Padi Tanpa Biji

Kalau semangka, jeruk, durian, dan lain-lain buah-buahan yang tanpa biji, pastinya lebih enak dinikmati… Tapi kalau padi terinfeksi virus, terus tidak keluar biji mau makan apa dong??… Begitulah kira-kira penuturan (plus sedikit diedit) dari Sedyo Hartono, kawan saya semasa SMA seorang ahli pertanian lulusan Tokyo University of Agriculture and Technology yang sekarang tinggal di Yogyakarta. Lebih lanjut, sang ahli memberikan warning bahwa Boyolali,  Klaten, dan Karanganyar yang merupakan lumbung pagi Jawa Tengah ditengarai telah terkena penyebaran virus misterius itu.

Produksi padi Indonesia yang relatif sebegitu saja, ditambah konsumsi beras per kapita yang tertinggi di dunia,  serta banyak masalah di sektor pertanian yang tak kunjung terselesaikan misalnya kekurangan pupuk dan ancaman hama, semuanya semakin memprihatinkan ketahanan pangan kita.

Begitu prihatinnya sampai-sampai mendengar berita yang baik pun saya tersentil dan sedikit agak marah di dalam hati. ’’Bila konsumsi beras dikurangi, maka ketahanan pangan akan meningkat,’’ kata Ketua Umum DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum usai panen raya di Desa Kepuh, Kecamatan Palimanan, Kabupaten Cirebon, Rabu (16/3).

Membaca kelanjutan berita di koran cetak Jawa Tengah yang sering saya baca, pada banyak hal saya setuja-setuju saja. Tapi ketika membaca di akhir berita bahwa si partai itu berniat berkoalisi dengan petani, jujur saja (dan sumpah!!!) saya ragu. Petani sudah sejak jaman dahulu dianggap warga kelas dua, padahal peran penting mereka seharusnya menjadikan mereka sebagai warga kelas satu. Bagi saya, bukan para ambtenaar, petinggi partai, ekonom, dan teknokrat yang menjadi warga kelas satu, melainkan para petani yang meneteskan peluhnya di ladang-ladang, kebun, dan persawahan.

Pada akhirnya, ~lagi-lagi~ warga yang kelasnya di-keduakan itu kembali menjadi pihak yang mengalami pemanfaatan dan terus-menerus dimanfaatkan. Para petani adalah topsoil, namun seringkali terpaksa dikelupas oleh kepentingan lain. Dan sampai saat ini saya masih belum percaya pada si biru yang pernah tertipu oleh energi biru (blue energy) dan super toy.

Demikianlah prasangka buruknya… Prasangka baiknya, ya kita tunggu saja!

Post to Twitter Post to Plurk Post to Facebook Send Gmail

Related Posts

34 thoughts on “Padi Tanpa Biji

  1. Weleh.. Kene virus dan ndak bisa keluar biji padine.. Hmm.. Horor kang..

    Btw menyoroti prasangka si biru, lah gimana ndak berprasangka buruk kalau ujung2nya gitu.. Hehee… Polytik = bermacam intrik.. Hahaha

  2. Kalau petaninya mau…. yach petaninya aja yang mau dibodoh-bodohin…. Apalagi kan zaman sekarang ini banyak orang mau cari amannya aja…

  3. mau biru, merah, kuning, ijo kayaknya engga ngaruh deh. petani cuman jadi alat ajah … tidak ada orang yang tulus mau membantu petani, apa lagi yang berjenis politisi…. semoga biru kelaut dah di 2014 …

    • Yang jelas kan rakyat itu mau aja diuruh memilih… padaal gak tau apa akibatnya yang terjadi degan hasil pilihannya itu.. (doh)

      • Maka itu masyarakat yg pintar (smart society) harus segera diwujudkan. Caranya: paling tidak diselenggarakan diskusi ringan ala warung kopi, tentang hak dan kewajiban kita, biar melek sedikit. (scenic)

    • Bukan hanya petani Pak.. tapi rakyat pada umumnya…. mulai dari ketua-ketua majlis ta’lim, Para pedagang di Pasar, Para buruh, bahkan siswa-siswa yang sebetulnya belum mengerti politik walaupun usinya sudah 17 tahun… Mereka semua jadi sasaran empuk Partai dengan dalih memberikan bantuan. hehehehe

      • betol…..! dan sistem nya pun “habis manis sepah dibuang” kalo dah dipilih oleh rakyat dan sudah terpilih menjadi pemimpin , pada akhirnya nanti hanya memikirkan diri sendiri dan keluarganya , rakyat yg telah memilihnya pun ditelantarkan …

        sungguh terlalu

  4. wahhhh susah juga yak gan kalau sampai padi gag da bijinya??? manusia balik makan ubi y . ..hehehe

  5. Disikat nganggo avira viruse mati gak yo?
    Jd keingat temenku. Ngakunya sebagai pengurus organisasi petani tingkat nasional, tp nyatanya megang cangkul n sabit aja belum pernah. Ujungge politik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *