Rambutan

Proyek perumahan yang saya kerjakan sekarang ini terletak di bagian barat daya Kota Semarang. Ketinggiannya yang kurang-lebih 200-400 meter dari permukaan laut, membuat suasana tidak sepanas di kota bawah*. Kecamatan Mijen, tempat proyek saya itu, adalah salah satu sentra durian dan rambutan. Bahkan, saking terkenalnya, di Mijen ada pasar krempyeng yang biasanya ramai setiap kali musim buah. Namanya Pasar Ace, mengambil nama dari rambutan (Nephelium lappaceum) yang bahasa Jawanya adalah ace.

[Lebih Lanjut Tentang RAMBUTAN]:

Rambutan adalah tanaman tropis yang tergolong ke dalam suku lerak-lerakan atau Sapindaceae, berasal dari daerah kepulauan di Asia Tenggara. Kata “rambutan” berasal dari bentuk buahnya yang mempunyai kulit menyerupai rambut.

Rambutan banyak terdapat di daerah tropis seperti Afrika, Kamboja, Karibia , Amerika Tengah, India, Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand dan Sri Lanka.

Tumbuhan ini menghasilkan bunga setelah 7 tahun jika ditanam dari biji, namun pada usia 2 tahun sudah dapat berbunga jika diperbanyak secara vegetatif. Rambutan biasanya berumah dua, tetapi bersifat androdioecious, ada tumbuhan jantan dan tumbuhan banci. Tumbuhan jantan tidak pernah bisa menghasilkan buah.

Pembungaan rambutan dipengaruhi oleh musim atau ketersediaan air. Masa kering tiga bulan menghentikan pertumbuhan vegetatif dan merangsang pembentukan bunga. Di daerah Sumatera bagian utara, yang tidak mengenal musim kemarau rambutan dapat menghasilkan buah dua kali dalam setahun. Di tempat lain, bunga muncul biasanya setelah masa kering 3 bulan (di Jawa dan Kalimantan biasanya pada bulan Oktober dan November).

Rambutan Unggul
Varietas unggul rambutan yang sudah dilepas Departemen Pertanian Republik Indonesia hingga 2005 adalah
1. ‘Rapiah’ dari Pasarminggu,
2. ‘Bahrang’ dari Langkat,
3. ‘Lebakbulus’ dari Pasarminggu,
4. ‘Sibatuk Ganal’ dari Sungai Andai, Kalimantan Selatan,
5. ‘Nona’ dari Kampar, Riau,
6. ‘Binjai’ dari Pasarminggu
7. ‘Antalagi’ dari Sungai Andai, Kalimantan Selatan,
8. ‘Sibongkok’ dari Sungai Luhut, Kalimantan Selatan,
9. ‘Garuda’ dari Sungai Andai, Kalimantan Selatan
10.’Tangkue Lebak’ dari Kecamatan Maja, Kalimantan Selatan,
11.’Narmada’ dari NTB,
12.’Kundur’ dari Riau

Selain itu, dikenal pula beberapa ras lokal yang juga dikenal baik untuk keperluan terntentu, seperti ‘Sinyonya’ dan ‘Sitangkue’ yang dianjurkan untuk digunakan sebagai batang bawah dalam okulasi. (wikipedia)

Sayang sekali, karena sekarang ini hampir tiap kepala keluarga mempunyai tanaman rambutan sendiri, seolah-olah rambutan di daerah Mijen tidak ada harganya. Banyak sekali dijumpai pohon rambutan yang penuh bergelayutan buahnya sampai merah merona tidak kunjung dipanen, karena biaya untuk panen tak seimbang dengan hasil yang didapatkannya.

Entahlah, mengapa bisa sampai seperti itu??? Padahal, rambutan di Mijen hampir semuanya adalah rambutan berkualitas… Bagi saya pribadi, sayang untuk dilewatkan…. dan… sudah dua minggu ini, selama saya di proyek perumahan, tak ada hari yang tak terlewatkan tanpa makan buah rambutan… GRATISSS… (mmm)

*) Semarang adalah kota yang unik karena terbagi menjadi kota atas dan kota bawah. lebih lanjut silahkan baca di sini

Post to Twitter Post to Plurk Post to Facebook Send Gmail

Related Posts

55 thoughts on “Rambutan

  1. sampai sekarang saya masih bingung tentang istiLah ‘rambutan’ dan ‘ace’ di Semarang..
    apakah itu buah yang sama atau tidak..
    mumpung di Semarang, mampir ke tempat saya di Kedungmundu, Pak…!! :lol:

    • rambutan dan ace itu bukan istilah semarangan kok, tapi sebagian jawa tengah, aslinya begini: secara fisik hampir sama, aslinya: rambutan itu lebih panjang rambutnya… dan antara buah dan biji di dalamnya, erat sekali ikatannya, shingga kurang asik dimakan, sementara ac: rambutnya agak pendekan, ikatan antara biji dan buahnya ndak terlalu kuat, lebih asik di makannya, sekarang ini sudah langka yang asli rambutan, aslinya itu ace, tapi orang menyebutnya rabutan :)

      • jarene wong Njawa, nek rambutan kuwi rambute dhawa tur ora nglothok… tenane ya mbuh ya!
        kanggoku, pokok enak, legi, gratissss… langsung nyam…nyam…nyam… (mmm)

  2. “Semua orang yang ada di permukaan bumi ini pada dasarnya pengin makan rambutan, apalagi gratis, tapi cara mendapatkan rambutan inilah yang berbeda-beda. Ada yang beli, ada yang nyolong, ada juga yang minta baik-baik dan hanya sebagian orang saja yang dapat rambutan tanpa bersusah payah alias diberi, kalau hari ini aku belum bisa makan rambutan Mijen … bersyukur sajalah atas nikmat Allah SWT yang lain atas diriku….”

    (lmao) hahahaha…. lha ra nduwe wit rambutan jueee…. (annoyed)

  3. Rambutane suegerrrrr…
    Masukan dikit buat Mas Andy, mugo2 berkenan…
    Ben kotak memanjang sak ngisore tombol [lihat] tidak tampak, ubah paddingnya dengan 0 (nol)

  4. di surabaya banyak sekali rambutan berkualitas. terutama di pinggiran kali jagir. warnanya merah semua. menggoda.

    tapi suatu ketika pas pagi-pagi terlihat para pedagang rambutan tersebut saling mengecat rambutannya dengan warna merah..

    oalahhh.. ketipu :)

    kang OOT , cara bikin spoiler gmn? aku ada pluginnya tapi koq ga ada pembatas kanan kirinya

  5. Rambutan yg enak yang keriting namanya rambutan klengkeng, yaitu persilangan antara rambutan rafia dengan klengkeng, rambutannya brindil-brindil kayak rambutnya Didier Drogba. Rasanya manis sekali tur nglotok banget…

  6. Mijen? inikan rumah ku. hehe…iya sekarang pemkot lagi getol2nya ngasih ijin bikin perumahan didaerah ngaliyan dan mijen. suasananya masih oke, lumayan dingin pula.
    soal rambutan, ane setuju gan, ga seimbang antara harga dan biaya. tekor. alhasil buah rambutan dibiarkan merana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *