Jalur Wisata Gunung Kelir – Waduk Sermo – Pantai Glagah

Berkali-kali berkunjung ke Gunung Kelir, selalu saja ada yang istimewa. Demikian pula Rabu-Kamis (21-22 Juli 2010) kemarin ketika saya berkunjung ke sana. Tujuan semula sih plesiran ke Pantai Parangtritis. Namun ketika mampir di Jobloabang, terjadi perubahan rencana karena Ki Demang Syuryaden pun akan naik ke puncak Gunung Kelir. Jadilah sore-sore jam 5 saya budhal dari Jogloabang menuju ke Gunung Kelir. Ki Demang Syuryaden yang menyusul pada malam harinya menjadikan kopdar kecil 3 Idiots (genthokelirsuryadenkecakots) berlangsung ramai sampai pagi.

Sambil ngobrol seru, ternyata saya sudah cukup mengumpulkan oleh-oleh. Biasa, di Gunung Kelir yang paling istimewa (selain  kambing etawa dan teh tawar) adalah banjir benwitnya yang bisa dipakai untuk kecehan, bahkan ciblon atau cibak-cibung. Ya…ya…ya… Hasilnya adalah 3 DVD (dalam bentuk iso file) masing-masing berisi OpenSUSE 11.3, Mandriva Spring 2010, dan Fedora 13, plus 31 CD (juga dalam bentuk iso file) berisi Debian 5.0.5 masuk dengan lancar ke harddisk Acer Seleyon saya yang hanya berkapasitas 40GB. Sebetulnya masih kurang 2 CD, tapi apa daya harddisk saya sudah penuh… Yo wes lah!

Itu baru wisata benwitnya… Soal wisata beneran, ternyata wilayah sekitar Gunung Kelir baik yang masuk Kabupaten Purworejo maupun Kabupaten Kulonprogo sangat penuh dengan potensi-potensi wisata yang belum sepenuhnya dikelola dengan baik. Malah kebanyakan sarprasnya belum mendukung untuk sebuah tempat yang layak disebut obyek wisata.

Inilah catatan ringkas perjalanan plesiran mengasyikkan itu:

Selepas dari Jogloabang, saya menyusuri Selokan Mataram ke arah hulu dan berbelok menuju jalan Yogya-Godean. Selanjutnya tinggal mengikuti jalan itu sampai akhirnya naik ke perbukitan Menoreh. Mengikuti petunjuk arah yang terpampang di beberapa persimpangan jalan, saya mengikuti arah menuju ke Goa Kiskendo. Hanya beberapa ratus meter setelah gerbang Obyek Wisata Goa Kiskendo, ada persimpangan. Bila mengambil arah kiri akan menuju ke Wates (ibukota Kabupaten Kulonprogo) dan Waduk Sermo, arah ke kanan menuju ke Kaligesing dan Purworejo (bila diteruskan akan sampai ke arah Magelang ke Candi Mendut dan Candi Borobudur). Arah lurus ke depan yang jalannya paling jelek ke arah Goa Seplawan. Walaupun jalannya jelek ngudubilah setan, tapi itulah arah yang benar yang saya ambil untuk menuju ke Gunung Kelir.

puncak Gunung Kelir yang ditumbuhi tower antena dilihat dari jalan ke Waduk Sermo

Rencana semula pulangnya akan kembali melewati jalan berangkat, namun langsung menuju ke Sleman dan Magelang. Namun, lagi-lagi terjadi perubahan rencana. Justru saya memilih jalan ke Waduk Sermo yang masuk wilayah Kabupaten Kulonprogo. Berkali-kali ke Gunung Kelir, saya takjub dengan pemandangan dari puncak di bawah bentangan beberapa tower antena yang besar-besar. Kali ini saya berkesempatan melihat dari bawah ke arah patahan dinding batu kapur yang menyangga puncak Gunung Kelir.

patahan yang membentuk dinding batuan kapur berwarna putih menyangga Gunung Kelir

Memang sih, walaupun disebut kelir yang artinya layar pada pertunjukan wayang yang biasanya berwarna putih, dinding batuan kapur yang menyangga Gunung Kelir tidak semuanya berwarna putih. Sebagian besar malah sudah tertutup hijaunya dedaunan dari sesemakan dan pepohonan. Itu pertanda alam yang bagus! Sayangnya, terlalu sulit mengambil sudut yang tepat untuk mengambil gambar Gunung Kelir dari jalanan yang saya lewati. Dan saya pun melanjutkan perjalanan menuju Waduk Sermo.

Tidak banyak yang bisa saya ceritakan karena saya bukan teamtouring melainkan tim blusukan saja. Hanya saja agak aneh karena dari petunjuk arah yang saya baca tertulis Waduk Sermo, setelah sampai di sana ternyata waduk itu masuk wilayah Sremo… Yang bener mana nih? Sermo atau Sremo? (thinking)

Waduk Sermo dilihat dari Perbukitan Menoreh berlatar garis putih pantai selatan

Lepas dari Waduk Sermo, perjalanan relatif datar-datar saja karena sudah mulai meninggalkan lekukan-lekukan perbukitan Menoreh yang membuat jalan selalu berkelak-kelok kadang mengasyikkan, kadang mengerikan. Saat bertemu jalan propinsi yang menghubungkan Wates – Kutoarjo – Kebumen, saya membaca petunjuk arah bahwa Pantai Glagah dan Pantai Congot sudah tidak jauh lagi. Pilihan saya adalah Pantai Glagah yang tidak terlalu jauh dibandingkan Pantai Congot yang masih beberapa kilometer ke arah barat.

Makibao beristirahat di atas jeti berpagar tumpukan tetrapod di Pantai Glagah

Pantai Glagah relatif sepi dibandingkan pantai-pantai lain yang terkenal di sepanjang pantai selatan. Mungkin karena saya datang di hari kerja, bukan hari libur. Yang mengasyikkan, karena Pantai Glagah juga merupakan pelabuhan kecil pendaratan nelayan, di sana ada dua jeti berpagar tumpukan tetrapod yang mengapit kolam pelabuhan yang juga merupakan muara sungai.  Sayangnya, kolam pelabuhan itu tertutup gosong pasir sehingga lebih menyenangkan memandang lautan lepas dari atas jeti yang sebagian tetrapod-nya sudah tumpul karena terlalu sering dihantam ombak pantai selatan yang ganas.

Puas menikmati keindahan Pantai Glagah, saya kembali menyusuri jalan propinsi menuju ke Wates – Yogyakarta dan kembali ke Solo.

Mohon maaf kepada Panjoell si Tukang Nggunem yang tinggal di Wates, saya tidak mampir karena tidak tahu alamat rumahmu. Peralatan komunikasi pun lobet semua sehingga tidak bisa menghubungimu… Lain kali saya akan mampir! :-)

Post to Twitter Post to Plurk Post to Facebook Send Gmail

Related Posts

66 thoughts on “Jalur Wisata Gunung Kelir – Waduk Sermo – Pantai Glagah

  1. kok ya nganggo pasang sontrek barang lho, jiannn..
    *saya sekarang tinggal di Komplang, dhe.. beberapa kali saya mampir di hik pak Kasto Gumpang, dan menurut bliau njenengan diindikasikan sudah jarang wedangan di situ sebagai akibat keseringan ‘luar kota’ (jare pak Kasto lho)*
    sukses mawon mpun kagem touring-ipun..

    • betul sekali… saja jarang buanget nge-hik di Dhe Kasto… namun beberapa waktu lalu buat tamba kangen, Dhe Kasto saya minta untuk jualan di depan rumah saya, pas ada rapat RT… Huahaha… kondhang polll, rapat RT Tegalmulyo suguhane prasmanan Hik Kasto…
      Salam Sukses juga! suwun!

        • installernya cuma CD-1 aja, lainnya kelengkapannya (repo)…
          diinstall kalau diperlukan saja… tapi, melihat debian yang updatenya relatif lebih lambat dibandingkan ubuntu dkk, saya justru jadi suka karena bisa dipakai workstation untuk jangka lama walaupun miskin akses internet… :-D kelengkapan utk server juga sudah termasuk di situ… pokoke komplittt…

  2. perjalanan yang sangat mengasyikkan pastinya, mas andy. dah lama banget saya ndak main ke gunung kelir. puncaknya yang eksotis belum bisa saya lupakan hingga saat ini. pingin main lagi ke sana, ngobrol bareng, keceh bandwith sampai larut pagi, hehe …..

  3. Wah sepertinya obyek geologi yang menarik. Sekarang saya lagi di karangsambung yang ternyata ada sebuah kemiripan antara Lukulo dengan Bengawan Solo. Minggu depan semoga pulangnya bisa lewat gunungkelir….

    • sumpah mas! nggak ada menariknya pamer pergi ke luar negeri… yang di sini saja belum semua dikunjungi, padahal banyak yang hebat lho!
      ayo… kapan turing?

  4. tempatnya keren banget, tar maen kesana ah hehe. wah kapan saya bisa nulis kaya sampean ya mas hehe, pengennya sharing tapi apa daya seo begitu memabukan kepala dan perut mas :lol:

    o ya aku mau nyomot gambar No PB 2010nya mas a.s.a.p aku pasangi di blog konyolku :D

    salam sukses ;)

    • (rofl) gambarnya bebas kok mas Hendra! tulisan saya seadanya, justru ada saatnya nanti saya berguru SEO pada mas Hendra! kapan ya bisa kopdar?
      salam sukses juga!

  5. jadi inget dulu pernah camping di hilir sungai progo dekat pantai glagah ini. kalau mau ke pantai tinggal jalan kaki beberapa menit sudah sampai.. tapi seremmm euy kalo malem :D

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *