Kita Harap Ini Tak Terulang Lagi

Tiba-tiba saya terjebak dalam situasi yang tidak direncanakan namun justru memberikan pelajaran sangat berharga bagi diri pribadi saya soal kehidupan ini. Saya tidak akan bercerita soal pelajaran itu, namun saya akan ceritakan perjalanan tak sengaja yang mengesankan.

Layar Tancap

Suatu hari saat saya berkunjung ke #RBI (Rumah Blogger Indonesia) – Bengawan, ada rombongan relawan yang akan menuju ke daerah bencana Merapi untuk memberi hiburan kepada para pengungsi berupa pemutaran film menggunakan media layar tancap. Sebetulnya kegiatan itu sudah berlangsung lebih dari seminggu dan menggunakan #RBI sebagai salah satu persinggahannya, namun saya yang belum pernah sama sekali mengikuti kegiatan mereka tiba-tiba tertarik untuk ikut ke sana. Kegiatan itu terselenggara atas kerjasama Internet Sehat/ICT-Watch, Komunitas Online antara lain #RBI, Bengawan, Jogloabang, dan lain-lain, juga didukung oleh beberapa pihak lain termasuk sponsor.

Singkat cerita, berangkatlah menuju ke Jogloabang, Mlati, Sleman sebelum menuju ke tempat pemutaran film karena tempat yang dituju dikoordinasikan dulu dengan Demang Jogloabang dan kawan-kawan.

Jujur, walaupun beberapa kali saya melihat langsung keadaan para pengungsi, tetap saja ada rasa trenyuh dalam hati. Banyak orang beristirahat berjubal-jubal dalam aula besar di STIE YKPN Yogya. Anak-anak banyak bermain dengan penuh kegembiraan seolah tak merasakan bahwa mereka sedang terkena musibah. Seorang anak usia SD yang sedang belajar dibimbing mahasiswi cantik dari kampus setempat sempat saya tanya:

“Dik, sudah kelas berapa?”

“Kelas, enam”,  jawabnya.

“SD-nya mana?”, lanjut saya.

Sambil tersenyum acuh tak acuh, si anak SD itu menjawab, “SD-ku kobong!”… (SD-ku terbakar)…

Sebetulnya tidak begitu tepat jawaban anak itu, kenyataannya SD-nya bukan terbakar melainkan luluh-lantak diterjang awan panas. :-(

Ya… STIE YKPN Yogya memang menjadi salah satu barak pengungsian di antara puluhan tempat serupa. Banyak pengungsi sudah kembali ke kampung halamannya, namun warga Dusun Pangukrejo, Desa Umbulharjo, Cangkringan, Sleman  yang mengungsi di STIE YKPN Yogyakarta belum bisa kembali karena hampir seluruh dusunnya benar-benar tidak bisa ditinggali sebelum dibangun kembali.

Terlalu lama dalam pengungsian (lebih dari tiga minggu) bisa jadi membuat para pengungsi stress. Para relawan pun berbuat sebisanya dari hal yang serius sampai hal yang kelihatannya sepele seperti memberikan hiburan sekedarnya untuk mengurangi rasa gundah-gulana bagi mereka yang tertimpa musibah.

layar tancap di barak pengungsian

Tak tahu, apakah anak-anak juga bosan dengan keadaan di pengungsian, berbeda dengan para remaja dan orang tua yang tersenyum-senyum saat melihat sesuatu yang lucu di film yang diputar, anak-anak lebih heboh lagi dengan berteriak-teriak dan tertawa keras  (lol) . (rofl) . (lmao) sebelum akhirnya tertidur pulas saat pemutaran film berakhir…

Saya hanya bisa tersenyum kecut… :-(

Pangukharjo

Kembali dari pemutaran film dan beristirahat di Jogloabang, kembali mendapat tawaran untuk mengikuti kegiatan ProFauna yang akan menuju ke daerah bencana esok harinya. Rasanya relawan ason-ason ini tanggung kalau menyiakan kesempatan.

Demikianlah, esok harinya saya mengikuti relawan ProFauna menuju ke Dusun Pangukrejo, Desa Umbulharjo, Cangkringan, Sleman. Kegiatannya juga sederhana saja, namun bagi saya sangat penting. Mereka -para relawan- bermaksud mendata hewan ternak yang mati, mengambil gambarnya, mencatat jenis, lokasi, dan informasi lain agar sedapat mungkin nantinya diketahui kepemilikan ternak tersebut. Mereka tidak bekerja sendiri melainkan bekerjasama dengan pemerintah setempat melalui dinas terkait. Pemusnahan bangkai ternak itu dimaksudkan agar tidak mengganggu lingkungan dan menyebarkan penyakit.

Donny BU dan Arif TS dari Internet Sehat bersama Gentho Kelir dan relawan Profauna

Setelah melakukan koordinasi di depan Kantor Dinas Peternakan, perjalanan yang sesungguhnya dimulai. Saat perjalanan memasuki batas daerah aman, rombongan harus melalui pemeriksaan aparat. Tidak semua orang diperbolehkan masuk ke daerah bencana, walaupun seolah-olah daerah tersebut tidak terkena sesuatu apapun. Suasana pedesaan masih seperti sediakala penuh dengan kehijauan yang menyegarkan, namun terasa sepi karena rumah-rumah di dalam batas bencana yang dtentukan masih belum boleh ditinggali sampai Merapi dinyatakan aman.

Memasuki Desa Umbulharjo dan sampai ke sebuah pertigaan, ada papan pesan berwarna merah mencolok:

Pesan Merapi

Pesen Merapi :
“Aku ora ngalahan, tur yo ora pengin ngalahke, nangin mesti tekan janjine. Mung nyuwun ngapura nek ana sing ketabrak, keseret lan kegowo kentir, kebanjiran lan klelep, mergo ngalang-ngalangi dalan sing bakal tak liwati”.

Tulisan itu tertera di bawah tulisan besar “AWAS!!! Anda Memasuki Daerah Rawan Ancaman Awan Panas” yang terbaca saat sampai di sebuah pertigaan di Desa Umbulharjo yang dipenuhi oleh penjaga bagi oleh warga lokal maupun dari aparat kepolisiaan dan TNI. Daerah di atasnya hampir tida ditoleransi untuk dikunjungi apalagi ditinggali selama Merapi masih dalam Status Awas, kecuali untuk keperluan yang khusus dan mendesak.

Tidak jauh dari pertigaan itu, sudah terlihat di kejauhan pepohonan yang meranggas, rumah-rumah yang gentingnya berantakan. Pikir saya, itu pasti terkena awan panas. Itu benar, tapi masih jauh dari yang sebenarnya. Ketika rombongan menyingkirkan hambatan jalan sebelum memasuki Dusun Pangukrejo, saya masih belum menyadari keadaan sebenarnya. Mulai dari sini tak bisa dibedakan lagi mana warga, mana relawan, mana polisi, mana tentara, mana pegawai negeri… Semua sama-sama bekerja semampunya.

membuka penghalang jalan yang dipasang warga agar tidak dimasuki sembarang orang

Dan keadaan sebenarnya dimulai saat masih Dusun Pangukrejo, dusun yang berada persis di bawah Dusun Kinahrejo tempat tinggal Mbah Maridjan di lereng selatan Merapi.

Pada letusan besar Merapi yang pertama pada tanggal 26 Oktober 2010, awan panas menyapu habis Kinahrejo (termasuk Mbah Maridjan), namun belum sampai di Pangukrejo. Baru pada letusan dahsyat 5 November 2010 barulah Pangukrejo yang terletak di sisi timur Kali Kuning itu ikut terkena. Awan panas dahsyat itu sendiri lebih banyak mengalir mengikuti aliran Kali Gendol yang terletak agak jauh di sebelah timur Umbulrejo, dan mengalir jauh ke bawah ke kaki gunung sampai jarak 17 km ke arah tenggara.

Dusun Pangukrejo

Di dusun bagian bawah, kehancuran belum begitu parah. Rumah-rumah masih banyak yang berdiri tegak walaupun banyak bagian yang mengalami kerusakan. Semakin ke atas, semakin jelas terlihat bahwa kerusakan total telah terjadi pada area yang sangat luas.

Pedusunan bagian atas hampir-hampir tidak ada bangunan yang utuh

Sulit membayangkan bagaimana bentuk, keadaan, dan kedahsyatan awan panas yang menerjang. Namun dari bekas-bekasnya bisa terlihat bahwa awan panas itu membawa material kasar dalam jumlah yang sangat banyak dengan kecepatan luncuran yang cukup cepat serta suhu yang cukup tinggi. Banyak pepohonan miring bahkan roboh ke arah yang sama, dedaunannya terbakar habis, pohonnya pun mati. Di sana-sini terlihat potongan-potongan kayu yang hangus menghitam.

Karena sudah beberapa hari lewat dari bencana, bau busuk sudah menyebar kemana-mana. Ternak mati yang masih tertinggal bilamana dibiarkan membusuk begitu saja akan menimbulkan penyakit.

Evakuasi dan pencarian korban manusia sudah dilakukan sesegera mungkin setelah terjadi bencana, namun ternak mati masih dibiarkan bergelimpangan.

bekas kebakaran pada pintu sebuah rumah

pintu sebuah kamar mandi yang meleleh

jerigen lumer

jemuran menyisakan bekas-bekas terbakar

instalasi listrik hancur total

Bisnis "Ada Kamar" yang marak di Pangukrejo terpaksa berhenti. Sementara tak ada sampah kondom bekas pakai

pembakaran ternak mati yang sudah mulai membusuk setelah sebelumnya didata dahulu

beberapa hari setelah bencana, alam mulai menyeimbangkan diri. lompong pun trubus lagi

genthokelir dengan lightoffroader-nya yang tangguh. pakai masker biasa tak bisa menahan bau busuk yang menguar dari bangkai-bangkai ternak

relawan dadakan -andymse-donnybu-arifts

seorang anggota TNI memotret suasana pasca bencana

Di sela-sela orang bekerja keras melakukan bermacam hal yang bermanfaat, ada pula yang memotret, mengambil aneka gambar. Ada yang untuk keperluan publikasi, media, dokumentasi, banyak pula yang memotret diri sendiri.

Wajar dan tak bisa disalahkan! Senarsis-narsisnya di sini, tetap saja dalam hati terpohonkan doa dan harapan, “semoga kejadian ini tak terulang lagi“… (worship)

gambar-gambar adalah jepretan Andy MSE ditambah ambilan dari Facebook Antok Suryaden dan Genthokelir.

Post to Twitter Post to Plurk Post to Facebook Send Gmail

Related Posts

30 thoughts on “Kita Harap Ini Tak Terulang Lagi

  1. matur nuwun kang andy Mse untuk kebersamaan nya dan kerelaanya berjejer dengan bau busuk bangkai merapi yang terbawa di baju merah ku hahahaha
    salam hangat selalu

  2. Asli ngeliat fotonya ajah udah ngeri, apalagi langsung melihat kesana. Semoga kejadia ini tidak terulang lagi baik di jogja maupun di kota manapun di Indonesia. Amin

  3. Bencana ini selain merusak daerah primer, juga mempengaruhi bisnis dan perekonomian di Yogya pada umumnya. Banyak proyek pemprov maupun pengkab yang pada bulan bulan seperti ini digunakan ajang untuk menghabiskan anggaran. kini dana tersebut di alokasi sebagian besar untuk recovery….. dan memang gak ribet , gak perlu tender meski susah dalam akuntabilitasnya.. itu yang dicari kan ?…Pis..

  4. Tidak membaca tulisan ini saja saya sangat ngeri kalau melihat tayangan ditelevisi kemarin, apalagi tambah membaca di sini, trenyuh banget. Btw, kalau filmnya yang untuk anak-anak diputarkan yang sesuai dengan usianya semacam spongebob, Bernard Bear, saya yakin anak-anak tidak akan ngantuk, benar anggak? Salam kenal dan rindu selalu dari Dina – Semarang.

  5. saat alam ‘mengamuk’, tak satupun manusia yang kuasa melawannya. Lalu untuk apa kita pongah terhadap yang lain? Bukankah kita bagai sebutir pasir yang tak berdaya apa-apa dihadapan-Nya?? Dibalik bencana tersimpan berkah— Semoga saudara2 kita disana diberikan ketabahan dan kekuatan untuk membangun kembali serpihan2 hati yang terkoyak. Indonesia Berdoa untuk kalian

    salam hangat cah!

  6. Wah, Pak, aku tidak bisa ikut ke sana. Salut dengan para relawan.

    Itu bisnis “ada kamar” sebaiknya tidak usah dihidupkan lagi. Ya… bagaimana ya… di sekeliling Merapi mungkin banyak kondom bekas yang penduduk sekitarnya tidak mampu membersihkan. Akhirnya, Merapi sendiri yang membersihkan.

  7. bencana merapi memang mengerikan, kita hanya bisa tabah dan terus berjuang untuk menjalani hidup dengan lebih baik lagi.
    tetapi banyak juga sisi baiknya, misal kita kembali seperti dahulu saling tolong menolong membantu korban bencana. Tentunya dengan bantuan orang yang baik dan ikhlas seperti mas – mas di atas.. suwun

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *