Relativitas

Mendengar kata “relativitas” banyak orang akan tertuju ke Albert Einstein (1879-1955). Ya maklum saja, si jabrik itu adalah perumus teori relativitas yang terkenal itu. Namun saya bukan fisikawan. Walaupun saya suka Fisika, itungan si jabrik itu terlalu berat buat otak saya. Saking beratnya, saya sempat menuduh, si jabrik itu bukan jenius, melainkan autis.

catatan relativitas einstein

Relativitas, -relativity-, asal katanya dari relative, dalam Bahasa Indonesia sering ditulis relatifitas. Saya tidak tahu, mengapa kata itu diserap ke dalam Bahasa Indonesia. Di dalam Bahasa Indonesia sendiri sudah ada kata NISBI (sepertinya saya perlu bertanya kepada Guru Bahasa Indonesia).

Nisbi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring:

nis·bi a hanya terlihat (pasti; terukur) kalau dibandingkan dng yg lain; dapat begini atau begitu; bergantung kpd orang yg memandang; tidak mutlak; relatif: betapa — nya moral itu; cantik itu — , bergantung kpd yg melihat;
me·nis·bi·kan v membuat atau menjadikan nisbi;
ke·nis·bi·an n hal nisbi

Relativitas sama dengan kenisbian.

Dalam urusan Fisika, mislnya; dua sepeda motor yang sedang balapan dengan kecepatan 100kmpj, antara keduanya relatif lambat geraknya. Terhadap jalan, relatif cepat sekali geraknya.

Dalam urusan sosial, misalnya; politikus berusia 40 tahun dikatakan muda. Di dunia olahraga, Michael Schumacher  dibilang pembalap gaek ketika masih membalap di usia 38 tahun, Bahkan pemain bulu tangkis rata-rata pensiun di usia 30an.

Dikatakan dingin karena ada yang panas…

Dikatakan tinggi karena ada yang rendah…

Dikatakan bodoh karena ada yang pandai…

Itu saya sebut posisi relatif.

Mungkin saya abnormal ketika membayangkan alam semesta ini adalah sebuah wadah berisi banyak sekali kelereng. Wadah itu selalu bergoyang sehingga kelereng-kelereng itu teraduk di dalamnya. Banyak sekali butir-butir debu yang menempel di kelereng yang selalu berpindah antara kelereng satu ke kelereng lain. Di situ bisa terjadi variasi yang tak terbatas. Kelereng adalah segmen waktu, -entah seberapa mili, mikro, nano, atau piko detik.  Butir-butir debu adalah masing-masing dari segala sesuatu yang ada di alam semesta. Dan masing-masing berposisi relatif dalam segala besaran, satu sama lain. Mungkin saya keliru!

Dari pemahaman pendek itu, saya menyangkal mesin waktu dalam fiksi ilmiah. Mesin waktu hanya bisa membawa debu ke kelereng tertentu yang pernah dihinggapinya, kemudian memilih meloncat ke kelereng yang lain. Tetapi tetap saja tidak bisa sama sekali mengatur gerak kelereng dan butir-butir debu. Sekali lagi, mungkin saya keliru!

Tiba-tiba saya menyadari, waktu itu adalah salah satu ciptaan Tuhan. Hanya Tuhan sendiri yang sama sekali tidak tergantung pada waktu, karena Tuhan bukan bagian dari wadah, kelereng, dan debu. Yang ini saya yakin tidak keliru!…

gambar dari http://www.forumsains.com

Post to Twitter Post to Plurk Post to Facebook Send Gmail

Related Posts

34 thoughts on “Relativitas

  1. nggak ada yang bisa menjelaskan kenapa Tuhan menciptakan waktu
    tapi tanpa ada waktu, nggak bisa dibayangkan ada tidaknya kehidupan kita

    waktu, adalah sesuatu yang jika kita kehilangan dia, kita sesungguhnya merugi :D

    *ngasal*

    neng oCHa menampilkan tulisan… Koprol Get Universed

  2. waktu itu sebenarnya hanya imajinasi saja, karangan agar orang tahu dan takut saja, dan tidak ada bedanya juga dengan ilmu titen, semacam dimensi yang bisa saja manusia keluar dari dimensi waktu sebagaimana malaikat…

    suryaden menampilkan tulisan… emosi biner

  3. Semua yang ada adalah rahasia-NYA, semua sudah diatur sedemikian rupa dan tak seorang pun tahu apalagi bisa mengubah rencana agung-NYA ini..
    Begitu ya Pakdhe?
    *sotoy mode on:*

  4. Mesin waktu hanya sebuah olah pikir manusia yang menggambarkan keterbatasan, kerinduan, angkara murka …. dan itu fiktif semata. Relativitas Materi tidak pernah meninggalkan “waktu kini” … kecuali alam ruh.

    Itu menurut pendapat saia… bisa jadi saia juga salah…hhehehe

    Xitalho menampilkan tulisan… Video Mesum Mahasiswa UIB Batam

  5. Nampaknya kita pun harus menyingkronkan antara logika klasik aristotelian dengan logika fuzzy. Secara teori, menurutku, logika klasik aristotelian (logika ketat) benar atau malah itu suatu keharusan. Sedangkan secara praktek, logika fuzzy pun bisa dikatakan benar.

    haduh…pusing…

    ressay menampilkan tulisan… Syi’ah di Aceh Budaya atau Aqidah?

  6. hehehe …. saya sendiri malah jarang pakai kata nisbi utk menggantikan kata “relatif”. dalam tulisan saya tentang “bahasa indonesia: antara modernisasi dan jatidiri” saya cenderung berpendapat bahwa kata-kata serapan dari bahasa asing tak perlu dicarikan padanannya dalam bahasa indonesia kalau ternyata kata padanan itu justru terasa lebih asing daripada kata-kata asing yang diserap, termasuk “nisbi” utk menggantikan kata “relatif”. contoh lain, misalnya: masyarakat kita lebih mengenal kata tisu ketimbang selampai atau kudapan utk mengantikan kata snak. jadi, kita kan tak perlu repot-repot mencari padanannya, toh masyarakat juga tak akan memakainya, hehe …

    sawali tuhusetya menampilkan tulisan… Membangun Citra Diri

  7. Huehueee…. saya langsung pusing disuruh baca soal fisika lagi. Udah capek duluan, walaupun hanya sedikit saja contoh yg diambil. Jadi teringat jaman sekolah dulu… :)

  8. saya pernah baca satu buku mengenai teori relativitas tersebut sampai berulang ulang dan tidak mudeng sampai sekarang. kemudian saya renungkan kembali selama beberapa hari penyebab ketidakmudengan itu. dan akhirnya saya baru sadar buku tersebut ternyata bahasa linggis pantes saya tidak mudeng.

    klik untuk baca tulisan endar berjudul Setting Smart Modem di Ubuntu 8.10

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *