LKS dari Kali Pasir

Sepanjang hari kemarin (12/04) di internet ramai soal buku LKS (mulok Pendidikan Lingkungan Budaya Jakarta) dengan materi ‘istri simpanan’ (Bang Maman dari Kali Pasir)…

Kisah Bang Maman & Istri Simpanan di Buku Kelas 2 SD

Indra Subagja – detikNews
Kamis, 12/04/2012 10:07 WIB

Jakarta – Donny BU (36) terperanjat. Buku pelajaran kelas 2 SD milik keponakannya memuat kisah yang dinilainya belum pantas untuk anak seusia itu. Adalah kisah ‘Bang Maman dari Kali Pasir’ yang menjadi persoalan. ( ndr / nrl )

Sepanjang hari ini (13/04) keramaian buku LKS dengan materi ‘istri simpanan’ pindah ke berita-berita tivi…

Ternyata tidak hanya materi kelas 2 SD, masih banyak materi pelajaran yang tidak layak misalnya: Cerita si Angkri di materi pelajaran kelas 1 SD dan Juragan Boim di materi pelajaran kelas 4 SD. Kebetulan temuan-temuan akhir-akhir ini di Jakarta, namun tidak menutup kemungkinan akan adanya temuan-temuan selanjutnya mengenai rendahnya kualitas LKS di berbagai wilayah di Indonesia.

Pendapat saya masih sama… LKS itu TIDAK PERLU… cukup buku paket dari negara ditambah kreativitas dan inovasi guru di sekolah dalam mengajar termasuk memberikan soal-soal pelajaran kepada muridnya.

Dengan kedok peningkatan kualitas pendidikan, menurut saya LKS hanyalah sebuah bisnis dengan murid sebagai pasarnya…

Silahkan baca: LKS oh LKS

Post to Twitter Post to Plurk Post to Facebook Send Gmail

10 thoughts on “LKS dari Kali Pasir

  1. Memang LKS tidak terlalu penting. Karena dengan adanya LKS, maka tugas2 yang ada hanya berdasar dari LKS. Padahal, kreativitas dan inovasi dari guru sangat penting. Terutama untuk menunjang kemajuan para siswa.

    Lama tidak berkunjung…

  2. blogwalking mas.
    bener juga,LKS mungkin sebagai dalih untuk mencari keuntungan oknum. mungkin materi sama persis . LKS sekarang isinya kurang bermutu. hanya membebani siswa saja

    • sangat disayangkan LKS tersebut bisa lolos… padahal harusnya diseleksi dulu… mungkin hanya mengutamakan bisnisnya… sedangkan mutunya tidak diperhatikan…. :(

  3. Kalau saya sebagai pengajar butuh LKS, mas. Soalnya dengan LKS bisa melatih saya (calon guru) memberikan tugas terstruktur kepada peserta didik. Yang salah adalah LKS guru koq sama dengan LKS yang diberikan murid… :)

  4. Waktu aku SD gak ada tuh yang namanya LKS, tapi tetap bisa mengikuti pelajaran yang diberikan guru… Betul.. Selama ini LKS hanya sarana bisnis guru aja.. bukan sebagai fasilitas tambahan belajar siswa.. Buktinya aja.. dengan adanya LKS.. guru bisanya cuma ngasih tugas banyak ke siswanya.. tanpa peduli siswanya ngerti atau gak… #pengelaman buka rumah belajar , banyak murid les yang dikasih tugas setumpuk oleh gurunya, tapi gak ngerti gimana mengerjakannya… (doh)

  5. ini sepertinya ada bisnis sampingan dari pihak2 tertentu, makanya yang diperhatikan dari LKS bukan isi dan mutunya tetapi jumlah besarnya keuntungan yang dihasilkan. semoga saja pemerintah kedepan bisa memperbaiki hal tersebut …

  6. saya sependapat dengan kliknklik, sepertinya besar sekali indikasi bisnis sampingan dari pihak terkait. kayaknya udah saatnya Pendidikan Indonesia harus merubah pola nya yang lebih kreatif dan membangun kecerdasan bangsa yang mempunyai moralitas yang tinggi serta mendidik manusia yang mandiri. Kemarin ada pembahasan tentang ‘LKS’ ini yang ternyata isinya sangat membingungkan dan terlalu berat sehingga orang dewasa pun tidak bisa membedakan mana tokoh jahat dan tokoh yang baik…maaf terlalu panjang komen saya kebetulan istri saya seorang pengajar & saya cuma prihatin kok pendidikan kita semakin turun kualitasnya bukan semakin baik. terima kasih untuk artikelnya mas Andy, salam kenal

  7. Itulah fakta pendidikan di Indonesia. Problem LKS menjadi cermin betapa peran pemerintah dalam kinerja pendidikan belum serius. Disamping itu mutu dan kualitas guru hanya mengedepankan formalitas, namun kosong substansi dan perannya. Makanya kawan saya pernah ada yang “nylethuk” LKS = Lembar Kerja Sembrono.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *