Dari puluhan ribu atau ratusan ribu atau jutaan tabung gas yang beredar di masyarakat baik yang 3 kiloan, 12 kiloan, maupun yang lebih besar lagi, misalnya 15.000kg, sering terdengar berita kecelakaan yang biasanya adalah ledakan yang menimbulkan kebakaran. Beberapa ledakan sudah menimbulkan korban jiwa.
Konversi energi untuk urusan dalam negeri rumah tangga yang kebanyakan digunakan untuk memasak ini, dari minyak tanah ke LPG -liquid petroleum gas atau lebih dikenal dengan elpiji-, telah menimbulkan goncangan sosial baik terkait urusan daya beli, ketersediaan produk di pasaran, sampai ke urusan teknis penggunaannya. Semuanya butuh persiapan matang dan tidak serta-merta. Apalagi untuk urusan teknis penggunaan, tentunya harus dilakukan sosialisasi yang cukup sehingga banyak orang yang tadinya merasa nyaman dan aman saat menggunakan minyak tanah sekarang pun juga aman dan nyaman menggunakan gas.
Tanpa bermaksud membela kebijakan konversi energi ini (pun bukannya tak berempati terhadap korban kecelakaan elpiji), menurut pengamatan saya kecelakaan-kecelakaan yang terjadi prosentasenya sangat kecil, namun seringkali sangat dibesar-besarkan.
Saya teringat dulu sewaktu masih belum remaja, waktu itu di jaman pemerintahan bapak pembangunan amat sangat disarankan untuk berganti bahan bakar untuk keperluan rumah tangga dari kayu bakar ke minyak tanah. Produksi digenjot tinggi, distribusi pun disebarluaskan sampai ke pelosok-pelosok pedesaan dengan harga yang disubsidi. Pada awal-awal penggunaannya, sering terdengar berita kompor minyak meledak… Maksud hati menjerang air untuk membuat secangkir kopi, yang terjadi seluruh rumah menjadi sangit karena ludes dimakan api.
Ada korban, prosentasenya sangat kecil, namun tidak diberitakan seheboh jaman sekarang ini karena media juga belum semaju ini.
Tidak dipungkiri, ada saja ulah nakal sebagian pihak yang mengambil keuntungan sendiri dengan mengedarkan material yang tidak sesuai standar keamanan baik tabung, regulator, selang, maupun kompor gas. Dari pengamatan saya, ada benda yang cukup kecil namun seolah luput dari perhatian banyak pihak yaitu seal karet. Kecil, sederhana, murah, namun sayangnya jarang sekali saya menjumpai kualitas seal yang baik. Padahal, justru sebagian besar kebocoran gas disebabkan karena seal yang kurang baik. Soal ini, sepertinya harus disampaikan kepada penyedia produk agar terus menerus meningkatkan kualitas produknya demi keamanan bersama…
Nah… bila kita sudah tahu dan mengetahui ada tetangga kita yang kesulitan menggunakan teknologi baru itu, tak ada salahnya kita membantu. Siapa tahu, bila acara masak si tetangga telah usai, kita diberi kesempatan mencicipinya…
Yang terpenting, yang kecil-kecil seperti ini termasuk prosentase kecelakaan yang kecil ini, tidak selayaknya disepelekan…
Gitu aja! Menurut sedulur bagaimana?
gambar diadopsi dari twitter error yang menyebalkan…
harga disesuaikan atau distribusi diperketat misal hanya pertamina yang boleh menjual melalui spbu2.
komen ku kok ilang?
wes komen po durung yo mau?
hatrick… 3 komen berturut2 tapi malah mbingungi…
setuju prosentasenya sangat kecil… tetapi yang namanya kecelakaan tetep kecelakaan.. harus ada upaya-upaya preventif.
*semik produktif banget pak ustadz iki*
masyaAllah… kan sudah saya bilang… sekecil apapun jangan disepelekan…
*santri kethul!!!…*
Astaghfirullah… betul pak ustadz, yang kecil pun kadang bisa bikin masalah besar
*ustadz bludregan*
Ya kalau ngitung kesalahan relatif sih memang begitu. koyo ngetung podho-podho selisih 1 cm, siji ngukur jembatan-siji ngukur pensil. Jelas nek le ngukur pensil kesalahan relatifE luwih gedhe, padahal podho-podho salah 1cm….
bingung aku… sing komen nahdhi, url-e guskar…
katanya konversi adalah keharusan tapi dalam pelaksanaannya harus disosialisasikan sebaik mungkin agar tidak terjadi lagi ledakan tabung.
setuju mas, film porno artis juga cuman sedikit, tapi sudah mau blokir semua situs
artisnya memang sedikit, tapi kan situsnya bejibun
…
lapor mas andy, Sebelum kejadian bom hijau meledak di mana-mana, kalau saya beli lpg 12 kilo akan berbau jika hampir habis, dan daya tahannya hanya 15-20 hari. Bulan ini tabung gas saya bisa tahan 1,5 bulan! kembali seperti beberapa tahun yang lalu! … semoga kejadian ‘bom’ di rumah tersebut memang membawa hikmah. pemerintah semakin ‘panas dingin’ bekerja keras membetulkan mental pejabat yang bobrok agar pada ‘bangun dari tidur’ mereka
kita ‘teror’ aja terus pemerintah dengan berita-berita ‘kecil’ ini
… siapa tahu dengan keringat dinginnya dan tekanan bertubi-tubi maka pak beye akan bergerak secepat kuda pacuan daripada kebo di sawah
laporan diterima… segera laksanakan tindakan2 pengamanan seperlunya!
*xixixi*
wong endonesa senengane mung nggedek-nggedekne masalah thok…. wkwkwk….
lho.. ora njedul meneh to komengku….
asemikkk….
iya, sepakat sama mas Gadget…
kalau semua sudah baik dan ndak meledak, kan ndak ada berita…tinggal cari bom berita lain, biar pemerintahe rodo bener.
yang sudah besar nggak usah dibesar-besarkan…
yg belum besar, dielus-elus biar besar… ==D
kapan ya elpiji aman dan pasti…
Jujur kang, aku sampe sekarang belum bisa masang regulator ke tabung gas.. soale sek wedhi.. hehe…
BTW sedikt komentar perihal pemberitaan media, memang benar apa yang diutarakan kang andy. jaman sekarang pemberitaan cukup cepat dan aktual.. Namun dari pemikiran saya pribadi, hal itu memang membuat masyarakat update akan informasi naum di sisi lain jika informasinya negatif akan memunculkan ketakutan berlebihan di masyarakat.
**kalo salah mohon dikoreksi.
sama donk dengan saya
… sampai sekarang saya masih belum berani masang sendiri
sesuatu yang kecil sekarang menakutkan karena efek dibesar-besarkan…… mak erot kali…
Perang dunia ke-3 pake elpiji wae
*gambar diadopsi dari twitter error yang menyebalkan…*
pasti failwhale kan???
nadyan cilik ora keno disepelekne,
senajan gedene mung sak upil tetep penting lan migunani marang keselametan
sebenernya si walaupun presentasenya kecil tapi tetep aja memakan korban.. sama aja bikin cemas
klo bisa si gak sampe bikin korban
presentasi 0% eaaa
meletus tabung hijau duarrrrrr
berati sangat banyak rintangan apabila kita mau berubah ya om?
tumben pro
Proteksi pada media massa memang ibarat pisau bermata dua. Disatu sisi bisa meredam konflik akibat pemberitaan disisi yang lain seperti mengebiri hak untuk memperoleh berita yang patut di ketahui. Seperti kasus LPG ini, media lah sebagai pemicu sehingga opini masyarakat bahwa LPG 3 kg berbahaya. Mungkin (kalau bisa berandai-andai) pada masa bapak pembangunan, berita ledakan, tawuran, kenaikan harga sembako dll selalu di tekan agar di daerah lain tidak terjadi hal seperti itu. Sekarang setelah kita masuk di era reformasi semuanya serba terbuka tanpa ada filternya, ujung-ujungnya di benak masyarakat tertanam bahwa elpiji itu berbahaya (sad)
Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan
iya kang…memang karena kemajuan pemberitaan pula, terkadang hal yang sifatnya sepele sering dibesar2kan. Seolah2 kebijakan pemerintah itu tidak ada yg benar. Seharusnya kita sendiri juga hrs bisa berfikir dengan rasional atas semua masalah2 yg terjadi.
Benar…. setuju sm Mbah Sangkil, distribusinya yang hrs diperketat…
yup, media massa memang berhasil sebagai mesin propaganda.dia mampu membentuk pola pikir masyarakat dengan sangat cepat.
tapi ya gak semua hanya mencari profit dengan membesarkan berita yang kecil, tapi kita juga harus mampu mengambil hikmah dari itu semua. kal adda berita banyak kompor gas yang meledak, berarti kita juga harus waspada tau ciri cirinya dan cara penanganannya.
bner bgt,,, coba bayangkan berita yang sama di ulang beberapa kali di TV, dri beberapa chanel berbeda,
lalu akibatnya dapat di lihat, ketakutan masyarakat semakin menjadi…
Jadi takut ama LPG, tp kalo ga pake LPG pake alternatif apa an yach…..tentunya yg murmer (murah meriah gt….) juga ga kalah penting harus amaaaannnn…….
ibu tidak percaya kalau yang memasang gas nya saya, pokoknya harus bapak
memang harus diberi penataran penggunaan elpiji ya..
kecil tapi berdampak sistemik