Lulus 100%

Kemarin…

Tiba-tiba saya perjalanan saya berhenti setelah menerima notifikasi email penting via hape andalan. Saya harus membalas email itu dan mengirimkan sebuah attachment penting untuk sebuah institusi penting. Istirahatlah saya di pinggir jalan yang ramai di sebuah kota yang asing.

Netbuk dibukak byak, modem dipasang di port USB… clep.

Saat sedang konsen mencari-cari file penting itu, dari kejauhan ada sirine meraung-raung diikuti gemuruh knalpot bising.

Huasyem tenan… Ternyata ada anak-anak sekolah setingkatan SMA sedang konvoi merayakan kelulusan.

Baju, celana, bahkan rambut mereka penuh warna cat semprot. Mereka berteriak-teriak ramai diiringi hingar-bingar raungan knalpot. Beberapa tulisan yang sempat saya baca menunjukkan sekolah mereka LULUS 100%, entah berapa nilainya karena standarnya cuma empat koma beberapa dot.

Sumpah, dulu saya tidak begitu!

Saya lebih memilih pulang gasik dan tidur karena saya tahu bapak saya yang selalu pusing di pergantian tahun ajaran memikirkan biaya sekolah anak-anaknya. “Lulus itu hal biasa. Setiap tahun juga banyak kelulusan serupa. Berprestasi itu hal yang luar biasa, karena hanya segelintir saja yang bisa”. Demikian kata bapak saya.

———

Email penting beserta attachment penting telah terkirim di saat yang genting… Saya belum melanjutkan perjalanan melainkan merenung sendirian…

———

Jaman saya dulu, masih sering dijumpai beberapa anak yang sial atau super pekok yang nggak lulus dan harus ndongkrok… Mengulang setahun dan harus belajar keras selalu agar tahun depan bisa lulus tanpa malu.

Tahun-tahun kemarin, agak aneh ketika saya menjumpai anak-anak sekolah yang tidak lulus masih bisa melakukan ujian ulang (bukan ujian susulan yang diperuntukkan bagi mereka yang berhalangan)… Kalau masih saja tidak lulus mereka masih bisa memperoleh ijasah dari Kejar Paket yang juga berijasah sebagaimana sekolah reguler dan tetap sah.

Tahun ini masih juga ada yang namanya Ujian Ulang yang aneh itu.

Ditambah lagi keanehan lain dari pihak sekolah yang mengejar kum semata, entah bagaimana caranya berusaha murid-muridnya lulus 100% tanpa cela entah seberapa nilainya.  Mereka berkepentingan atas angka bergengsi agar tahun depan bisa mendapatkan murid sebanyak-banyaknya yang akan menghasilkan sebuah angka pemasukan sesuai prediksi. Sepertinya yang seperti itu justru didukung oleh berubah-ubahnya peraturan dari penguasa negara. Sepertinya negara pun berusaha mengalihkan tanggung jawabnya seperti dalam iklan menjelang pemilihan yang mengatakan bahwa “pendidikan tanggung jawab kita semua”, padahal yang terjadi hanya pengajaran saja, masih jauh dari pendidikan seperti yang seharusnya dilakukan…

Jaman telah berganti, semakin memprihatinkan dan menimbulkan lebih banyak pertanyaan dalam hati… Akan jadi apa anak-anak kita nanti???

gambar dari blog.kotareyog.com

Post to Twitter Post to Plurk Post to Facebook Send Gmail

Related Posts

43 thoughts on “Lulus 100%

  1. lapor! sy juga gak corat coret koq, beneran, hehe…
    dulu sy prioritasnya bukan lulus atau gak lulus (soalnya waktu itu kan syarat kelulusan belum sesulit skarang,jadi yakin aja kalo bakalan lulus)
    yang jadi fokus adalah lulus UMPTN/SPMB atau apalah namanya. Buat apa sok sok gembira lulus SMU tapi gak lulus masuk PTN? well, itu pemikiran saya waktu itu. ga tau juga ya, waktu itu lulus masuk PTN jadi prestise tersendiri di kampung saya. Makanya abis pengumuman kelulusan langsung sibuk belajar lagi :-D .-= sedulur iLLa menampilkan tulisan… Tanya — Pertanyaan =-.

  2. Dulu pas saya lulus juga ndak corat2 kang.. tapi baju q yang di sita anak2 untuk dikasih tandatangan kang.. biar jadi kenang-kenangan dan sampai sekarang masih terpajang rapi di almari kamar.. Kalo gitu salah ndak ya kang??
    .-= sedulur Frenavit Putra menampilkan tulisan… [Trailer] TEKKEN Movies =-.

  3. untung jaman saya terselamatkan gara2 gempa jogja..
    gak ada corat-coret lagi waktu itu..
    saya kira habis peristiwa tiu orang-orang tambah sadar..
    ternyata sekarang tradisi itu sudah kembali lagi (DOH)
    .-= sedulur annosmile menampilkan tulisan… Sejarah Kebun Raya Bogor =-.

  4. Jamanku lulusan, malah tek tinggal njiot duit n tuku hp. Ra melu2 mbatik klabi secara live. Soale klambine esih iso disumbangke nggo wong sing esih pengen neruske sekolah, nanging ra due duit nggo tuku seragam. Nek ngono, klambine bakalan mubah. Mung dadi lap tox.
    .-= sedulur Estiko menampilkan tulisan… Chatting iRC menggunakan aplikasi Linux =-.

  5. Karo maneh, sekolahanku ora perlu ngejar pendaftar taun ngarepe, merga pasti nolak2…

    Karo maneh-maneh, meh muride 10.000 opo 200, bayaranku yo sak mono kuwi.
    Piye Jal?

    Karo maneh, nek rak ngejar lulus 100% opo ngejar 25%?.

    • nyuwun ngapunten… niki mboten nggebyah uyah, ning contone kathah… terutama wonten ing sekolah-sekolah ingkang pembiayaanipun swadaya lan kualitasipun dereng sae, mboten sekolah negri, napa malih SMAN Kendal…
      mboten pak! sumpah! :-p

  6. Kalau di tempat saya, sebelumnya dikumpulkan dulu diberi pengarahan pak, daripada dicorat-coret, mending dikumpulin, lalu disumbangken pada nyang berhak, dan alhamdulillah sejak pertamax melulusken sudah membudaya seperti itu.

    • yo mesthi tak seneni nganti amoh… ning sakdurunge lulusan mesti tak kandhani sik, ben ora melu anut grubyuk ora ana dununge…
      *bapak yang baik nih!*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *