Rasa

Secara fisik, rasa adalah sesuatu sinyal yang dideteksi saraf yang ada di lidah. Ops… Nggak semuanya oleh lidah. Rasa panas dan dingin bisa dirasakan oleh indera selain lidah misalnya kulit. Kalau yang bisa dikecap oleh lidah ada rasa pahit, rasa manis, rasa asam, dan rasa asin. Adanya aneka rasa itu bisa menambah selera, selera, dan selera. Namun, lagi-lagi pikiran manusia bisa dipengaruhi oleh hal lain misalnya tampilan, dimana tampilan yang baik dianggap bisa menambah nikmat. Tentu saja tetap ada yang tak bisa ditipu dengan tampilan. Barangkali karena soal rasa pulalah yang membuat Anang yang ganteng itu oleh KD diganti dengan beruang coklat.

Kembali ke urusan oral #eh lidah… Ternyata lidah mampu mendeteksi rasa lain selain empat rasa di atas. Penemuan terbaru menunjukkan bahwa rasa protein atau rasa gurih juga merupakan rasa tersendiri yang bisa dinikmati lidah. Para ahli menyebutnya dengan rasa umami. Rasa ini ditemukan pada tahun 2006. Pada tahun 2008, ilmuwan genetik Michael Tordoff juga telah menemukan rasa kalsium yang bisa dideteksi lidah. Rasa kalsium ini seperti rasa pada air tawar. Namun rasa kalsium ini masih jadi perdebatan karena sebagian menilai rasa kalsium seperti air tawar adalah tak berasa. Yang terbaru adalah hasil penelitian para ahli oral #eh rasa di Australia, bahwa lemak juga mempunyai rasa tersendiri.

Saya yang bukan ahli oral ini, pernah bertanya-tanya juga soal rasa pedas. Ini berbeda dengan rasa panas lawannya rasa dingin. Namun pedas tak hanya bisa dirasakan oleh lidah saja melainkan bisa dirasakan juga oleh kulit. Selain pedas karena cabai, jahe, atau merica, dikeplak sendal juga bisa menimbulkan rasa pedas lho!

(LOL)

Sekali lagi, yang di atas itu hanyalah rasa secara fisik.

Secara nonfisik, rasa bisa lebih bermacam-macam lagi. Ada rasa takut, rasa iri, rasa benci, rasa senang, rasa sayang, rasa cinta, dan lain-lain. Kuping juga bisa merasakan¬† kata-kata yang pedas misalnya… Rasain lu!

(lmao)

Yang jelas, bukan karena kekurangan bahasa, namun saya yakin aneka ragam rasa itu –baik rasa fisik maupun rasa non fisik- bisa jadi tak terbatas. Ini terbukti dari banyaknya rasa yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Ungkapan yang keluar hanyalah “hhhmm”, atau “wow”, atau “aaahhh”, atau “ooohhh”, dan lain-lain, atau gabungan dari ungkapan-ungkapan pendek misalnya “uh ah uh ah”…

(banana_cool)

Nah… Dari semua rasa-rasa itu dan rasa-rasa lainnya, saya suka rasa ini:

Sedulur suka yang mana?

Post to Twitter Post to Plurk Post to Facebook Send Gmail

Related Posts

22 thoughts on “Rasa

  1. mohon izin amankan pertamax…. (banana_rock)
    wah, pantesan kawet mau sing disetel The Titans-Rasa Ini terus, jebule meh posting tentang rasa tho….
    soal rasa, aku paling ora doyan karo sing jenenge “pedes”, ora ngerti sebabe pokoke ora seneng :D
    soal “rasa yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata” kui maksude opo?
    (lol) (lmao)
    RASAIN LU !!!!!

  2. Bener Pak…
    Ono rasa sing ora bisa dijlentrehke, atau malah durung ono istilahe.
    Saya yakin diantara asin, manis, pedes, kecut dll masih ada puluhan rasa sing durung terakomodir dlm istilah.
    Ora bisa dijelaske, bisane mung dirasakke.
    Itulah Rasa!

  3. rasa terkadang pertama kali dirasakan rasanya enak… eh lama-lama jadi ngebosanin.. ada juga rasa yang pertama-tama ga enak rasanya.. kok lama-lama ketagihan yach?… (doh) (thinking)

  4. Mungkin perlu di update masalah titik mana saja yang bisa merasakan sesuatu, jadi, nanti dilidah itu banyak sekali titik-titik yang malah membingungkan untuk dipelajari :D

  5. Tapi berdasarkan keyakinan saya, rasa gak hanya tergantung sama lidah. yang paling utama adalah hati.

    jangan lupa nanti malam ikut berpartisipasi dalam Earth Hour 2011 dengan mematikan listrik selama 60 menit mulai pukul jam 20.30-21.30; Setelah satu jam, jadikan gaya hidup!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *