Pernikahan Markumi

Bapak dan ibuku mempunyai 8 (delapan) orang anak, terdiri dari 4 (empat) laki-laki, dan 4 (empat) perempuan. Tahun 2000, ketika bapakku meninggal, hanya tinggal seorang yang belum menikah yaitu adik bungsu, perempuan, bernama Royhana. Tak lama setelah kepergian bapakku, ibuku pun menikahkan adik bungsu itu. Sekarang semua anak-anak bapak ibuku tinggal sendiri-sendiri bersama keluarga masing-masing.
Untunglah ada seorang anak bernama “Markumi” yang ikut ibuku, sehingga ibu tidak kesepian, juga tidak begitu repot mengurus rumah besar 17x22meter yang ditinggali ibuku.

Markumi ikut ibuku sejak kecil, usia SD. Waktu itu tinggi badannya tidak lebih tinggi dibanding kulkas 165 liter. Kecil, kurus, hitam, dan tampangnya galak. Ibunya tinggal se-desa dengan ibuku. Siapa bapaknya juga tidak begitu jelas. Oleh ibuku, Markumi disekolahkan mulai dari SD, SMP, SMA Terbuka, dan sekarang kuliah di sebuah universitas swasta di Semarang. Tahun 2008 ini umurnya sudah 21 tahun. Sudah cukup dewasa, baik secara fisik, reproduksi, mental, sosial, dan lain sebagainya.
Tentu saja mempunyai “tanggungan” gadis seusia Markumi membuat ibuku “ketar-ketir”, “dag-dig-dug”, was-was dan khawatir. Maklum, jaman semakin maju, godaan pun semakin banyak. Selama ini ibuku tidak pernah meninggalkan Markumi untuk tempo yang lama. Kemana-mana selalu diajak. Bahkan tetangga pun banyak yang iri ketika seorang “Markumi” bisa berlibur ke Pulau Bali. Hehehehe… itu karena diajak ibuku menengok adikku yang tinggal di Denpasar.
Ketika ibuku berniat untuk berangkat “umroh” April 2008 nanti, kekhawatiran itu memuncak. Pikiran beliau dipenuhi perasaan was-was, bagaimana nanti bila Markumi ditinggalkan sendiri di rumah selama 2 (dua) minggu??? Mau dititipkan ke anak-anak ibuku yang lain sangat tidak mungkin karena Markumi sendiri punya banyak kegiatan di rumah, tugas yang paling utama adalah mengelola “pengajian anak-anak” yang sudah dirintis ibuku sejak tahun 1960. Mau dikembalikan sementara ke rumah ibunya, Markumi justru yang keberatan.
Akhirnya, karena sudah sejak beberapa lama ibuku melihat ada “cowok” yang “naksir” Markumi, (mereka sebetulnya ditengarai sudah lama berpacaran), ibuku menanyakan keseriusan si cowok itu. Rembug punya rembug, akhirnya tercapai kesepakatan, Markumi akan dinikahkan pada 22 Maret 2008.
Untuk yang ke 9 (sembilan) kalinya, ibuku “mantu” lagi. Tapi, itu membuat ibuku cukup tenang. Markumi pun senang.
Dan walaupun tetap saja kami, anak-anak ibuku, tidak menganggap Markumi sebagai “adik”, kami bersepakat untuk membantu ibu melangsungkan perhelatan ini sepenuh hati. Karena bagaimanapun juga Markumi sudah menjadi bagian dari keluarga kami.

Post to Twitter Post to Plurk Post to Facebook Send Gmail

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *