Mecca Mean Time?

Beberapa hari lalu saya mendapatkan kabar di sosial media dari seseorang yang pernah ke Makkahsumpah, saya belum pernah ke sana-. Kata berita, pembangunan Menara Lonceng Raksasa di Makkah sudah selesai dan beroperasi pada awal Ramadhan 1431H/2010M ini.

“Selama bulan suci Ramadan, lonceng tersebut akan diuji coba secara penuh,” kata seorang pejabat Arab Saudi seperti dikutip kantor berita Saudi Press Agency (SPA) Selasa lalu (10/8). Uji coba juga akan terus dijalankan sampai tiga bulan ke depan.

Pemerintah Saudi berharap lonceng baru empat sisi tersebut menahbiskan Makkah sebagai salah satu alternatif patokan waktu di luar garis bujur Greenwich. Menara lonceng itu bakal berada di puncak gedung pencakar langit setinggi 1.983 kaki (601 meter) dalam kompleks tujuh tower Abraj Al Bait.

“Pembangunan dan pemasangan lonceng itu merupakan pekerjaan besar,” kata Mohammed Al Arkubi, manajer Royal Mecca Clock Tower Hotel, gedung di bawah lonceng.

Kehadiran lonceng tersebut merefleksikan keinginan umat Islam untuk mewujudkan waktu Makkah (Mecca Mean Time). Itu bisa menjadi alternatif atau menggantikan standar waktu universal, Greenwich Mean Time (GMT), yang digunakan selama 126 tahun terakhir. jawapos.com

Jujur saja! Saya geli mendengar berita itu. Klaim bahwa MMT -Mecca Mean Time- adalah refleksi keinginan umat Islam sepertinya terlalu dibesar-besarkan. Justru yang tampak adalah ambisi satu sisi dari pemerintah Arab Saudi.

Pendapat saya sebagai orang Islam, hitungan waktu hanyalah hitungan saja yang bersifat memudahkan. Tidak jadi masalah mau pakai pedoman apapun termasuk GMT –Greenwich Mean Time– yang disepakati banyak negara di dunia sejak tahun 1884.

Bagi saya, Islam sudah mempunyai patokan waktu yang indah. Shubuh ketika terbit fajar, Dhuha ketika matahari naik sepenggalah, Dzuhur ketika matahari tepat di atas, Ashar ketika bayangan matahari sore sepanjang benda yang terkena sinar matahari, Maghrib ketika matahari terbenam, dan Isya ketika cahaya merah hilang dari langit malam…

Sudah ada pemahaman yang menakjubkan mengenai pergantian bulan melalui rukyat hilal juga hisab. Sudah ada pula pemahaman yang menakjubkan akan kemiringan poros bumi sehingga hari-hari dalam Islam dihitung menurut kalender Lunar (Hijriyah) bukan kalender Solar (Syamsiyah) sehingga bila rata-rata manusia hidup selama 60 tahun maka yang tidak berada di katulistiwa akan mengalami 30 tahun masa puasa yang pendek dan 30 tahun masa puasa yang panjang.

Sependek yang saya tahu dan sepanjang yang saya punya, GMT pun pada awalnya tidak serta merta menaruh garis khayal yang menjadi titik waktu nol di sebuah bukit di dekat kota London, melainkan mendasarkan pada garis khayal pergantian hari yang disepakati diletakkan di Pasific dimana sebagian besar melewati lautan dan sesedikit mungkin menyentuh hajat hidup orang banyak berkaitan dengan pergantian hari. GMT +12 dan GMT -12 berimpitan di garis bujur pergantian hari itu. Dari situ barulah ketemu nol GMT. Tentu saja penentuan garis waktu ini berdasarkan pada kesepakatan bahwa sehari dibagi menjadi 24 jam.

Apakah MMT nantinya akan menentukan waktu sendiri misalnya sehari bukan 24 jam? Kalau masih saja memakai patokan sehari = 24 jam, menurut saya, MMT –dalam bahasa Jawa– adalah ngayawara… Menurut sedulur bagaimana?

Post to Twitter Post to Plurk Post to Facebook Send Gmail

Related Posts

28 thoughts on “Mecca Mean Time?

  1. “Bagi saya, Islam sudah mempunyai patokan waktu yang indah. Shubuh ketika terbit fajar, Dhuha ketika matahari naik sepenggalah, Dzuhur ketika matahari tepat di atas, Ashar ketika bayangan matahari sore sepanjang benda yang terkena sinar matahari, Maghrib ketika matahari terbenam, dan Isya ketika cahaya merah hilang dari langit malam… ”

    Setuju…. :-)

  2. Saya lebih tertarik dengan jamnya itu. semoga bisa dibawa pulang ke Indonesia secara Indonesia adalah penduduk yang islamnya terbanyak. hehe..
    Menurut kabar yang saya baca kemarin, bangunan itu tertinggi no 2 di dunia loh..
    Masalah standar waktu ya diserahkan pada yang berkompeten. Sekarang udah ada kalender hijriyah, tambah aj jadi jam hijriyah.. *ngawur*

  3. agak terganggu dengan “view”-nya, Baitullah yang agung dilatar belakangi gedung modern yg “sperti itu”… hmm (geleng_geleng).

    Soal waktu…ga komen lah…lha jam tangan aja hamba ndak punya (worship)

  4. ya ndak ada salahnya lah kang, sebagai alternatif patokan waktu.. sangat wajar banget itu mengingat umat islam ini buanyak.. ben gak digawe dulinan wong londo..

    • sepakat kang det! tapi sepertinya arab saudi harus lebih menengokkan kepala ke palestin, afgan, irak, libanon, dll sebelum menjulangkan loncengnya ke langit… :-) sudah menjadi rahasia umum bahwa untuk urusan politik internasional arab saudi masih saja mengekor negara barat… (haha)

  5. Waduuuuh ……. duwur tenan yo bangunan Abraj AL Bait? Masjidil Haram malah kesilep. Sakno tenan masjide. Nek ambisine mbangun gedung2 pencakar langit sak ubenge Masjidil Haram diterus terusno masjide malah gak ketok blas!

    • Mas budi gak usah khawatir Masjidil Haram masih tetap kelihatan, kalo mas Budi datang kesana. tapi mustahil kalo bisa dilihat dari Indonesia.

  6. Saya kira wajar sajalah sih kalo di Arab bisa bangun menara jam semegah itu karena memang mampu secara financial, dan bangga juga sebagai muslim. Lain kalo untuk negara kita yang akan berlomba membangun menara tertinggi hanya sekedar untuk prestise yg tidak mencerminkan tingkat perekonomian negara yang sebenarnya. Kalo untuk Palestina, bisa jadi rakyat Arab tidak secara terbuka sudah menyalurkan bantuan ke Gaza, mungkin jauh lebih banyak dari bantuan atas nama negara kita.

  7. “Bagi saya, Islam sudah mempunyai patokan waktu yang indah. Shubuh ketika terbit fajar………….
    SETUJU…. TAPI.. tapi alasan anda kurang tepat. Mau pake MMT or GMT yahh waktu sholat tetap….. ttg arogansi pemerintah arab boleh jadi iya, juga bisa tidak, marilah kalo kita sbg umat Islam utuk bersatu jika bermanfaat bagi kejayaan Islam, jangan saling iri dan dengki. pantas aja musuh2 islam senang melihat org Islam saling iri-irian… iri nih ye……….
    sori ye… heheh…

  8. Kajian Ilmiyah, dan usaha mengembalikan Umat Islam Kepada System waktu menurut ajaran Islam, yang di gali dari Al-Quran dan Al hadist serta kenyataan Ilmiyah yang telah terbukti saat in

  9. ndak terlalu di hebohkan…wong kitanya yang heboh…
    kita ambil aja manfaatnya…yang perlu di garis bawahi adanya MMT =Makkah Mean Time nanti (kalaw jadi di sepkati dunia Islam khususnya) tidak akan merubah patokan waktu pelaksaan sholat/ibadah (yang mas Andy paparkan) yang terjadi adalah perubahan pada angkanya…. (jamhijriyah.blogspot.com/2010/08/bagaimana-cara-menetapkan-sistem-tata.html)
    dan mudah2an itu buka hanya ambisi pemerintah di sana, meskipun sangat sulit menafikannya…di Indonesia pemikir Muslim yang telah Almarhum (jamhijriyah.blogspot.com/2010/08/profil-bambang-eko-budhiyono-pemikir.html) telah menkaji tentang Makkah Mean Time ini dengan judul bukunya : KA’BAH UNIVERSAL TIME [KUT]; Reinventing the Missing Islamic Time System”
    (http://jamhijriyah.blogspot.com/2010/08/kabah-universal-time-kut-reinventing.html)
    demikian sobat..semoga Alloh memeberikan kemudahan kita semua.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *