mbah Nut: sang pembuat bedug

Mungkin anda pernah membaca tulisan tentang mbah Panut atau mbah Nut di Website Sekolah Rakyat.

Kebetulan (atau kesialan), beberapa waktu lalu motor saya mengalami bocor ban di Limbangan. Pilihan bengkel paling dekat ya di mbah Nut. Sambil menunggu mbah Nut menambal ban, iseng-iseng aku berkeliling di sekitar bengkel mbah Nut. Mungkin sudah terlalu lama saya tidak mengunjungi mbah Nut. Banyak perubahan di lokasi bengkelnya. Salah satunya adalah tempat pembuatan bedug. Mbah Nut memang sejak dulu dikenal piawai membuat gendang, kendang, rebana, jidur, bedug, dan bermacam peralatan perkusi lain. Hanya saja, dulu dikerjakan di rumah sebagai sambilan. Akhir-akhir ini mbah Nut membuat di workshop khusus yang terletak berdampingan dengan bengkel tambal ban di Jalan Raya Limbangan, Desa/Kec. Limbangan, Kabupaten Kendal, Jateng. Bedug-bedug buatan mbah Nut cukup bagus, suaranya menggema sampai jauh. Yang berukuran kecil biasa ditawarkan dengan harga berkisar 2,5 juta sampai 3 juta rupiah, sedangkan yang berukuran besar berkisar 4 juta, 5 juta, 6 juta, bahkan untuk ukuran jumbo (tergantung ketersediaan kayu) bisa sampai belasan juta rupiah.

Uniknya, kayu-kayu yang dipakai mbah Nut untuk membuat bedug biasanya dari pohon tua yang roboh, atau pohon yang bolong tengahnya dimakan serangga atau hama, dipilih bagian yang bagus, dan disiapkan untuk bakalan bedug. Itu karena mbah Nut adalah salah seorang yang perhatian buangets pada hal-hal yang berbau konservasi alam, sehingga terlalu eman-eman untuk menebang kayu tua sekedar untuk membuat bedug. Pohon kayu yang besar dan rindang memang lebih baik berada di tempat tumbuhnya dan dibiarkan saja.

Oh ya, sekedar catatan, ada beberapa ritual khas yang dilakukan mbah Nut selama membuat bedug antara lain, selalu mengawali dengan sholat dahulu, tidak berhubungan dengan istri, bahkan berbicara pun jarang sekali.

Post to Twitter Post to Plurk Post to Facebook Send Gmail

Related Posts

11 thoughts on “mbah Nut: sang pembuat bedug

  1. orang seperti Mbah Nut suatu saat nanti pasti akan habis…. orang2 yang menghabiskan waktu untuk kerja yang peminatnya memang agak kurang yaitu para pembeli bedug.. mungkin itulah sebabnya hingga Mbah Nut selain membuat bedug juga buka bengkel. “Jual bedug tidak bisa jadi sandaran hidup sepenuhnya” mungkin begitu pikir Mbah Nut
    Met lebaran ya mas Andy.. mohon maaf lahir dan batin… :)

  2. Inisiatif yang sangat baik. Tetap berproduksi tapi tidak dengan merusak alam seperti yang dilakukan oleh kapitalis. Lagi pula, dengan memanfaatkan batang pohon yang sudah bolong malah proses kerjanya lebih cepat!

    Salut buat Mbah Nut! Plus buat penulis yang udah berbagi info-nya tentang mbah nut.

  3. salut sama mban hut! mestinya para generasi muda malu sama mbah nut, secara umur mereka kan yang akan menikmati alam ini lebih lama dari mbah nut tapi malah mereka juga yang kurang peduli dengan masalah konservasi alam… :(

    caroline´s last blog post..Memberi

    • Wadoh, saya ndak tahu nomor tilponnya… Kalau ada pertanyaan sementara bisa disampaikan melalui saya, karena sebulan sekali saya lewat Limbangan tempat mbah Nut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *