Nyekar, Padusan, Dugderan

Khas menjelang Bulan Puasa Ramadhan, sering pula tiga aktivitas itu dilakukan banyak orang. Itu sifatnya budaya, tidak ada perintah dalam agama, walaupun masing-masing aktivitas itu mempunyai makna filosofis religius. (hopo maneh ki?) (doh)

Nyekar

ilustrasi: foto teman saya & keluarga sedang nyekar

Mengunjungi atau berziarah ke makam. Kata nyekar berasal dari sekar yang berarti bunga. Jadi para penyekar akan menaburkan bunga ke makam (seringkali yang dikunjungi adalah makam keluarga). Selain menabur bunga, penyekar juga membersihkan makam dan tentu saja berdoa.

Padusan

Adalah mandi besar yang dilakukan di sumber-sumber air dengan maksud membersihkan diri sebelum memulai puasa Ramadhan. Jaman sekarang, tidak hanya di sumber-sumber air, melainkan di kolam renang… Haks!!!… Karena banyak orang melakukan hal yang sama, seringkali padusan menjadi pemandangan yang menarik dimana banyak orang mandi bersama-sama.

Dugderan

Yang ini khas Semarang. Kalau di kota lain saya tidak tahu. Pernah selama beberapa tahun saya akrab dengan dugderan. Dulu sewaktu saya masih kecil, sebelum ada Pasar Yaik (1978) yang berimpitan dengan pasar Johar Semarang, di depan Masjid Besar Kauman Semarang adalah alun-alun yang cukup luas. Keramaian dugderan terpusat di situ. Banyak orang berjualan aneka macam dari panganan sampai mainan dan yang paling terkenal adalah Warak Ngendog. Entah kenapa dan sejak kapan saya tidak tahu sama sekali soal warak –boneka binatang rekaan yang aneh, berbadan singa berkepala naga– yang menjadi ikon khas Dugderan. Saya yang masih kecil pada waktu itu senang sekali bila bapak saya membelikan warak karena ada bonus telur asinnya. Mungkin karena bonus itu jadi terkenallah si Warak Ngendog. Selain itu, pada saat saya masih kecil, setiap menjelang Ramadhan di Masjid Besar Kauman selalu diperdengarkan bedug yang berpadu dengan meriam yang menjadi tanda bahwa malamnya akan dilakukan shalat tarawih untuk pertama kali di bulan Ramadhan. Mungkin karena bunyi bedug (dug) dan meriam (duerrr) itulah timbul istilah dugderan.

Sayangnya, suasana di sekitar Masjid Besar Kauman tidak seperti dulu lagi. Dugderan yang acara puncaknya biasanya berupa karnaval menjadi tidak menarik bagi saya. Mainan-mainan yang ada di dugderan pun sudah berganti menjadi mainan elektronik dan plastik. Semakin sulit menemukan warak ngendhog… :-(

Apakah di tempat sedulur ada budaya khas menjelang Ramadhan???

Selamat Menunaikan Ibadah Puasa Ramadhan! Saya sekeluarga Mohon Maaf Lahir dan Batin!

Post to Twitter Post to Plurk Post to Facebook Send Gmail

Related Posts

25 thoughts on “Nyekar, Padusan, Dugderan

  1. kalo dugderan ditempat saya namanya “tidor” pak, bedanya bedugnya tetep ada di masjid bukan dibawa mobil,,, mohon maaf lahir dan batin pak andy…

  2. tempat saya adanya nyekar sama padusan kalo dugderan gak semeriah kek yg ada di gambar :)
    selamat menunaikan ibadah puasa smoga diberi kesehatan dan kekuatan untuk menjalankan ibadah di bulan suci ini.

  3. ditempat ku,yang didusun jintap,desa wonoketro,kec.jetis,ponorogo gak ada,tapi kemarin di kalimantan ini,pas sebelum puasa,lapak tongkok juga dibuka.
    piye jal?

  4. setelah mbah putri meniggal gag pernah lagi ada yang ngajak nyekar…

    setelah umur bertambah tua….padusan pun ditinggalkan

  5. Balimau kalo di Sumatera Barat buat nyebut Padusan.

    Flowerish kalo di Londo buat nyebut Nyekar… (ning ngarang)

    Teror! kalo di Carangpedopo buat nyebut Dug Duerrr an

  6. Pingback: BALIMAU ….. ! | KECaKOT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *