Kupu-Kupu

Kupu-kupu yang lucu,
kemana engkau terbang,
Hilir-mudik mencari,
Bunga-bunga yang kembang,
Berayun-ayun,
Pada tangkai yang lemah,
Tidakkah sayapmu,
Merasa lelah…

Yang di atas itu adalah cuplikan lagu Kupu-kupu, salah satu Lagu Anak Nasional karangan Ibu Sud, yang sudah lawas banget.

Tentu saja, banyak orang termasuk anak-anak akan suka sekali melihat kupu-kupu yang indah memamerkan sayapnya beterbangan kian kemari. Sebaliknya, walaupun banyak pula yang tahu bahwa kupu-kupu itu berasal dari ulat, tidak semuanya mau bersahabat, bahkan seringkali takut, menghindar, dan ada pula yang tega membunuh ulat yang lemah itu. Sudah barang tentu, kalau semakin banyak ulat dibinasakan, tentu akan semakin berkurang keindahan kupu-kupu.

Itulah sebabnya, tidak sembarang kupu-kupu masih bisa bertahan berada di dekat manusia. Beruntung, banyak kupu-kupu yang unik masih dapat berkembang dengan baik di alam yang masih liar, misalnya di kebun-kebun yang cukup jauh dari habitat manusia, di hutan-hutan, dan untuk melindungi spesies langka, bahkan ada Taman Nasional yang kekayaan terbesarnya adalah kupu-kupu misalnya di Bantimurung, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.

Saya pernah sekali ke sana, tapi dulu…

Sekarang, saya lebih suka melihat kupu-kupu di desa tempat saya bergiat, di Limbangan, Kendal, Jawa Tengah. Ada salah satu dusun yang masuk wilayah Desa Limbangan, namanya Dusun Banyuwindu. Dusun itu terletak di ketinggian 700-800 meter dpl, sejuk, dan masih berhutan-hutan perawan. Keanekaragaman hayati masih tergolong baik di sana walaupun mendapat tekanan eksplorasi manusia. Masih banyak kera dan lutung, luwak, aneka burung, dan kupu-kupu. Yang terakhir ini, walaupun tidak selengkap di Bantimurung, namun koleksi kupu-kupu sejumlah 57 spesies saja yang telah berhasil di-inventarisasi Green Community UNNES Semarang bersama Sekolah Rakyat Kendal rasanya sudah cukup baik dan menyenangkan.

Bilamana sedulur ingin mengetahui tentang Kegiatan Penelitian dan Inventarisasi Kupu-Kupu di Hutan Banyuwindu, silahkan menilik Laporan Publik yang telah dikeluarkan oleh Sekolah Rakyat (Lembaga Swdaya Masyarakat yang bergiat di sana) pada akhir April 2010. Penelitiannya sendiri telah dilakukan pada akhir 2009 lalu.

Yeach… Alas Banyuwindu atau Hutan Banyuwindu akhir-akhir ini menjadi favorit saya sebagai tempat untuk sedikit bernafas sebelum bergegas-gegas melanjutkan aktifitas di lain tempat.

Foto di tulisan ini bukan bagian dari Kegiatan Penelitian dan Inventarisasi Kupu-Kupu di Hutan Banyuwindu, melainkan dari Travelblog Claire Lewis yang pernah berkunjung ke Hutan Banyuwindu 3 tahun lalu…

Post to Twitter Post to Plurk Post to Facebook Send Gmail

Related Posts

51 thoughts on “Kupu-Kupu

    • ada salah satu jenis yang ditemukan di Hutan Banyuwindu, Troides helena, ternyata langka dan masuk dalam daftar kementerian tentang kupu-kupu yang dilindungi…

  1. apik puwol kalo sudah jadi kupu-kupu….
    Aku pernah bermusuhan sama ulat grayak bertahun-tahun..mergo ngrusak tanduran… Tapi ulat grayak ndak jadi kupu-kupu… ternyata dia jadi kaper…yang sayapnya kecil dan jelek.
    .-= sedulur xitalho menampilkan tulisan… Stare At The Star =-.

    • ho oh… uler grayak isih seduluran karo uler alpokat lan uler sutra… dadine kaper, dudu kupu… tapi kaper itu termasuk keluarga kupu juga.
      tapi, mergo sarunan, trus dikutuk dadi elek… mangkane ati2 nek saru! (lmao)

  2. Nah kalau ditempat saya masih banyak mas; menjelang musim hujan kupu-kupunya berbagai macam jenis, cuma ya nggak tahu namanya dan lagian adanya diperbatasan kalbar dan kalteng.

  3. Lebih asik kupu kupunya Ariel mas… bisa jadi inspirasi buat video lagi… ho ho ho…
    *Sowan maning setelah Lama ndak mampir sini :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *