Mengunjungi Sekolah Rakyat, (yang masih bingung)

Tulisan serupa juga dipublikasikan di: Forum Blogger Pegiat Pattiro dan Website Sekolah Rakyat

Selama beberapa hari di awal minggu ini saya berkunjung ke Sekolah Rakyat, Kendal. Sebelumnya ada janjian dengan Direktur Eksekutif Pusat Telaah dan Informasi Regional (PATTIRO), Ibu Dini Mentari, karena saya tidak bisa menemuinya di Solo, bersepakat untuk bertemu di Kendal. Pagi-pagi hari Senin yang baru lalu saya meluncur ke Semarang, Demak, dan sorenya langsung ke Limbangan, Kendal tempat markas Sekolah Rakyat berada. Ternyata, ibu direks menunggu-nunggu di Solo untuk barengan ke Kendal, dan akhirnya beliau sendirian meluncur ke Kendal. Saya pun tidak jadi bertemu dengan ibu direks karena saya di markas di Limbangan, Kendal, sedang beliau ibu direks berkunjung di kantor baru Sekolah Rakyat di Kota Kendal. Duh… menyesal sekali… Mungkin beliau ibu direks juga sebal… Yeach… saya hanya bisa minta maaf, apalagi setelah sempat deg-degan melihat tronton melompat pembatas jalan.

Berikut rekaman kunjungan ke kantor baru Sekolah Rakyat.

Hari pertama (malam), di markas SR di Limbangan, bertemu Widi dan Solichun yang baru saja pulang dari kantor baru di Kendal untuk bertemu dengan ibu direks.

Hari kedua, berkunjung di kantor baru Sekolah Rakyat di Kota Kendal, tepatnya di Jl. Pemuda No. 11-B Kendal. Kantor ini menjadi pusat kegiatan Sekolah Rakyat berkaitan dengan Program Gender Budget dan Program Kebebasan memperoleh Informasi Publik. Dipilihnya kantor di kota Kendal adalah untuk memudahkan akses ke pemerintah kabupaten, juga lebih strategis untuk melakukan komunikasi ke wilayah-wilayah program se-kabupaten Kendal. Hal yang agak penting yang saya lakukan di sini adalah melakukan peningkatan kapasitas pegiat Sekolah Rakyat khususnya dalam hal-hal berkaitan dengan manajemen. Sasaran tembak utama adalah Solichun Firmansyah, penjaga gawang administrasi dan keuangan.

Hari ketiga, berkunjung di kantor lama Sekolah Rakyat di Limbangan, Kendal. Kantor ini dulunya adalah Kandang Pemeliharaan Ulat Sutera yang dikelola oleh Andy MSE, setelah nganggur beberapa tahun akhirnya ditempati oleh Sekolah Rakyat. Kantor ini digunakan sebagai Markas Besar Sekolah Rakyat, juga sebagai markas Program Konservasi, karena wilayah program ini meliputi kecamatan Limbangan, dan desa-desa di seputar Gunung Ungaran. Di sini saya juga masih melakukan peningkatan kapasitas pegiat Sekolah Rakyat, kali ini yang menjadi sasaran tembak adalah Muhammad Norrodin, penanggung jawab administrasi dan keuangan Program Konservasi.

Sebetulnya, saya mempunyai kepercayaan yang sangat tinggi terhadap para pegiat Sekolah Rakyat sehubungan dengan target-target program yang sedang dilaksanakan. Namun, karena selama beberapa tahun Sekolah Rakyat tidak mengelola kegiatan secara programatik, ujug-ujug di pertengahan tahun 2008 ini mendapat kepercayaan untuk mengelola 3 (tiga) program sekaligus, tentunya banyak hal menimbulkan kebingungan, terutama berkaitan dengan hal-hal yang bersifat manajerial mulai dari perencanaan sampai pelaporan. Sebagai salah satu pendiri Sekolah Rakyat, saya (walaupun sekarang berdomisili di Solo) bersama Widi dan Buchori (keduanya berdomisili di Limbangan, Kendal) merasa bertanggung jawab agar program-program yang dikelola Sekolah Rakyat mencapai kesuksesan seperti yang diharapkan. 

Oh ya… saya baru menyadari bahwa di Kendal banyak blogger yang terkenal, ada pak guru Sawali, ada juga pak guru Marsudiyanto yang lucu, ada mas Khai yang asal Kendal tapi sekarang di Jakarta (?), ada juga Terasbaca, ini yang terakhir saya ketahui. Mungkin masih banyak yang belum saya tahu. Sesekali bila sempat ingin juga kopdar… Semoga ada kesempatan itu… hehehe…

Post to Twitter Post to Plurk Post to Facebook Send Gmail

Related Posts

7 thoughts on “Mengunjungi Sekolah Rakyat, (yang masih bingung)

  1. Semoga Sekolah Rakyatnya sukses. Saya malah belum tau, padahal sering lewat Jalan Pemuda. Kalau Bebengan agak tau, karena sebelum SMA Boja punya guru resmi, saya dimintai bantuan matun di situ. Yg saya ingat tentang Boja cuman Rumah Makan Gayeng Kiyi yg sekarang bangkrut. Saya mbantu mulang di SMA Boja mulai berdiri sampai 4 tahun (saat itu masuk sore dan nunut di SMP 1). Ada guru kesenian SMP 1 yg juga mbantu di SMA Boja. Orangnya jenggoten koyo Mas Andy. Pasti dulu juga gurunya ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *