Malam Nisfu Sya’ban

Secara pribadi, saya selama ini belum pernah mengkhususkan Malam Nisfu Sya’ban, yaitu malam bulan purnama di bulan Sya’ban yang artinya tengah bulan Sya’ban. Ini juga berarti persis setengah bulan sebelum memasuki bulan Ramadlan, bulan puasa yang ditunggu-tunggu banyak orang karena sesudahnya ada kemeriahan Lebaran.

Kebanyakan muslim mendasarkan keutamaan Malam Nisfu Sya’ban pada hadits yang diriwayatkan Ibnu Majah, namun hadits itu dilemahkan oleh Imam Bukhari. Ada pula yang mendasarkan keutamaannya karena pada pertengahan Sya’ban itulah dilakukan pemindahan kiblat dari Baitul Maqdis di Palestina ke Ka’bah di Mekah.

Imam al-Gazali mengistilahkan malam Nisfu Sya’ban sebagai malam Syafaat, karena menurutnya, pada malam ke-13 dari bulan Sya’ban Allah SWT memberikan sepertiga syafaat kepada hambanya. Lalu pada malam ke-14, seluruh syafaat itu diberikan secara penuh.

Kebanyakan yang mempercayai kemuliaan bulan Sya’ban menganggap bahwa bulan ini adalah bulan mulia yang terlupakan. Sebelumnya ada bulan Rajab dimana Rasulullah SAW ber-Isra’ Mi’raj, sedangkan bulan sesudahnya adalah bulan puasa Ramadlan. Namun, kepercayaan ini adalah mengenai bulan Sya’ban, bukan merujuk pada hari tertentu di bulan Sya’ban. Keutamaan yang dianjurkan pun adalah melakukan puasa, sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari Muslim dari Aisyah bahwa bulan yang paling banyak dilakukan puasa oleh Rasulullah selain bulan Ramadlan adalah bulan Sya’ban.

Saya tidak akan memperdebatkan soal kemuliaan bulan Sya’ban dan Malam Nisfu Sya’ban, tapi menyimak banyak pesan singkat yang datang kepada saya sejak siang tadi, sepertinya menarik juga. Kebanyakan bahasanya mirip, “Malam ini 26 Juli 2010 adalah Malam Nisfu Sya’ban, malam yang penuh berkah. Banyak-banyaklah beribadah, berdoa, dan bersedekah“…

Rasanya tidak ada salahnya memperbanyak ibadah, doa, dan sedekah… Yang jelas, saya tidak menyembah bulan, apalagi bulan purnama… Datanglah dan pergilah! Karena Tuhan sudah menciptakan peredaranmu dengan sangat teratur… Saya juga menjalani apa yang telah digariskan!

Post to Twitter Post to Plurk Post to Facebook Send Gmail

Related Posts

29 thoughts on “Malam Nisfu Sya’ban

  1. Jian.. kang Andy MSE iki jan cah soleh tenan.. Oke kang.. mari perbanyak ibadah dan sedekah.. BTW ini tadi di desa tanah kelahiranku lagi banyak yang bikin ketupak kang.. mantaps.. ehehe

  2. “Yang jelas, saya tidak menyembah bulan, apalagi bulan purnama… ”
    lah kata2 ini apa hubungannya sama malam Nisfu Sya’ban? (thinking)
    apapun itu, selamat memperbanyak ibadah, itung2 sebagai latian menghadapi Ramadhan :-D

    • malam nisfu Sya’ban adalah malam bulan purnama…
      sebagaimana shalat yang menghadap ke kiblat (Ka’bah) namun tidak berarti menyembah rumah batu itu, memuliakan Nisfu Sya’ban tidak berarti menyembah bulan purnama…
      SUDAH JELAS MAKSUDNYA??? (doh) oh ya, menghadapi Ramadlan itu tidak perlu latihan… sumpah!

  3. iya bener om,
    kemuliaan bulan Sya’ban bukan hanya di satu/dua malam saja,
    namun secara keseluruhan bulan Sya’ban adalah bulan yang dirahmati Alloh
    dan hendaknya sikap rajin beribadah, baik sholat sunah maupun puasa sunah, dilakukan kapan saja, bukan hanya di hari nisfu sya’ban :D

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *