Ngundhuh Wohing Pakarti

Sederhananya, peribahasa Jawa itu setara lah dengan Hukum Karma. Tepatnya, dapat diartikan sebagai menuai atau memetik hasil perbuatan. Dalam bahasa Indonesia, ada peribahasa yang senada; tak ada asap maka tak ada api. Dalam Fisika, ada Hukum Aksi-Reaksi.

Sebagai orang Jawa —walaupun asal-turunnya entah dari mana–, juga sesuai agama yang saya anut, saya sangat percaya pada ngundhuh wohing pakarti itu.

Orang bijak selalu bertindak hati-hati, berfikir jauh ke depan jika akan melakukan suatu pekerti, karena mereka yakin, apa yang mereka lakukan akan kembali pada diri sendiri. Jika melakukan pekerti yang baik maka akan mendatangkan kebaikan, dan sebaliknya jika melakukan pekerti yang buruk juga akan kembali pada diri sendiri. Jika melakukan pekerti yang merugikan orang lain pun suatu saat diri sendiri yang akan merugi.

Menurut petuah religi, hanya pada umat terdahulu wohing pakarti akan diberikan serta-merta. Pada umat terkini, akan hanya sebagian kecil diserta-mertakan dan sebagian besar ditunda hingga akhir zaman.

Barangkali karena itulah umat terkini semakin tidak semena-mena. Berbuat apa saja sekehendak hatinya tanpa sadar bahwa wohing pakarti pasti akan dituai nantinya.

Berita-berita korupsi, mutilasi, aksi tipu-tipu, politik main kayu, mengumbar nafsu, dan lain-lain keburukan pekerti bertebaran di mana-mana setiap hari.

Akuntan yang baik dan tak mau curang pastinya akan dimusuhi, sebaliknya penggelap pajak dan pemalsu bukti transaksi akan dianggap berjasa bagi institusi.

Pengebor lumpur yang menyengsarakan ribuan orang di Porong pastinya masih tegak berdiri bahkan memperoleh posisi pada sebuah koalisi. Doa korban teraniaya tak akan terdengar karena merasa pasti wohing pakarti tak mempan sampai kini.

Orang alim beristri dua seperti Aa Gym nyatanya semakin dijauhi, namun Peterporn yang –katanya– kehilangan eksternal harddisk berisi 30an klip video mesum bersama dua lusinan perempuan, hanya berubah sedikit personal-brandingnya. Para perempuannya yang saat ini malu diri, pastinya akan muncul tak lama lagi. Polisi pun sedang menggebu-gebu mencari siapa yang pertama kali mengedarkannya karena merekalah yang dianggapnya paling bersalah, bukan para pelaku sejati.

Orang yang membela keyakinannya bisa jadi dianggap ekstremis atau teroris. Penindas yang sesungguhnya tak akan tersentuh karena terlindung secara sistemis.

Para penggelembung suara pemilu dan penjilat-penjilatnya dan penyebar uang pembeli suara bisa jadi akan berhasil memperoleh kedudukan bergengsi dan seolah berwibawa. Tak sadar bahwa mereka bagaikan duduk di atas bara.

Ya… Begitulah adanya… Barangkali sedulur punya cerita senada???

Dunia hanya sementara, sedulur!!!… Ingatkan saya untuk tidak menghakimi, karena suatu saat nanti kita semua akan ngundhuh wohing pakarti

gambar dari www.arcadja.com

Post to Twitter Post to Plurk Post to Facebook Send Gmail

Related Posts

53 thoughts on “Ngundhuh Wohing Pakarti

  1. Gak ada api kalo gak ada yang nyalain?ho
    lek ariel peterporn iku berarti nggawe api gek aku sing nyebar asap donk pak? (lmao)

  2. mau gimana lagi … yang berengsek yang mengontrol media dan kekuasaan…. yah yang jujur yang jadi korban … (saya teteup mendukung aa gym loh (nyengir) ) ….

  3. Begitulah adanya tentang masyarakat Indonesia. Bahkan mungkin kita berada diantaranya. Walaupun secara langsung ataupun tidak langsung. Para teroris yang tertangkap dan dihukum mati, disiarkan bak seorang pahlawan. Para pahlawan yang telah berjasa dalam memperjuangkan negara ini dalam bidang apapun, tidak pernah mendapatkan santunan yang layak saat mereka pensiun. Yang ada hanyalah memperbesar perut para elite politik tanpa mempedulikan kaum cilik. Inikah salah satu ciri Negara Demokrasi yang kita banggakan??? (nottalking) bener2 ra patut….

  4. setuju bangat mas…… emm…Berita-berita korupsi, mutilasi, aksi tipu-tipu, politik main kayu, mengumbar nafsu, dan lain-lain keburukan pekerti bertebaran di mana-mana setiap hari.

  5. semoga hati nurani tetap kita percayai…..dan tak melupakanya….karena dengan hati nurani lah lebel manusia masih bisa kita kenakan wkwkwkkwkwkwk

  6. saya sangat percaya terhadap makna adagium itu, mas andy. pernah jadi guyonan para pelawak: kalau tak ingin digunduli orang, jangan sekali-kali main potong gundul kepala orang seenaknya, kekeke ….

  7. setuju sanget karo pikirane sampean.
    Tapi aku ora setuju poligami resmi atawa gak resmi.
    Soale podho ngumbar syahwate.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *