Mental Pembantu

Sering saya heran juga melihat banyak orang yang bisa enjoy saja di tempat yang tidak bersih. Saya kok susah untuk begitu kecuali keadaan memaksa untuk begitu. Bila terpaksa saya juga bisa beradaptasi dengan sangat baik. Bukan sekali dua kali harus tidur di sembarang tempat misalnya di emperan toko, di terminal, di stasiun, di pinggiran sungai di atas bebatuan, di hutan, dan tempat-tempat lain yang tidak layak untuk beristirahat.

Sumpah, saya termasuk orang yang kemproh. Tapi saya lebih suka yang bersih-bersih saja. Bahkan seringkali karena risih melihat tempat yang kotor, saya lebih suka langsung membersihkan daripada criwis dan crigis.

Bagaimanapun, tempat yang bersih lebih nyaman dan menyenangkan, sayangnya seringkali malas untuk bersih-bersih.

Ada seorang kawan saya yang berprofesi sebagai akuntan. Beberapa kali pernah saya ajak ke kantor saya dulu -yang agak kurang bersih- untuk berdiskusi. Setiap kali datang, sebelum duduk dia selalu mencari-cari lap atau sulak (kemucing) untuk menyeka debu di meja. Kadang kalau tidak ada, dia mengambil tisu dari tasnya dan digunakan untuk bersih-bersih.

Ada juga seorang kawan saya yang dulu selalu membawa asbak portabel karena tidak ingin mengotori sembarang tempat dengan abu dan puntung rokok. Eh, sekarang tidak lagi… :-D

Ada lagi seorang kawan saya seorang anggota DPRD. Saya pernah sekantor dengannya saat dia belum menjadi anggota. Untuk urusan kebersihan dia nomor satu di kantor. Tak segan-segan mengosongkan isi asbak yang sudah penuh dan membuangnya di tempat sampah. Bila lantai sedikit kotor sehingga tidak nyaman karena ada debu dan pasir sisa sepatu orang-orang yang hilir mudik, dia langsung menyapunya tidak perlu menunggu  atau menyuruh opas kantor.

Ada pula kawan saya seorang kyai pemimpin pondok kecil. Walaupun kyai, dia masih seumuran dengan saya. Untuk urusan kebersihan, patut diacungi jempol delapan. Tak ada mitos santri gudhigen di pondoknya, karena si kyai pun menerapkan standar kebersihan yang tinggi untuk semua santrinya, bahkan tak segan turun tangan membersihkan WC yang bau pesing.

Mereka-mereka menginspirasi dan memotivasi saya untuk menjaga kebersihan walaupun saya belum bisa sama seperti mereka.

Sayangnya, karena tidak sekali dua kali saya mengikhlaskan diri untuk bersih-bersih tempat yang bukan tempat saya sendiri, ada orang yang mengatakan bahwa saya ber-mental pembantu.

Apakah ada yang salah??? Dimana kelirunya??? (thinking)


Post to Twitter Post to Plurk Post to Facebook Send Gmail

Related Posts

26 thoughts on “Mental Pembantu

  1. Salam… .
    Bukan masalah mental itu pak, melihat kondisi diri sendiri plus penilaian istri dan kawan-kawan semasa sekolah dahulu, itu adalah mental menantu idaman… .

  2. saya setuju dengan sikap mas andi, terutama kamar mandi
    untuk tempat umum asal ada alat kebersihannya ya saya mau
    saya pernah sholat di toko buku SAB di yogya. Saya lihat toiletnya kotor dan ada alatnya
    ya sudah sebelu saya pakai saya bersihkan dulu pakai sikat
    barulah saya pakai
    pas saya keluar ada orang yang liatain saya, dengan wajah heran
    mungkin dia berfikir lha tampang boss seperti saya kok mbersihin wc
    menurut saya kok nggak menjatuhkan mental kok

  3. Ahhh… biarin aja mas dibilang bermental pembantu. Daripada bermental pemalas kayak kebo. ada lalat, tokai, belom mandi . Diem…aja… Hhihi

  4. kalau saya memang kemproh mas.. gak suka bersih² tp senang kalau melihat sesuatu keadaan yang bersih..
    gimana itu yaa hehehe

  5. ah. cuekin aja pak orang yg ngomong gitu. justru bukannya pembantu yang gak suka hal bersih??di suruh kan baru mau bersih2..kalo bapak kan mental juragan, suka hal2 yang bersih agar semuanya terlihat lebih berharga.semangat ya bersih2nya!!saya mendukung penuh!!=D

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *