Jika ya, mengapa?

Cengkir yang sedang duduk-duduk manis di pojokan Pendapa Balai Desa Carangpedopo, mendengar kata itu seketika terpana. Nada bicaranya itu lho… Terkesan angkuh, sombong, dan merasa paling benar sendiri.

Balai Desa sore ini memang ramai oleh banyak sastrawan. Dan keramaian itu asal muasalnya berawal dari tulisan sastra seorang wartawan –yang kulit badannya belang-blonteng– di sebuah Buku Sastra yang berisi tentang pro-kontra Pesta Sastra yang pada tahun 2010 ini akan digelar lagi untuk yang ke empat kalinya. Banyak hal dengan kritis disampaikan oleh wartawan yang juga sastrawan itu. Dan akhirnya memicu pantun balas berbalas pantun (maklum sastrawan).

Lik Power, mantan chairman Pesta Sastra tahun lalu enteng saja berpantun di Buku Sastranya,

“tidak ada yang salah dengan pesta”…

Cengkir menyimak cerita dan menyumpah…

“ndlogok! apa nggak ingat tuh geger-genjik sewaktu para sastrawan dari Timur Tengah mengadakan Ziarah Wali Sastra, suatu acara roadshow silaturahmi dari timur ke barat yang puncak acaranya dipusatkan di Gunung Kolor?” (belakangan model ziarah wali sastra ini diadopsi menjadi Xaztra-zeLalu-NetRally)”…

Acara Ziarah Wali Sastra yang disusun tanpa protokoler itu sejatinya cukup berhasil menyambungkan tali silaturahmi. Sayangnya belakangan malah ada email-email bernada sumbang dari sebuah milis penunggang dokar  yang bocor ke media massa. Lik Power yang ndlogok itu pun ikut-ikutan mengenyek Ziarah Wali Sastra yang menurutnya tak ubahnya seperti perayaan tujuhbelasan kelas kelurahan. Itu baru dari seorang ndlogok saja. Belum lagi cangkeman-cangkeman modyar cocote dari banyak orang di milis penunggang dokar itu. Bahkan, seorang sastrawan terkenal yang selama ini mengklaim bahwa dia menyastra dengan hati ikut berkomentar; “Ada rasa inferior dan nggak pede sehingga ingin tampil ke permukaan”… Lebih lanjut, sang sastrawan seleb yang menyastra dengan hati itu juga menyoal sastrawan daerah… Lha emange ada sastrawan pusat ngono po??? (doh)

Masih ada lagi ejekan (masih di milis itu) tentang sujud syukur yang dilakukan tuan rumah sebagai ungkapan kegembiraan telah didatangi banyak orang untuk bersilaturahmi. Sungguh tak layak, Lik power mengaku sebagai orang yang ber-iman.

Cengkir mengelus dada kerempengnya… Oooo…. Begini to dunia sastra di sini???

Nah… Yang rame akhir-akhir ini karena beredar gosip di infotainment juga di keramaian Balai Desa Carangpedopo adalah soal nama Pesta Sastra sudah didaftarken oleh sebuah lembaga bisnis MaxErots yang di sana ada seorang Juragan Brono yang piawai melihat peluang menguntungkan walaupun macak no-profit.

Pertanyaan-pertanyaan pun bergulir bergelombang. Bisa jadi memang ide menyelenggarakan Pesta Sastra itu datangnya dari MaxErots seperti yang disampaikan pihak MaxErots sendiri:

Pertengahan tahun 2007, kami di MaxErots mendapatkan ide untuk membuat ajang kopdar bagi para sastrawan. Mungkin untuk sekitar 50 sastrawan saja. Akhirnya, kami menghubungi kawan-kawan sastrawan, di antaranya adalah Kendang dan NdoroCorah. Dari situlah tercetus keinginan untuk membuat acara kumpul-kumpul sastrawan.”

Ketika ada ajuan pertanyaan tentang benar-tidaknya MaxErots telah mendaftarkan sebuah nama yang dianggap menjadi hak pakai banyak orang, jawabnya adalah balik bertanya, “Jika ya, mengapa?“…

Pada tahun 2009, MaxErots mendaftarkan nama Pesta Sastra karena ajang ini sudah mulai menjadi ajang dan ‘brand’ yang dikenal luas dan memiliki reputasi tertentu; baik di kalangan sastrawan, penggiat dunia online, maupun sponsor. Jika tidak didaftarkan, tidak ada yang bisa menghentikan orang-orang yang dengan alasan komersial maupun non-komersial mengambil keuntungan atau menyalahgunakan nama PS yang sudah dibangun oleh para sastrawan Panitia PS selama tiga tahun ini. PS sendiri adalah kerja keras tim Panitia PS 2007, 2008, 2009, bersama para Chairman-nya. Setelah ‘mengamankan’ brand PS, tentunya para sastrawan Panitia PS dapat memutuskan dan diinformasikan sekiranya ada yang hendak menggunakan nama PS–agar tidak terjadi penyalahgunaan yang tidak kita inginkan. Pada dasarnya, MaxErots membantu sebagai fasilitator, dan keputusan lainnya memang diserahkan sepenuhnya kepada Panitia PS.

Dan Mas Aris Toteles -seorang filsuf yang baru-baru ini Buku Sastranya memenangkan penghargaan Bronze dari ISBA- pun menambah pertanyaannya sederhana,

“Siapa yang memberikan hak kepada MaxErots untuk mendaftarkan Pesta Sastra? sudahkah MaxErots meminta persetujuan kepada para sastrawan yang datang berpesta? atau jangan-jangan mungkin justru MaxErots dengan sengaja memanipulasi keterlibatan para sastrawan yang hadir dalam Pesta Sastra untuk alasan komersial maupun non-komersial mengambil keuntungan atau menyalahgunakan” seperti yang ditulis oleh MaxErots sendiri di Buku Sastranya?”…

“Itu artinya, makin membenarkan bahwa Pesta Sastra bukanlah sesuatu yang digagas dan di-organize dari, oleh dan untuk para sastrawan sendiri. melainkan oleh sekelompok orang yang mengatasnamakan para sastrawan untuk kemudian mengambil keuntungan dari para sastrawan”.

Tiba-tiba Cengkir teringat seorang kawannya dulu yang pernah jadi sastrawan. Waktu itu, kawan si Cengkir dimintai bantuan oleh seorang sastrawan lain yang sedang ikut berkampanye untuk calon Bupati/Wakil Bupati. Proposal pun dibuat dan kawan si Cengkir itu menghubungi banyak sastrawan-sastrawan di seluruh kabupaten untuk diundang hadir bilamana proposal disetujui. Sialnya, proposal ditolak karena anggaran terlalu besar. Dasar iseng, karena dipanasi bahwa ada acara sastra lain yang berdana kecil tapi berdampak sistemik, kawan si Cengkir itu pun gantian memanasi bahwa nama besar para sastrawan itu tidak menjamin kehebohan suatu gelar acara. Sebetulnya kawan si Cengkir itu tahu kalau di belakang layar si penerima proposal ada beberapa nama besar itu.

Tenan to… Tak berapa lama muncul suatu tulisan di sebuah Buku Sastra yang menyoal sastrawan makelar karena kawan si Cengkir ini dianggap memanfaatkan sastrawan pada umumnya.

Cengkir pun berfikir… Seorang sastrawan mengajak sastrawan lain untuk mengadakan acara sastra namun ditujukan untuk kampanye Bupati/Wakil Bupati. Sebetulnya sah-sah saja, namun ini bisa mengesankan bahwa sastrawan mendukung Bupati/Wakil Bupati tertentu. Kali ini ada juragan melihat peluang menarik dan mengadakan Pesta Sastra yang -katanya- ditujukan untuk para sastrawan secara umum… Dasar kaplitalis!… Ini sah-sah juga, tapi kenapa ketika ada yang menyoal Pesta Sastra, nama besar itu hanya enteng berkata “tidak ada yang salah dengan pesta”???

Ow… Jadi, kalau orang lain nggak boleh, kalau diri sendiri nggak apa-apa… (haha)

Cengkir pasang kuping sambil matanya mengintip walaupun terbengong-bengong sendiri melihat keramaian berbalas pantun itu. Geli ketika pak Kades bertanya,

“jadi masalahnya itu apa to?”

Mas Roy, anak pak Kades, yang mahasiswa kuliah di kota dan kebetulan sedang liburan di rumah orang tuanya ikutan berkata,

“buat yg lagi ngeributin beginian, dikiranya gampang ngadain event nasional gini? tong kosong deh”…

Kang Sronto anggota FPK, Front Pemuja Klenik ikutan menyoal perihal sah-tidaknya secara hukum tentang pendaftaran nama itu, -sepertinya gemes sama mbahsastro -sastrawan tua yang berulangkali bertanya nggak mudheng mengapa Pesta Sastra selalu diadakan di ibukota kabupaten-

“semoga yang lainnya dapat melek hukum juga disamping melek IT, atau yang merasa lebih pintar hingga harus menunggu jawaban, padahal uda lulusan perguruan tinggi (negri) pula, mereka masih belum mengerti tentang legalisasi hukum negri ini. Semakin terlihat jelas akan kebodohan disaat melampiaskan emosi mereka sendiri namun ternyata tidak mengerti (buta) tentang hukum, ah sayang”…

Cengkir membatin, “Owalah kang Sronto… kang Sronto… Sampeyan itu ternyata oportumis, eh… opportunis. Kok kayak sampeyan itu yang paling melek hukum? Sudah paham apa belum sih yang sampeyan sampaikan itu? Lha wong membedakan presidensial sama presidium aja nggak bisa kok mau ngomong ndakik-ndakik… Diam aja deh! Daripada nanti malah ketahuan kalau sampeyan itu pe**k!”

Di pojokan lain, Kang Guru tak banyak bicara,

“Sebut saja merajuk, tapi saya tidak mutung. Saya pastikan akan datang ke PS tahun ini”…

Rupanya Kang Guru masih teringat tahun lalu mendapat tempat di pojokan…

Dan keramaian obrolan sore pun berakhir setelah ada penjelasan panjang lebar Juragan Brono. Entah diterima entah enggak, banyak orang sudah malas meneruskannya…

Cengkir bukan sastrawan, Cengkir hanya suka menulis, namun Cengkir geli dengan dunia sastra di sini… Ternyata masih banyak sastrawan-sastrawan yang berebut nama membranding diri, sigap melihat peluang siapa tahu ada uang. Berlagak berbuat untuk sesama tapi nyatanya entah untuk apa…

Cengkir tidak tahu…

0::…

Catatan Andy MSE:

Cerita di atas hanyalah fiksi semata. Dituturkan dengan meniru gaya Obrolan Sore dengan setting Desa Carangpedopo. Bilamana ada kesamaan cerita atau nama, harap dimaklumi, itu memang agak disengaja… (haha)

Obrolan sore, carangpedopo, and names of desa carangpedopo’s people are trademarks of The PojokPradna. All rights reserved…

Penjelasan:

Sastrawan adalah orang yang mempunyai Buku Sastra dan menulisinya dengan aneka karya sastra. Ada yang rajin update, ada yang enggak.

Para pemain sebagian besar adalah tokoh-tokoh Desa Carangpedopo yang ikut bermain di sini membantu memerankan berbagai peran:

  1. Cengkir, seorang pemuda desa yang suka menyimak obrolan sore.
  2. Pak Kades, kepala desa.
  3. Lik Power, ndlogok.
  4. Mas Roy, kemlinthi.
  5. Kang Guru, masih sedikit kecewa.
  6. Mas Aris Toteles, sang filsuf.
  7. Juragan Brono (aslinya namanya Babah Liem), pengusaha yang kondang dengan kepiwaiannya dalam menjalankan bisnis sembako,
  8. Kang Sronto, sok tahu.
  9. Beberapa sastrawan baik yang seleb, terkenal, maupun yang tidak seleb dan tidak terkenal, baik yang sekedar menyastra untuk kesehatan jiwa, iseng, ataupun berusaha mengais recehan dollar, sampai yang menyastra dengan hati.

Post to Twitter Post to Plurk Post to Facebook Send Gmail

Related Posts

93 thoughts on “Jika ya, mengapa?

  1. Ak moco iki kudu mbandingke neng kono, sopo dadi sopo… (Dasar lemot) (haha)
    Seng bar menang ISBA kui emang filsuf sejati, neng filsuf kok saru ya.. (ninja)

  2. makane aku mung tahan ngobrol 5 menit sama sampeyan kang, dan aku lebih memilih untuk melihat-lihat hasil panen ku aja. sampeyan cuma sastrawan daerah yang membosankan, sastrawan yang eksistensinya pingin diakui aja. Kalo sampeyan berminat aku ada teman sastrawan ayng bisa mendongkrak kepopuleran sampeyan tentunya dengan imbalan yang sudah ditentukan.

    Tertarik?

    *ngekek di pojokan kali brantas*

  3. ngekek tenan Obrolan Sore dadi “remuk” ning kene (rofl)

    tapi,
    beneran, jadi terharu, ikon Obrolan Sore sampe ke level Nasional seperti ini…*hiks* :'(

    Apalagi sampai dibuatkan banner-nya. Worship (worship) dah!

  4. 1. Apakah aku termasuk sastrawan?
    2. Saya kagak tau desa diatas.
    3. Aku suka tulisan diatas.
    4. Aku urung tau kuliyah, po maneh negri.
    5. Aku urung tau melu pesta sastra tp wis tau pesta saru.
    6. Aku urung tau ngerti maxerot tp wis tau kepetuk mbahsangkil sing suaru.
    7. Sumpah aku gak fast reading, tak woco kat judul teko komentar nduwurku iki
    8. Kalo iya mengapa? Ini cuma cerita sore!

  5. @mbahsangkil sing saru, haha iyo mbah wis oleh link keramat pitung turunan. Suk lek ktmu aku njaluk sing wis enek ben gak usah ndonlod

  6. intinya saja kali ya, kak… kita ini jangan sampai merasa lebih baik dari orang lain, karena belom tentu orang laen lebih buruk dari kita,,,
    jadi, kita harus menghargai pendapat orang lain, sejalan atau tidak pendapat itu dengan pendapat kita…. pokoknya, apapun yang terjadi… kita harus bisa lebih menghargai orang lain di situasi apapun…

    salam akrab dari burung hantu

  7. tak kukira Kang Cengkir pintar menulis sastra, bagus lagi, wah, mesti belajar ni, kapan-kapan mampir ke Bengawan Sastra ya kang? :P

  8. pakde saya namanya sastro, tp nggak suka membaca atau menulis. tp beliau terkenal klo bikin minuman nyiamik bener, makanya lbh sering dipanggil dng sastro jayeng. ntar klo ada pesta sastra, mbok diulemi mas :)

  9. pada ngomongin Pesta Bloger yah hehehe jadi ingat kegiatan jalan jalan bareng Bloger ngomong mas andy ini bloger terkenal juga yah
    Terkenal brengosnya maksudnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *