rindu senyuman

Sejak anak-anak masih kecil, saya jarang menungguinya. Maklum, karena saya harus bepergian ke berbagai kota untuk melaksanakan kewajiban berkaitan dengan pekerjaan. Seringkali saya merasa ngerindu, ingin bertemu anak-anak, bercanda, dan bermain. Jujur saja, saya malah jarang merasakan rindu dan kangen pada ibunya anak-anak, atau pada perempuan lain. Entah mengapa, saya begitu terpesona dengan anak-anak. Melihat tingkahnya, senyumannya yang ceria, saya merasa sangat bahagia. Ketika mereka sakit atau merajuk, hati terasa teriris, sedih tak terkira. Ketika bapak saya meninggal dunia, saya menangis, namun segera sadar. Ketika anak saya yang kedua meninggal, sebagian hidup saya seakan hilang tak tergantikan.

Saya tidak banyak mengajarkan sesuatu apapun pada anak-anak. Hanya satu hal saja yang selalu saya tekankan, yaitu kejujuran dalam hal apapun. Saya akan marah besar bila anak-anak ketahuan tidak jujur, sebaliknya akan memaafkan setiap kesalahan yang diperbuat bilamana telah jujur mengakuinya.

Dari kecil hingga sekarang, saya selalu merasakan anak-anak sangat gembira menantikan bapaknya pulang. Sungguh hal yang membahagiakan melihat anak-anak yang berebutan bergelantungan di lengan bapaknya, menyambut apapun pemberian walaupun hanya sebutir permen, secuil coklat, atau recehan. Ketika sudah beranjak besar, mereka berebutan meminjam laptop bapaknya untuk bermain-main, mendengarkan musik, dan melihat-lihat apakah ada gambar baru yang dijepret bapaknya di tengah perjalanan. Si adik yang selalu mengganggu dan si kakak yang pura-pura marah pun akhirnya memberikannya kepada adiknya, dan si adik akan senyum-senyum penuh kemenangan. Pemandangan yang yang menyenangkan, mengharukan, membahagiakan dan itulah rindu senyuman.

diki dan nanin bermain komputer, nanin selalu mengganggu

nanin tertawa berhasil menguasai permainan, kakaknya menyingkir

Ketika anak-anak beranjak remaja dan mulai kelihatan bakatnya, kecerdasannya, prestasinya, baik di sekolah maupun dalam pergaulan sehari-hari, saya tersadar, itu semua ternyata bukan peran saya, melainkan peran ibunya. Sungguh berkali-kali saya heran melihat kepintaran anak-anak, ketrampilan anak-anak, mereka sudah pintar mengaji, berprestasi di sekolah, sehat, mudah bergaul, suka berteman dan jarang sekali bermusuhan, mereka juga disiplin dan penurut. Pasti karena peran ibunya, bukan peran saya.

Jadi… Siapa lagi yang merendahkan peran perempuan??? Itu salah besar!!!

Post to Twitter Post to Plurk Post to Facebook Send Gmail

Related Posts

48 thoughts on “rindu senyuman

  1. Alangkah bahagianya sampeyan, saya bisa nangkep sepenuhnya dari postingan diatas…
    semoga kelak saya bisa mengajarkan segala hal baik kepada anak-anak saya sebagaimana sampeyan mengajarkan kepada anak2 sampeyan.

  2. Sangat menyentuh.. Saya percaya di waktu dan kesempatan yang Pak Andy punya, pastilah intens untuk mencurahkan sentuhan kasih ke anak2 tercinta. Berikanlah sentuhan dan torehan berkesan di hati dan jiwa mereka… Make them proud of you.. :) Tapi jangan anggurin ibuknya juga. Hehehehe…

    lovelydee´s last blog post..Penutupan Program, Resign Kemudian

  3. Memang istri dan anak-anak seringkali terlupakan ditengah kesibukan kita membanting menghempas-hempas tulang sebagai kewajiban utama seorang kepala RT. Namun itu bukanlah sebuah excuse (ciee in inglis men) … dan seperti yang Kang Andy rasakan, benar, saya pun merasakan demikian pula.

    ps:
    1.Saya baru tahu ini kang Andy telah didahului oleh anak kedua, turut berduka.
    2.sepertinya posting ini rada-rada utk menebus kerusuhan akibat posting masalah susu.

    deden´s last blog post..TOP KOMENTATOR AWARD

  4. terkadang kenangan menjdi luka
    bila senyum tak lagi merekah
    haruskah kita terpaku
    oleh waktu
    yang terus meninggalkan kita?

  5. Pemberian2 kecil menurut kita mungkin biasa tp menurut anak2 bisa luar biasa lho mas.Saya dulu biasa dioleh2i sama bapak komik Petruk,kalo bapak pulang dari Semarang.Itu aja suenengnya minta ampun. :D Salam kenal mas Andy,blognya bagus. :)

  6. Peran ibu memang sangat dibutuhkan dalam mendidik anak-anak.
    Karena dalam kesehariannya, ibulah yang paling dekat dengan anak-anak.

  7. wadgh dadi oleh pencerahan iki mas
    kan dinyana sampeyan KEREN ™ gtu jadi bapak
    jadi kesimpulane, calon pendamping itu kudu yang pinter
    ndidik anak, ben nek di tinggal bapak’e mloya-malyu koyo
    sampean. anak tetep ono sek ndidik, begitu mas andy?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *