Makmi Koyor

Sabtu (09/05), melewati kota Semarang, saya merangkai kembali kenangan duapuluh sampai limabelas tahun lalu. Waktu itu saya masih SMA, tinggal di kampung Lemah Gempal di sekitaran Tugu Muda Semarang. Dulu sekali, saya sering mengunjungi sebuah warung makan milik Mak Mi -saya tidak tahu nama aslinya-, di Jl Suyudono No 51, Semarang. Jualannya khas, nasi koyor. Lebih istimewa lagi, di tempat Mak Mi juga menyediakan terpedo, yang bagi banyak orang dipercaya bisa meningkatkan vitalitas pria. Namun itu bukan klangenan saya. Goreng rajungan nglemburi lebih menarik minat saya. Sayang sekali, karena rajungan nglemburi juga susah dicari, harganya pun cukup mahal, sehingga jarang sekali saya bisa menikmatinya.

Satu lagi dari Mak Mi, yang ini sangat khas sekali. Mungkin karena jualan terpedo itu, Mak Mi jadi seringkali “omong saru”. Bagi banyak orang, itu malah menambah akrab, bagi banyak orang lain, mungkin itu tidak sopan. Beruntung, Mak Mi pun cukup paham dan tanggap, tidak kepada semua orang, beliau “omong saru”, hehehe…

Sudah cukup lama Mak Mi Koyor (sekarang Hajjah Mak Mi, hehe) tidak lagi berjualan sendiri. Tiga anak perempuannya yang menggantikan -Sri Suratmi, Sugiarti, dan Yulia. Namun, sekarang hanya dua yang masih setia meneruskan usaha Mak Mi yang sudah puluhan tahun itu. Sri Suratmi yang pindah domisili mengikuti suaminya, sekarang mengabdi menjadi Kepala Desa Pule, Kec. Mayong, Kab. Jepara.

*Rajungan nglemburi: rajungan yang sedang berganti kulit. Pada fase pergantian kulit itu, cangkang rajungan tipis dan lunak, sehingga bisa digoreng kriuk.

Post to Twitter Post to Plurk Post to Facebook Send Gmail

Related Posts

34 thoughts on “Makmi Koyor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *