Riswah

Suatu sore, penjual susu segar keliling  langganan keluarga saya  memberitahu kalau dia akan libur untuk sementara waktu.

“Mungkin beberapa hari saya libur, jadi tidak ada antaran susu segar sampai minggu depan.” pamit penjual susu tersebut dengan sopan.

“Emang punya gawe apa pak?” tanya saya.

“Anu… Mau ngantar ponakan ke Jakarta ngurus penerimaan PNS. Ponakan saya itu diterima, jadi harus diurus ubo-rampenya langsung ke Jakarta” jawabnya.

“Lho, kok kayak ruwatan aja pakai ubo-rampe?” tanya saya sedikit geli dan ingin tahu.

“Iya, selain urusan kelengkapan administrasi, juga menyetorkan duitnya”

“Haahhh??? (woot) Habis berapa pak?”

“Seratus tiga puluh juta… kata bapaknya ponakan saya, ya kalau pasti diterima akan diusahakan, makanya karena sekarang sudah diterima ya harus disetor. Idep-idep modal pak! Kalau dipakai dagang, modal segitu juga nggak seberapa, lha kalau jadi PNS kan jelas bulanannya” terang penjual susu itu.

“Ooooo”……. (nottalking)

Setahu saya (sok nggak tahu), yang seperti itu cuma ada di jaman saya dulu waktu habis lulus sekolah. Ternyata sampai jaman sekarang, jaman SBY menggalakkan pemberantasan korupsi tetap saja masih ada suap-menyuap, sogok menyogok atau dalam bahasa syariah Islam disebut RISWAH.

Okelah, tak usahlah membahas soal syariah dan mengutip ayat atau hadits  misalnya:

Dari Abdullah bin Umar berkata, aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Allah melaknat orang yang menyuap, dan yang menerima suap” (HR: Ibnu Hibban)

Bila berkaca pada hati nurani diri sendiri pun tetap merupakan sesuatu yang SALAH bila ada pemberian dengan pamrih semacam agar diterima bekerja, agar diluluskan, agar mendapat keringanan pembayaran kewajiban pajak, agar tidak ditilang pak polisi, agar mendapatkan keringanan hukuman, dan lain sebagainya.

Yang namanya MODAL, itu kan untuk sesuatu investasi. Pun yang namanya HIBAH itu tetap berbeda dengan RISWAH (walaupun seringkali hanya tipis sekali perbedaannya). Pemberian hibah atau hadiah yang tanpa pamrih pun bisa berpotensi menjadi riswah misalnya pemberian angpao dan parcel.

Memberantas riswah dan kawan-kawannya rasanya terlalu sulit dilakukan per individu, harus dilakukan secara komunal. Sederhananya, kalau tidak ada yang mau menyuap, pastinya yang meminta suap pun kehabisan jalan. Kalau tidak ada yang mau menggunakan jasa CALO, pastinya percaloan akan tumpas dengan sendirinya.

Dalam skala nasional, soal pemberantasan korupsi, kolusi, katebelece, nepotisme, suap-menyuap, sogok-menyogok, dan lain-lain, sepertinya SBY sama sekali tidak bisa diandalkan.

tulisan ini hanyalah ungkapan keheranan bahwa ternyata banyak kasus termasuk kasus GAYUS  itu sebegitu mbeleber sampai kemana-mana dan sejauh ini belum jelas big-fish-nya, pun ternyata urusan riswah ini sudah jadi budaya dari tingkat yang sepele sampai kelas mafia.

gambar dari surabaya-metropolis.com


Post to Twitter Post to Plurk Post to Facebook Send Gmail

Related Posts

37 thoughts on “Riswah

  1. Ngenes tenan negorone kita iki yo. Mafia ahlul suap bakal tetep berjaya selama rakyate ‘ndukung’.

    Kalo urusan suap-menyuap atau sogok-menyogok pasutri tentu halal kan ya.. :D

    • Gampangnya sajalah. Gayus tu sampe berani nantang tuk diangkat jadi Ketua Penyidik Korupsi, karena ngaku bisa mmberantas korup hingga ke akar2nya. Yang bener aja? Ini satu bukti Riswah bukan hal yang tabu lagi di negri ini. Ampuun!

  2. Karena itulah sejak aku di SMEA dulu dah gak minat jadi PNS.. xixixi.. Slain malas nyuap juga tahu hitungannya.. Tak cukuplah buat biaya bulanan (haha)

  3. Ah… Lagi-lagi suap. Masuk PNS, Polisi, Tentara, dan semuanya pake uang. Skill dan kemampuan nomor 2. Gimana mau maju nih negara. Huh…
    Lagian untuk kasus di atas, masih ada ya orang yang pikirannya kolot gitu. Mending usaha… 130 Juta mah kalo pinter kelola bisa jadi 1,3 M

    Ehm… Jadi tuh orang keterima dulu ya, baru bayar duitnya. Gak usah dibayar mending. Kali tuh orang marah laporin ke KPK.

    Salam sayang dari BURUNG HANTU… Cuit… Cuit… Cuit…

  4. Benar2 udah kelewatan tingkat korupsi di Indonesia. Tiidak hanya korupsi dibawah meja. Namun, mejanya juga dikorupsi sekalian. Perebutan kekuasaan hanya untuk membesarkan perut bukanlah hal yang tabu lagi

  5. yah,dan hal itu sudah menjadi biasa dan dianggap aneh,pembohong,pembual dan kroninya jika gak melakukan itu.

    *pengalaman pribadi dibilang pembohong pas ada yg nanya mbayar berapa untuk masuk kerja dan dijawab gak pake sogokan*

  6. Semoga di Solo gak ada yang begitu ya…
    Soalnya saya belum pegawai negri, saya pegawai luar negri ( alias swasta )
    Hidup berseri tanpa korupsi…
    Salam kenal

  7. Pantes aja orang2 pinter di negara ini milih keluar negri untuk mengembangkan kemampuannya. Lha untuk melakukan riset saja izinnya susah kudu pake ‘pelicin’ dulu, gimana bisa dapet ilmu baru. SBY itu juga cuma ngomong doank buat berantas korupsi. 2 periode dia menjabat, masa sampe ada kasus memalukan seperti Gayus itu. Benar2 memalukan!

  8. Suatu sore, penjual susu segar keliling langganan keluarga saya memberitahu kalau dia akan libur untuk sementara waktu….

    Pak ditempat saya ga ada tukang susu segar lewat, ada ga ya sekitar Bintaro ?

  9. Alhamdulillah aku keterima PNS dosen UIN Sunan kalijaga dan suami PNS di DJP penerimaan 2009 tidak menggunakan riswah, lolos sendiri, ini membuktikan masuk PNS yg gratis tis juga ada koq..

  10. Parah banget ya… nggak yakin nek setelah masuk Korps Pegawai Negeri iso kerjo temenan (thinking) *geleng2*

    Nek aku 130yuto lha mending tak gae modal, opo invest usaha *geleng2 meneh*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *