Yang Terpinggirkan

Jaman semakin maju, pola, cara, dan selera belanja orang-orang pun berubah. Bilamana dulu ramai pasar tradisional mulai dari kelas pasar krempyeng sampai pasar gede, sekarang semakin banyak pelanggan beralih ke pasar modern yang lebih bersih, adhem, dengan harga pas tanpa bisa tawar-menawar. Harga barang yang berangka satuan kecil menjadikan hitungan total belanjaan menjadi tak ada kembalian karena tak tersedia recehan. Dan kembalian permen pun menjadi budaya baru sampai-sampai deperindag turun tangan.

Beberapa pasar tradisional besar masih bertahan, bahkan tetap menjadi pilihan. Pasar Johar dan Pasar Karangayu di Semarang, Pasar Beringharjo di Yogya, Pasar Legi dan Pasar Gede di Solo, keramaiannya tak tertandingi mall besar. Bahkan ada di antara pasar tradisional itu yang sanggup mematikan mall besar di dekatnya.

Namun, pasar krempyeng dan pasar tradisional kecil semakin terpinggirkan. Geliatnya semakin malas-malasan seiring semakin berkurangnya kunjungan pelanggan yang berpindah ke lain hati. Menjamurnya tempat belanja swalayan mini yang semakin mendekati konsumen membuat semakin sepi pasar tradisional.

Bukan salah siapa-siapa, hanya jaman yang kini telah berubah dan terus berubah di masa mendatang…

Apakah sedulur masih tahu nama pasar besar yang ada di kota sedulur??? Apakah juga tahu nama pasar yang terdekat dari tempat tinggal sedulur?

gambar diambil di Pasar Bumirejo, Pabelan (Pasar Gumpang), Kartasura

tulisan ini juga dipublikasikan di Sukoharjo.Org

Post to Twitter Post to Plurk Post to Facebook Send Gmail

Related Posts

39 thoughts on “Yang Terpinggirkan

  1. Ada pasar wage JETIS, pasar pahing (pasar hewan) JETIS, pasar pon MLARAK, dkk
    masih rame tuh pasar2 di atas, karena memang mallnya jauh, yang deket & dikit menjamur adalah SUWALlayan (surya, salam, indomart, dkk)

  2. saya masih punya 1 petak tempat di pasar Kebanggan, Banyumas. Buat 15 tahun, tapi sampai hari ini pasarnya malah semakin suepii… (doh)

  3. Nang desaku pasar tradisional wis mati mas. Padahal gak ono supermarket/hypermarket nang daerahku. ono yo nang magelang kota sekitar 10KM sko nggonku. Ning yo mergo pengaruh TV saiki podho rodo gengsi nek nyang pasar, blanja uyah krosok wae nyang supermarket. (Doh…)
    .-= sedulur nahdhi menampilkan tulisan..Peduli Internet Koneksi =-.

    • @nahdhi, nah… itu brarti karena budaya belanja yang berubah…
      kok bisa begitu ya? padahal pasar tradisional sekarang kan bagus-bagus, nggak becek seperti jaman dulu…
      yah… begitulah!

  4. di klaten ada pasar kota, pasar prambanan
    Semarang: Pasar Johar, jatingaleh, pasar damar
    Pemalang: pasar comal, pasar ptarukan pasar pagi

    sekian laporan pandangan mata dari penjaga pasar

  5. kalo saya sebagai ibu rumah tangga yang masak *ojo diguyu kang, okeh hlo irt jaman saiki sing ra masak*, pasar yo tetep nggone soboku. durung maneh suplai nggo bakulanku, blonjone nang pasar, nek blonjone nang supermarket, wadoooh kukut bakulanku, tombok jueee :)
    .-= sedulur ami menampilkan tulisan..perikehewanan =-.

  6. untuk urusan pasar tradisional…!
    kalo pulang kampung saya sendiri di pastikan selalu menengok dan belanja di pasar tradisional..!
    di daerah saya di kacangan solo ..!
    .-= sedulur omagus menampilkan tulisan..Gold Nature =-.

  7. setuju banget karena perubahan jaman yang menyebabkan semakin terpinggirkannya pasar tradisional. meskipun sehari-hari belanja di pasar tradisional tapi bojoku kadang juga kepengen belanja sayuran di supermarket sayuran namanya fre*h market tempatnya lebih bersih tidak bau.
    .-= sedulur endar menampilkan tulisan..Grothal grathul =-.

  8. sedih yah … padahal disini kita bisa nawar sampai puas! emang bisa nawar di pasar korporat besar (baca: supermarket) kayak sengaja digembosi ( (LOL) bahasa yang sering didengar akhir-akhir ini .. hehehe (lmao) )
    .-= sedulur gadgetboi menampilkan tulisan..Linux Mint 8 Helena release! =-.

  9. Pingback: Suweg | KECaKOT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *