi jumlah penduduknya. Gmana mas?

  3. naik kereta api menimbulkan kenikmatan tersendiri, mas andy. saya suka banget suara jas-jes-jus-nya, hehehehe …. sayang sekali kereta seringkali ndak bersahabat sama calon penumpang karena mesti taat pada jadwal. yang paling sedih ketika ke jakarta ketika harus baik bus lewat pulogadung, haks…. sungguh menjengkelkan.

  4. Wah.. kok bisa ya ketemu ma orang yang sama di kereta…

    Hehe, ga bisa bayangin gimana perasaan penipu itu saat diomong-omongin…

    Nice!

  5. Jakarta oh jakarta, saya yang lahir di jakarta aja sekarang dah tidak dsana. tapi masih banyak saja ya yang menggantungkan hidupnya di sana.

  6. Kasus spt itu memang tdk terjadi di kereta saja mas Andi, dimana-mana sering, tidak menjamin kita naik armada tertentu akan aman. Itu memang menguji kita akan segalanya, sedekah …… , kesabaran ….., ikhlas dan kepekaan hati .

  7. #elys welt: saya mau nunjukin aja, ngemis lebih barokah daripada nipu

    #dino, kishandono: yuk kampanye pindah ke ndeso!.. hehe

    #mazenchipz, panda: ooooo, pulkam juga tho?

    #rafki rasyid, sawali tuhusetya: sesekali piknik yuk naik kereta api kuno bergerigi di ambarawa… keren buangets. saya pernah sekali, pengin lagi tapi nggak ada barengan, soalnya bayarnya mahal. hahaha

    #cah sholihah, edy: yeach…. begitulah…

    #bowbee: saya juga ga bayangin, asal keluar aja itu kata-kata dari mulut saya. hehehe

    #embun: tulisan terbaru taruh di atas dong, biar pemula seperti saya nggak binun… hihihi… sudah aku baca semua…

    #G.a.i.a: juga menakjubkan…

    #ronggo: aku pasti beli tiket dong!…

    #wahyubmw: semoga kita selalu dalam kesabaran dan keikhlasan.. juga selalu peka…

    #yu2n: betul, melengos waktu mau diambil fotonya.

  8. waduw,, aya aya wae orang mu cari duit aja :d Tapi semenjak SD kelas 6, saya sudah ga pernah naek kereta, lebih seneng naek bis :d

  9. Saya juga tertarik sepur seputar Jakarta. Alat transportasi paling unik tapi menangan. Kereta Pakuan jurusan Bogor, mak nyess, adem bersih. Padahal di negara aslinya, kereta itu adalah barang apkiran. lain lagi ketika pulang dari Jakarta ke Semarang. Antree lama dapetnya kelas bisnis yang tak layak disebut bisnis. Sepanjang jalan berisik oleh pedagang, giliran bisa ngliyep malah dirambati “coro”.
    Yang paling sumpek kereta ekonomi Bogor Jakarta. Penuh pengamen yang bawa alat sak studio, campur aduk dengan pengemis dan pedagang. Suarane pating slengir seperti pasar malam. Kapok dak ilok Pak…

  10. Kalau naik kereta terus tidur dlosor di bawah pakai selimut sewaan teringat waktu dulu bolak balik Bandung Surabaya, dan memang kalau diperhatikan di kereta api banyak macam orang pasang aksi untuk cari duit dan memang harus waspada, salam

  11. Wough.. Jakarta punya cerita, punya aksara.. Saia ke jakarta pertama kali juga ada orang seperti itu, cerita cari anak yang ilang n ujung2nya minta di kasihani. Untung bawa recehan, jadinya cuma ala kadarnya, cuma orangnya lain dari skrinsut ada. Yang penting ikhlas, toh ada ganjaran yang ada di dunia akherat nanti..
    *pengen jadi orang sholeh juga*

  12. wah mas sampean kan belum apal muka saya kapan kapan tak tipu sampean heheheheheh
    mantep aku pernah ngalamin hal yang sama mas trus kubilang lho kemarin kan udah heheh masak kali ini mau minta tolong ongkos lagi…. ngabur dia kekekek

  13. stasiun yang beraneka gaya akan menarik hari dan tidak membosankan. stasiun yang tidak menggunakan lagu standard ting-tang-ting-tong lebih menyenagkan. stasiun semarang tawang, sering mengumandangkan lagu empat penari?
    Kalo tak salah judul lagunya yg benar ‘Gambang Semarang”, mas…

  14. pak..aku jg pernah ngalamin kasus yg sama…di terminal blok M, ibu2 bilangnya kehabisan uang mo pulang…besoknya ibu itu dtg lagi dgn cerita yg sama…..trs aku juga pernah mengalami hal itu di masjid lohhh….ternyata orang mo menipu gak lihat tempat yaaaa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *