Komputer Rakitan Diki

Diki, anak saya sekarang sudah kelas 1 SMK di SMKN 2 Surakarta Jurusan TKJ (Teknik Komputer & Jaringan). Tentunya, ini jadi sesuatu yang menyenangkan bagi saya karena saya bisa menularkan sedikit pengetahuan yang menjadi hobby saya dan kebetulan berkaitan erat dengan jurusan yang Diki ambil di sekolahnya. Sebetulnya sih dulunya Diki ingin mengambil jurusan mesin, namun saya menyarankan agar mengambil jurusan lain. Bukan apa-apa sih! Beberapa kali Diki saya ajak bongkar pasang mesin motor, kadang sekedar melakukan perbaikan ringan motor atau mobil, ternyata tangannya tidak cocok.  Jari-jari tangannya terlalu lentik untuk memegang peralatan teknik mesin apalagi yang berat dan butuh tenaga kuat, lebih cocok bila memegang peralatan elektronik. (haha)

Beruntung Diki menuruti saran saya. Sebagai ungkapan kegembiraan, saya dan ibunya membelikan sebuah komputer baru yang saya beli dalam keadaan terurai belum dirakit secara utuh. Pelajaran praktek pertama yang saya berikan adalah merakit komputer itu, melakukan pengecekan, dan menginstall operating system beserta aplikasi-aplikasinya.

Keseluruhan komputer itu dirakit oleh Diki, sedangkan saya hanya mengawasi dan melakukan pengecekan akhir saja. Ini dia komputer rakitan Diki yang pertama:

Spesifikasinya cukup sederhana:

Mobo menggunakan Intel Desktop Board D410PT dimana processornya (Intel Atom D410) terpasang secara onboard. Sengaja saya pilih ini karena processornya yang hemat energi cukup menggunakan heatsink saja tanpa kipas. Lagipula processor yang terpasang onboard tanpa socket mengurangi sedikit kerumitan perakitan. Lain kali Diki akan saya coba untuk merakit board yang processornya dipasang pada socket dan mengunakan heatsink serta kipas pendingin, atau bahkan yang lebih rumit lagi.

Melengkapi mobo itu, terpasang memory DDR2 berkapasitas 2GB, DVD Rewriter Double/Dual Layer yang bisa melakukan baca tulis pada cakram sampai kapasitas 8.5GB, dan  dua buah harddisk masing-masing berkapasitas 320GB –sementara ini dipasang satu saja-. Keseluruhannya terpasang pada casing yang cukup baik —belakangan saya baru menyadari bahwa power supply yang sepaket dengan casing itu ternyata kurang stabil sehingga saya ganti yang berkapasitas sedikit lebih tinggi. Setelah saya oprek sendiri dengan mengganti kapasitor dan beberapa komponen lain, bisa saya gunakan dengan baik di komputer lain–.

Setelah selesai dan disambungkan dengan monitor lcd murahan, keyboard, dan mouse, komputer rakitan Diki siap dipasang operating system. Yang pertama adalah Windows XP Home yang tadinya digunakan di laptop lama yang sudah rusak dan beruntung masih bisa diaktivasi ulang sehingga tidak perlu membayar lisensi lagi… (haha) Operating system yang lain tentu saja adalah Linux dan pilihan Diki jatuh pada Ubuntu  10.04 LTS Lucid Lynx.

Sebetulnya saya ingin juga memasang  distro lain yang bisa dipilih saat booting antara lain OpenSUSE 11.3, Fedora 13, Linux Mint 9, BlankOn Ombilin, Debian Lenny, dan Zenwalk.  Namun, karena tidak ingin mengganggu kesenangan Diki, OS lain saya siapkan di harddisk satunya dan saya gunakan saat perlu saja.

Sebetulnya cerita serunya bukan soal merakit komputer dan menginstall operating system. Sudah umum diketahui bahwa menginstall Windows jauh lebih menyebalkan karena harus menginstall driver-driver, juga aplikasi-aplikasi lain. Ini berbeda dengan kebanyakan distro Linux yang datang dalam paket yang cukup lengkap. Bilamana kurang komplit pun gampang dicari di internet. Satu yang terpenting yang menjadi catatan Diki adalah saat melakukan instalasi operating system secara dualboot, titik krusialnya hanya pada pemartisian. Begitu hal itu terlewati, semuanya lancar jaya. Justru yang seru adalah saat pertama kali melakukan koneksi internet. Lebih banyak catatan-catatan soal itu, dan akan saya ceritakan lain kali saja. :-D

bersambung […]

Post to Twitter Post to Plurk Post to Facebook Send Gmail

Related Posts

54 thoughts on “Komputer Rakitan Diki

    • hehe… ya karena Diki inginnya jadi tukang, ya saya dan ibunya harus menfasilitasinya agar bisa jadi tukang yang baik. semoga kelak bisa jadi tukang teladan…

  1. cukup kirim spec dan ketersediaan dana… dibelanjakan Diki juga boleh, belanja sendiri juga boleh… kl mau datang ke rumah malah bisa dirakit sendiri, saya yg lakukan supervisi… (haha)

  2. ayah inspiratif tahun ini jatuh pada bang andy..

    semoga saya nanti nya bisa jadi ayah seperti anda , bahkan lebih baik,,,,

    *kabeh munio AMiiiiiin…YA Rabb*

  3. wekekek … like father like son :-D … dari dulu di support sama babeh, apa lagi sekarang sekolahnya mendukung oprek mengoprek … makin intens aja mengopreknya (LOL)

  4. wah bisa jadi pemasukan nih, kaka saya juga suka merakit komputer dan kadang ada pesanan juga..

    pas bilang jari tangan Diki lentik kok jadi inget Didik Nini Thowok ya hehe..

  5. waduuuh mantab nih dah bisa ngrakit sendiri putranya..
    saya bisa merakit malah pada saat sudah kuliah hehehe..

    salam kenal

  6. Dik Diki tolong ajari Om bikin dualboot OS. Ini aja masih mumet belum ilang-ilang mikir partisi yang lenyap gak berbekas.
    ** jadi ngiri ada yang ngajari Diki
    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

  7. bagi denuzz … hal yg paling menyebalkan dalam mengistall operating system yaitu menginstall segala macam tetek bengek drivernya … entah kenpa rasanya maalas banget … :D
    pasti ada aja yg bikin kesel …

    ~~~ Salam BURUNG HANTU ~~~

  8. Kalau di jaringan, kesempatan untuk bekerja terbuka lebar disamping tersedia jenjang karir yang bagus. Apalagi kalau sudah dapat sertifikat sisco… 80% jalan terbuka lebar..semoga Dik! Terus semangat Dik, mumpung punya ayah yang ngerti tentang IT.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *