LMMS, Pengganti FL Studio yang Powerfull

Ditulis oleh: Estiko, penulis tamu di Blog Kecakot

Lama tidak melakukan observasi aplikasi musik terhadap Linux yang saya gunakan saat ini, Ubuntu 9.10 Karmic Koala, yang telah saya cangkok dengan berbagai aplikasi tambahan dan juga desktop tambahan. Karena saya sibuk dengan urusan website dan juga otak-atik program yang ada di Ubuntu, sehingga melupakan aplikasi musik yang cukup powerfull, LMMS atau Linux Multimedia Studio. Software mixing audio yang cukup komplit, serta bisa dikatakan memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh FL Studio.

Logo LMMS

Sekitar satu tahun yang lalu, saya sempat merambah dunia mixing audio bersama seorang sahabat yang kini menjadi seorang komposer lagu indie, Amri MF. Dari sinilah, saya mengenal Guitar Pro, Acoustica Mixcraft, Audacity, FL Studio, Cubase, serta aplikasi-aplikasi mixing audio yang sempat memenuhi komputer saya. Dari sinilah awal saya mulai hobi saya utak-atik lagu, serta membuat lagu menggunakan Guitar Pro. Beberapa lagu sempat kami buat. Namun, dua buah lagu instrumental yang kini menjadi nada panggilan telepon dan nada sms masuk di handphone saya. Dua lagu tersebut adalah Ayat-ayat Cinta New Version yang kami buat dengan genre Japanese, serta sebuah lagu karangan saya, Indonesiaku yang mengusung theme jazz.

LMMS

Kembali ke LMMS, semenjak mengenal Linux, saya berusaha untuk mencari software-software yang cukup powerfull dalam dunia musik. Akhirnya, saya menemukan software yang cukup powerfull seperti LMMS. Tampilan LMMS untuk notebook kecil saya memang kurang pas. Karena fitur LMMS yang sangat banyak seperti layaknya studio rekaman, tidak cukup di layar notebook saya. Walaupun tampilan LMMS di notebook saya masih kurang pas, namun dalam hal performa, tetap bisa diandalkan. LMMS bisa digabungkan dengan aplikasi seperti ZynAddSubFX Software Synthetizer. Selain itu, anda juga bisa menggunakan VST, yang lebih sering digunakan di software Mixing dan Mastering di windows, dengan bantuan Wine. Oleh karena itu, mengapa setiap melakukan instalasi LMMS, Wine selalu ikut terinstal. Selain itu, ada satu yang tidak bisa digunakan di FL Studio, namun bisa digunakan di LMMS. Yaitu SF2 atau Sound Font 2. SF2 akan membuat file midi yang anda mainkan di LMMS bisa lebih realistis, walaupun anda tidak menggunakan VST.

LMMS memang cukup berat jika dijalankan di komputer dengan RAM yang minimalis. Seperti notebook saya yang menggunakan RAM 1GB, tetap terasa berat saat saya ingin menggunakan VST pada file audio yang saya mainkan di LMMS. Karena, VST yang harus diload di Wine cukup besar. Rata-rata VST besarnya lebih dari 20MB. Jadi, jika anda yang menggunakan LMMS sebagai pengganti FL Studio, siapkanlah RAM dan juga prosesor yang cukup besar, jika anda ingin menggunakan VST dalam lagu yang anda mixing di LMMS. Untuk mendapatkan LMMS di Ubuntu kesayangan anda, hanya satu mantra yang cukup anda ketikkan di terminal Ubuntu anda. Dengan catatan, notebook, komputer, atau laptop anda terhubung ke internet. Mantra tersebut adalah:

sudo apt-get install lmms

Setelah proses download dan instalasi LMMS selesai, anda bisa menggunakannya melalui menu Sound & Video. Penggunaan LMMS akan saya tuliskan pada catatan berikutnya. Karena, catatan tersebut cukup panjang dan juga catatan ini sudah cukup panjang. Jadi, agar anda tidak bosan membaca catatan ini, maka cara penggunaan LMMS akan saya tulis di catatan berikutnya.

Aslinya ada disini

Catatan: LMMS juga tersedia untuk windows. Artikel ini saya tulis di LMMS untuk windows.

Post to Twitter Post to Plurk Post to Facebook Send Gmail

21 thoughts on “LMMS, Pengganti FL Studio yang Powerfull

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *