Parijotho

Bagi masyarakat Jawa, apalagi pecinta kesenian tradisional, tentunya sudah akrab dengan Tembang Macapat Sinom Parijotho, gubahan Sunan Muria.

Raden Umar Syaid atau Raden Said, yang kemudian dikenal sebagai Sunan Muria adalah salah seorang dari 9 Wali di Tanah Jawa yang terkenal dengan sebutan Walisanga atau Walisongo. Beliau adalah salah seorang penyokong Kerajaan Demak Bintoro, dan ikut berperan dalam mendirikan Masjid Demak. Mendapat gelar Sunan Muria, karena beliau berdakwah di kalangan rakyat jelata di daerah-daerah di lereng Gunung Muria di sebelah utara kota Kudus sekarang, sampai wafatnya pun beliau dimakamkan di Gunung Muria. Sama seperti ayahnya -Sunan Kalijaga,- dan adik iparnya -Sunan Kudus-, dalam berdakwah, Sunan Muria mempertahankan kesenian Jawa yang sangat digemari masyarakat pada saat itu. Beliaulah pencipta gending Sinom dan Kinanti.

Saya tidak akan bercerita tentang tembang-tembang dan gending-gending Jawa itu, melainkan tentang tumbuhan yang (bisa jadi) menginspirasi Sunan Muria dalam menggubah Sinom Parijotho.

Di Jawa, lazim disebut PARIJOTHO, sedang di Kalimantan (Balikpapan) ada buah semacam Parijotho yang disebut Karamunting. Saya tidak tahu persis, apakah Parijotho bersaudara Karamunting. Parijotho sendiri, sebagaimana disebutkan dalam Just Another Blog-M, juga di BLOG-EM, dan lagi-lagi juga ada di Blog-Em, secara biologi, diklasifikasikan sebagai berikut:

Kingdom:
Plantae (tumbuhan)

Subkingdom:
Tracheobionta (berpembuluh)

Superdivisio:
Spermatophyta (menghasilkan biji)

Divisio:
Magnoliophyta (berbunga)

Kelas:
Magnoliopsida (berkeping dua/dikotil)

Sub-kelas:
Rosidae

Ordo:
Myrtales

Familia:
Melastomataceae

Genus:
Medinella

Spesies:
Medinella speciosa L.

Ciri fisik:
Perdu, tegak, tinggi 1-2 meter.

Ekologi dan penyebaran:
Merupakan tumbuhan liar di lereng-lereng gunung atau di hutan-hutan dan kadang dibudidayakan sebagai tanaman hias. Tumbuh baik pada tanah yang berhumus tinggi dan lembab, pada ketinggian 800 m sampai 2.300 m di atas permukaan laut. Berbunga pada bulan November-Januari dan waktu panen yang tepat bulan Maret-Mei.

Bagian yang digunakan:
Daun dan buah dalam keadaan segar atau setelah dikeringkan.

Kegunaan:
Anti-bakteri, obat sariawan dan anti radang.

Khasiat dan pemanfaatan:

  1. Obat sariawan: buah parijoto segar sebanyak 5 gram, dicuci, ditumbuk halus dan larutkan dalam 100 ml air matang kemudian gunakan untuk berkumur-kumur, sedangkan sisanya diminum.
  2. Obat diare: daun parijoto segar sebanyak 20 gram, dicuci direbus. dengan 400 ml air sampai mendidih selama 15 menit, disaring, setelah dingin diminum 2 kali sehari pagi dan sore.

Kandungan kimia:
Daun dan buah parijoto mengandung saponin dan kardenolin, di samping itu buahnya juga mengandung flavonoid dan daunnya mengandung tanin.

Parijotho banyak dijumpai di desa-desa di lereng Gunung Muria. Dipercaya, terutama oleh penduduk pedesaan, wanita hamil yang makan rujak buah Parijotho bersama dengan buah Delima akan dikaruniai anak yang ganteng atau cantik serta soleh solihah. (Kira-kira ibu dari Cah Sholeh ini dulu ngidam Parijotho nggak ya??? –sekedar informasi, nama sebenarnya dari Cah Sholeh adalah Andy Muryanto, tuh kan… ada murya-nya)…

Baru-baru ini, saya menjumpai Parijotho di lereng Ungaran. Subur Wahyudi, salah seorang pegiat Sekolah Rakyat yang kini sudah tidak aktif lagi, sekarang membudidayakan Parijotho dalam jumlah yang cukup banyak. Menurut Subur yang berdomisili di Kawasan Candi Gedongsongo, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang itu, Parijotho selain bermanfaat untuk kesehatan, terutama untuk wanita hamil, juga mempunyai nilai ekonomis yang cukup bagus. Itulah yang mendorong Subur untuk mengembangkannya, baik memperbanyak melalui biji maupun dengan mencangkoknya.

Ketika saya mencoba mencicipi buah Parijotho yang telah matang yang berwarna merah tua itu, rasanya masam sedikit sepet, namun segar. Memang benar, cocok sekali untuk rujakan. Melihat bentuk fisik tanaman, bunga, dan buah parijotho, saya malah menginginkannya untuk tanaman hias. Sayang sekali, Parijotho tumbuh dengan baik di dataran tinggi. Mungkin sekali tidak cocok bila dikembangkan di dataran rendah seperti di Solo.

Bila sedulur berkeinginan untuk mencoba buah Parijotho dari lereng Ungaran, silahkan kontak Subur Wahyudi melalui www.sekorakyat.co.cc.

Post to Twitter Post to Plurk Post to Facebook Send Gmail

Related Posts

48 thoughts on “Parijotho

  1. Jaman saya kecil, untuk mendapatkan parijotho musti masuk keluar hutan dan butuh waktu sampai 2 hari 2 malam. Tapi sekarang sudah banyak yg membudidayakan. Mas Andy betul, untuk tanaman hias bagus juga & buah + bunganya jauh lebih menarik ketimbang bunga2 mahal yg belum lama ini ngetrend. Sayangnya ndak cocok tumbuh di Kendal kota atau juga Solo. Bukan cuman ndak cocok, saya sudah nyoba berkali2 mati terus dan terus mati…

    silahkan klik bila tertarik tulisan marsudiyanto yang berjudul..Asing dengan Bahasa Asing

  2. Saia malah baru tau ada buah yang namanya parijotho, kalau tau mungkin saia coba untuk merasakan buah itu, padahal sempat jalan-jalan ke bandungan trus lanjut ke candi gedongsongo, sayang banget..

  3. Baru tahu nih Mas kalau Parijoto itu tumbuhan …bukan Sambiroto khan…..?

    Nah ini Gending yang sangat suka..:

    Nuladha laku utama
    Tumraping wong tanah Jawi
    Wong agung ing Ngeksiganda
    Panembahan Senapati
    Kapati amarsudi
    Sudaning hawa lan nepsu
    Pinesu tapa brata
    Tanapi ing siyang ratri
    Amamangun karyenak tyasing sasama

  4. baru tahu khasiat lain parijotho ini, saya pikir khasiatnya cuma buat sawang2an apik2an sajah…trims ya Mas untuk pencerahannya…

    BTW, foto gondrongnya mengingatkan saya pada seseorang, tapi saya lupa namanya…jangan2 de javu…

    silahkan klik bila tertarik tulisan ayik yang berjudul..Coba BACA…!!!!

  5. wahhh mas andi sudah mulai menampakkkan kebudayaan2 jawa …sip mendung mas
    memang kearifan lokal di negeri ini berragam yah mas
    :D Sukses selalu buat mas andi

  6. Mungkin mas subur sudah membuat ramuan dalam bentuk serbuk kali ya mas?
    K-lo ada tolong diiklankan…
    Sptnya akan banyak peminatnya bila sudah menjadi Herbal siap Minum

  7. saya tidak tahu, mas andy, kenapa saya malah lebih akrab dengan gendhingnya darupada dg tanamannya, yak, hehehe …. maklum, meski berasal dari kampung, sejak kecil saya hampir tak pernah memperhatikan berbagai jenis tanaman yang saya yakin banyak hal yang bisa dikaji secara keilmuan. setahu saya, pak mar termasuk pemerhati masalah tumbuhan.

    silahkan klik bila tertarik tulisan sawali tuhusetya yang berjudul..Domain Baru dengan Hosting Gratis

  8. Ah ….maaf ya mas kalau link saya adalah cbproads…maklum lagi belajar di dunia Maya dan kebetulan ketemu yang namanya cbproads…jadi deh saya affiliasi kesana walau nyoba yang gratisan.
    Matur nuwun atas komentarnya tentang gending yang sangat saya suka …
    Salam kenal

  9. gunung muria itu khan ada di kota kelahiranku mas, Kudus, terima kasih foto2nya, jadi ngnget lagi nih si parijotho :)

    met wiken buat mas Edy dan bu Noor sekeluarga :)

  10. Di Kendal PARI nya buanyak, tapi JOTHO nya yang tidak ada. Bessok tak mengadakan penelitian untuk menanam JOTHO nya saja, wong PARI nya sudah ada.
    Btw, panjenengan ternyata seorang biologist juga ya, mempelajari silsilah parijotho dari Kingdom sampai dengan species nya.

    silahkan klik bila tertarik tulisan rochmaniac yang berjudul..OBAMANIA(C)

  11. Dijual bibit Parijotho ukuran 20-50 cm. Dan tanaman ukuran 1meter. Harga bisa dinego!!
    Hubungi:-08523792448,03160922846,031870581. a/n Dhani.

  12. ungarannya dimana ya mas? kalo mau beli buahnya harganya brapa ya? bulan2 ini berbuah ga?saya baru ngidam buah ini…

    • di Gedongsongo…
      kl anda dari ungaran, silahkan menuju ke bandungan dan ke gedongsongo. sepertinya di sana banyak pula yang mengembangkan parijotho. soal harganya saya tidak tahu… :-D *semoga cepat mendapatkan keinginannya*

  13. q posisi di mojokerto pngen punya pohonnya kira” dimana ya?… kalo beli kesana terlalu jauh.. cz krg lg nyidam xixixixi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *