Penjual Pulsa dan Pemulung

Maaf… yang baca artikel ini jangan ngadu ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia, bisa-bisa aku dituduh melanggar Hak Asasi Manusia karena disangka meng-eksploitasi anak, hehehe…
Diki, anak sulung-ku, beberapa bulan lalu sewaktu masuk SMP minta dibelikan HP. Sebetulnya ga minta sih, cuma mengisyaratkan kalau dia pengin punya HP. Sebagai orang tua yang sayang anak, akhirnya aku belikan juga sebuah HP low end, tapi karena ga begitu suka, Diki tukeran sama buliknya -adikku yang bontot-. Duh senenge punya HP baru…
Tiga hari pertama, pulsa bawaan nomor perdana langsung habis, beli lagi 10rb hanya bertahan 5 hari, beli lagi 15rb, seminggu sudah habis… Waduh… (aku garuk-garuk kepala padahal tidak gatal)… Ini tidak bisa dibiarken…
Beberapa hari kemudian, sebelum pulsa Diki habis, aku dapat ide cemerlang…
Nomornya aku daftarin ke tempat jual pulsa “one chip all transaction”… Artinya, nomor itu bisa digunakan untuk jualan pulsa elektrik dengan menyetor “deposit” terlebih dahulu. Selama beberapa hari Diki aku kasih “training” khusus cara-cara jualan pulsa elektrik. Aku sempatkan juga membuatkan leaflet-leaflet kecil untuk dibagikan ke teman-temannya di sekolah. Judul jualan pulsa-nya “Dxdiag Pulsa Kecil“, karena hanya melayani penjualan pulsa di bawah 25rb.
Minggu pertama penjualan bisa nutup 5 transaksi, minggu selanjutnya meningkat dan meningkat terus. Sekarang, setelah beroperasi selama setengah tahun, rata-rata melayani 10-15 transaksi setiap hari. Itu hanya dilakukan sepulang sekolah lho, karena di sekolah Diki ada larangan “siswa tidak boleh bawa HP ke sekolah”. Biasanya teman-teman Diki cukup sms saja utk pesan pulsa, esok harinya dibayar di sekolah. Dengan 10-15 transaksi harian itu Diki bisa mendapatkan pembayaran 50-100rb setiap pulang sekolah. Kalau hari Senin malah bisa lebih banyak lagi karena Diki menerima pembayaran untuk transaksi hari Sabtu dan Minggu…
Setelah lancar berjualan pulsa itu, Diki tidak pernah lagi minta uang untuk beli pulsa, bahkan uang saku pun jarang minta lagi. Semua bisa dicukupi dari keuntungan jualan pulsa. Hanya saja kalau ada “tarikan” iuran dari sekolah, Diki akan minta uang pada ibunya. Aku rasa, Diki sekarang sudah seperti anak orang kaya. Bayangkan, tidak semua anak SMP setiap hari bisa bawa uang 50-100rb lho!. Jumlah yang sangat jauh dibandingkan nominal “sangu” reguler-nya yang hanya 3-4rb per hari… hehehe… Kadang aku khawatir, kegiatan tambahan itu mempengaruhi prestasinya, tapi ternyata tidak juga, walaupun tidak rangking satu.

Kesuksesan “bisnis” Diki ternyata membuat iri Nanin adiknya, yang pada ulangtahunnya yang ke delapan mendapat hadiah kulkas kecil. Rupanya dia pengin juga mendapatkan uang dari jerih payah memeras keringat sendiri. Sungguh mengherankan, Nanin yang baru 8 tahun bisa juga melihat peluang mendapatkan duit setelah melihat beberapa tetangga, juga warung depan rumah yang sering membeli es batu. Nanin minta kepada ibunya untuk diajari cara membuat es batu. Lagi-lagi aku yang “ketiban” repot karena harus membelikan berbagai macam plastik bungkus es. Singkatnya, sehari setelah sukses membuat Nanin “wara-wara”, ber-pengumuman bahwa dia juga jualan es batu. Beberapa kawannya, tetangga, dan warung depan rumah mulai membeli es batu buatan Nanin.
Hanya saja Nanin belum pernah belajar “studi kelayakan usaha”, sehingga memulai suatu bisnis pada saat yang kurang tepat. Di musim hujan tentu saja konsumsi es relatif rendah dibandingkan musim kemarau. Akibatnya, pendapatan Nanin pun tidak seperti yang diharapkan, penjualan es batu rata-rata hanya 2-3rb per hari. Walaupun cukup senang karena es batu buatannya ada yang beli, Nanin masih kurang puas. Pendapatannya masih jauh dari keinginannya untuk bisa menabung 10rb sehari.
Untung ibunya punya ide lain, “mengumpulkan barang bekas untuk dijual kepada pengumpul barang bekas”. Gayung bersambut, Nanin sekarang rajin bersih-bersih rumah. Setiap ada barang yang tidak terpakai langsung ditanyakan pada ibunya. Bila benar-benar layak untuk dibuang akan dikumpulkan di tempat tersendiri. Siapa tahu laku dijual.
Sekarang, di rumah ada dua tempat sampah. Yang pertama untuk barang-barangyang masih bisa dijual lagi seperti botol bekas, plastik, cup escream, doos susu, koran, sparepart bekas bapak perbaiki motor dan komputer, dan lain-lain. Tempat sampah yang kedua untuk sampah dapur dan sampah yang benar-benar layak dibuang karena tidak bisa didaur-ulang (sebetulnya sebagian bisa diolah menjadi kompos).
Bisnis Nanin ini bisa menghasilkan 10-20rb per minggu. Ini membuat senyumnya lebih merekah karena tabungannya bertambah.

Post to Twitter Post to Plurk Post to Facebook Send Gmail

Related Posts

3 thoughts on “Penjual Pulsa dan Pemulung

  1. kami adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang jasa pendistribusian pulsa. disini kami membuka kesempatan bagi anda menjadi distributor dengan persaratan sebagai berikut

    1.mempunyai handphone minimal 1 satu buah untuk transaksi
    2.jujur dan pantang menyerah.

    Keuntungan yang bisa diperoleh jika bergabung
    1.registrasi pendaftaran gratis
    2.bisa menjual pulsa kembali kepada orang lain atau konter (karna anda distributor)
    3.mendapat keuntungan dari selisih harga dari downline(rebeat)
    4.setiap permintaan yang dikirim mendapat report balasan
    6.bisa cek saldo,ganti pin,cek rebeat,bisa kapanpun bisa melakukan permohonan penarikan rebeat dll
    7.kode pulsa berlaku untuk semua indonesia
    8.transaksi cepat dijamin hitungan detik dan tentu saja harga murah

    harga
    telkomsel&flexi:
    ss5 =5200 as5 =5200
    ss10 =9950 as10 =9950
    ss20 =19600 as15 =15200
    ss50 =48500 as25=25000
    ss100=****** as50=48500

    indosat:
    5=4950
    yang lain lurus

    xl:
    5=4950
    yang lain lurus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *