Saya Anti Demokrasi

Suatu sore, saat hati terasa miris melihat, mendengar, dan menyaksikan roadshow kekerasan di Nusantara akhir-akhir ini, saya teringat buku Emha Ainun Najib yang mulai dipublikasikan kira-kira satu setengah windu yang lalu (“Iblis Nusantara Dajjal Dunia (krisis kita semua)“, Zaituna: 1998). Ada yang menarik di situ dan layak direnungkan kembali saat ini yaitu; “Saya Anti Demokrasi“… Berikut cuplikannya:

Kalau ada bentrok antara Ustadz dengan Pastur, pihak Depag, Polsek, dan Danramil harus menyalahkan Ustadz, sebab kalau tidak itu namanya diktator mayoritas. Mentang-mentang Ummat Islam mayoritas -asalkan yang mayoritas bukan yang selain Islam-, harus mengalah dan wajib kalah. Kalau mayoritas kalah, itu memang sudah seharusnya, asalkan mayoritasnya Islam dan minoritasnya Kristen. Tapi kalau mayoritasnya Kristen dan minoritasnya Islam, Islam yang harus kalah. Baru wajar namanya.

gambar dari www.voa-islam.com

Kalau Khadhafi kurang ajar, yang salah adalah Islam. Kalau Palestina banyak teroris, yang salah adalah Islam. Kalau Saddam Hussein nranyak, yang salah adalah Islam. Tapi kalau Belanda menjajah Indonesia 350 tahun, yang salah bukan Kristen. Kalau Amerika Serikat jumawa dan adigang adigung adiguna kepada rakyat Irak, yang salah bukan Kristen. Bahkan sesudah ribuan bom dihujankan di seantero Bagdad, Amerika Serikatlah pemegang sertifikat kebenaran, sementara yang salah pasti adalah Islam. “Agama” yang paling benar adalah demokrasi. Anti demokrasi sama dengan setan dan iblis.

Cara mengukur siapa dan bagaiman yang pro dan yang kontra demokrasi, ditentukan pasti bukan oleh orang Islam. Golongan Islam mendapat jatah menjadi pihak yang diplonco dan dites terus menerus oleh subyektivisme kaum non-Islam. Kaum Muslimin diwajibkan menjadi penganut demokrasi agar diakui oleh peradaban dunia. Dan untuk mempelajari demokrasi, mereka dilarang membaca kelakuan kecurangan informasi jaringan media massa Barat atas kesunyatan Islam. Orang-orang non-Muslim, terutama kaum Kristiani dunia, mendapatkan previlege dari Tuhan untuk mempelajari Islam tidak dengan membaca Al-Quran dan menghayati Sunnah Rasulullah Muhammad SAW, melainkan dengan menilai dari sudut pandang mereka. Maka kalau penghuni peradaban global dunia bersikap anti-Islam tanpa melalui apresiasi terhadap Qur’an, saya juga akan siap menyatakan diri sebagai anti-demokrasi karena saya jembek dan muak terhadap kelakuan Amerika Serikat di berbagai belahan dunia. Dan dari sudut itulah demokrasi saya nilai, sebagaimana dari sudut yang semacam juga menilai Islam.

Di Yogya teman-teman musik Kiai Kanjeng membuat nomer-nomer musik, yang karena bersentuhan dengan syair-syair saya, maka merekapun memasuki wilayah musikal Ummi Kaltsum, penyanyi legendaris Mesir. Musik Kiai Kanjeng mengandung unsur Arab, campur Jawa, jazz Negro dan entah apa lagi. Seorang teman menyapa: “Banyak nuansa Arabnya ya? Mbok lain kali bikin yang etnis ‘gitu…”. Lho kok Arab bukan etnis? Bukan. Nada-nada arab bukan etnis, melainkan nada Islam. Nada Arab tak diakui sebagai warga etno-musik, karena ia indikatif Islam. Sama-sama kolak, sama-sama sambal, sama-sama lalap, tapi kalau ia Islam, menjadi bukan kolak, bukan sambal, dan bukan lalap. Kalau Sam Bimbo menyanyikan lagu puji-puji atas Rasul dengan mengambil nada Espanyola, itu primordial namanya. Kalau Gipsy King mentransfer kasidah “Yarim Wadi-sakib…”, itu universal namanya.

Bahasa jelasnya begini: apa saja, kalau menonjol Islamnya, pasti primordial, tidak universal, bodoh, ketinggalan jaman, tidak memenuhi kualitas estetik dan tidak bisa masuk jamaah peradaban dunia. Itulah matahari baru yang kini masih semburat. Tetapi kegelapan yang ditimpakan oleh peradapan yang fasiq dan penuh dhonn kepada Islam, telah terakumulasi sedemikian parahnya.

Perlakuan-perlakuan curang atas Islam telah mengendap menjadi gumpalan rasa perih di kalbu jutaan ummat Islam. Kecurangan atas Islam dan Kaum Muslimin itu bahkan diselenggarakan sendiri oleh kaum Muslimin yang mau tidak mau terjerat menjadi bagian dan pelaku dari mekanisme sistem peradaban yang dominan dan tak ada kompetitornya. “Al-Islamu mahjubun bil-muslimin”. Cahaya Islam ditutupi dan digelapkan oleh orang Islam sendiri. Endapan-endapan dalam kalbu kolektif ummat Islam itu, kalau pada suatu momentum menemukan titik bocor – maka akan meledak.

Pemerintah Indonesia kayaknya harus segera merevisi metoda dan strategi penanganan antar ummat beragama. Kita perlu menyelenggarakan ‘sidang pleno’ yang transparan, berhati jernih dan berfikiran adil. Sebab kalau tidak, berarti kita sepakat untuk menabuh pisau dan mesiu untuk peperangan di masa depan.

Membaca itu, saya tambah merenung lagi.

Saya bukannya mengompori masalah sentimen agama, namun sebetulnya saya juga merasakan banyak hal yang similar yang tidak berpandangan adil. Saya teringat dulu sekali di sebuah kampung dimana saya  cukup lama pernah tinggal di situ, ada sekelompok umat beragama yang protes ke kelurahan karena warga suatu RW tidak menghendaki mereka mendirikan tempat ibadah di sana. Saya pikir pemrotes itu konyol juga karena tidak ada satupun warga yang tinggal di daerah itu yang berkeyakinan sama dengan mereka para pemrotes itu. Mereka selanjutnya melakukan upaya lain dengan menyewa sebuah rumah dan menggunakannya untuk menjalankan ibadah. Anehnya, tak satupun jamaah yang berasal dari RW setempat bahkan kelurahan setempat, bahkan kelurahan tetangga yang berdempetan. Semuanya berasal dari luar.

Tentu saja hal itu berbeda dengan perilaku kebanyakan Muslim yang ~sependek yang saya tahu dan sepanjang yang saya punya~ mendirikan tempat ibadah berdasarkan kebutuhan sosial. Bila hanya ada sedikit warga, cukuplah didirikan mushola, bila sudah cukup banyak, barulah didirikan masjid.

Dan, saya yang penuh toleransi ini hanya bisa bertanya-tanya dalam hati, apakah rumah ibadah itu untuk kebutuhan sosial ataukah untuk invasi??? (doh)

Barangkali ada yang beranggapan bahwa orang Islam kurang toleransi. Sebuah cerita kecil saya simak dari salah seorang kakak saya yang pernah bertugas cukup lama di Dili, Timor Timur (dulu masih Indonesia) yang menuturkan betapa sulitnya mendirikan tempat mushola di kota tempat tinggalnya itu walaupun itu di lingkungan kecil sebuah perumahan yang mayoritas warganya membutuhkan. Salah satu alasan penolakannya adalah karena TOA-nya dikhawatirkan mengganggu sampai jarak yang cukup jauh. (nottalking)

Saya kembali merenung dan mempertanyakan apakah ada yang salah dengan toleransi?

Okelah, bila diasumsikan tidak ada dalang atau otak di atas semua violence roadshow akhir-akhir ini,  hati orang-orang yang sehari-hari sudah disuguhi dagelan politik konyol, keadilan yang dipermainkan, plus kesulitan ekonomi sepertinya harus dinyamankan agar tidak menjadi mudah terbakar dan meledak. Ketika ledakan itu terjadi, tak adil kalau hanya menilai dampaknya saja, pemantiknya juga harus dinilai, dievaluasi, dan seterusnya dapat dikendalikan untuk mencegah ledakan berikutnya… Tak bisa disalahkan sepenuhnya ketika banyak orang sudah mencapai batas toleransinya sehingga mudah dipicu oleh hal-hal yang seharusnya dapat ditoleransi.

Dan, saya rasa semua harus kembali belajar bertoleransi termasuk (misalnya) anggota Ahmadiyah yang  ngeyel, atau seorang Antonius yang membuat selebaran yang isinya tidak mengenakkan hati, atau kelompok-kelompok radikalis termasik FPI yang sering merasa benar sendiri, termasuk semua umat beragama dan tidak beragama, dan termasuk umat Islam sendiri, termasuk yang melontarkan pertanyaan bodoh; “Apakah ketika kita masuk dalam organisasi Islam tertentu lantas ada jaminan masuk syurga?” (doh)

Akhirnya, saya menyatakan bahwa saya tidak anti demokrasi melainkan masih percaya pada demokrasi, namun mari kita renungkan kembali tulisan Emha di atas. Abaikan semuanya kecuali pada alinea terakhir saja!…

Post to Twitter Post to Plurk Post to Facebook Send Gmail

Related Posts

41 thoughts on “Saya Anti Demokrasi

  1. kenapa anda anti demokrasi???
    blog ini cukup ramai sekali , penataanya juga cukup bagus ditambah dengan artikel yang bagus pula , sungguh sangat sempurna !!!
    Salam Kenal !!!
    Jangan lupa berkunjung ke blog saya
    Terima kasih

  2. Saya juga masih percaya demokrasi,,,, karena demokrasi adalah hal terbaik untuk negara dalam menyelesaikan masalah, demokrasi dapat melakukan segalanya, dapat berbuah positif dapat berbuah negatif,,,,,,

  3. bingung banget ngomongin ginian, seperti pisau bermata 2. semoga saat “Islam seperti makanan di atas piring” di negeri ini, saya sudah gak ada….. (worship)

  4. demokrasi ato tidak, yg pasti saia males dg politik praktis ala elit politik di sono.

    atas nama rakyat, smua dlakukan utk ‘menipu’ rakyat & melindungi kpentingan diri & golongan *ikut2n bicara politik*
    status twitterku

  5. Pingback: Tweets that mention Saya Anti Demokrasi | KECaKOT -- Topsy.com

  6. yuukkk bersatu jangan mudah dipecah belah, kemaren mudahnya kita dipecahbelah londo, sekarang kita dipecahbelah penjajah baru dengan aneka topeng….

  7. Tiada yang lebih hebat dari demokrasi versi islam, sebenarnya tuntunan yang diajarkan kanjeng rosul adalah gambaran demokrasi yang sebenarnya…. Karena menurut saya “demokrasi adalah kebebasan berkehendak/ berkreasi bagi semua individu ataupun golongan tanpa mengabaikan dampak negatif pada orang lain maupun diri sendiri” sepurane konco2, aku lagi kesambet.he.he.he

  8. Mumet tenanan ngatani batas toleransi sing makin tipis. Musti ditambal nganggo “semen” apalagi.

    Tiap2 wonge emang kudu sadar diri, nek gak enek apa2ne ning ngarepane Gusti Allah, dadi rak podo kemaki.

  9. Banyak orang bilang bahwa islam adalah agama anarkis… {kalau dilihat dari perbuatan oknum2 yang mengatasnamakan islam memang saya sebagai muslim mengatakan bahwa mereka memang anarkis} karena islam bukan untuk sekedar atas mana {pelajarilah hakekat islam, maka akan kita temukan keselarasan elemen2 demokrasi yang saling terkait dan menciptakan keseimbangan dalam hak dan kewajiban

  10. Kalau soal tempat ibadah, ya memang tidak semua bisa disamakan dengan Islam. Misalnya kristen, mereka punya sistem jemaat. Jadi beda dengan mushola dan mesjid kita yang siapapun bisa beribadat di tempat manapun.

    Kalau kristen dengan rumah ibadahnya mengikat terhadap individu nya. Jadi adalah hal yang wajar jika gereja didatangi mereka yang bukan warga sekitar. Karena bukan gak mungkin misalnya si A ada gereja di deket rumahnya tapi dia “harus” pergi ke daerah seberang lebih jauh karena dia jemaat di gereja yang lebih jauh itu. Jadi bisa saja jemaatnya terpencar-pencar dan memilih satu tempat yang hanya ditinggali satu jemaatnya untuk dijadikan gereja (tempat berkumpul mereka) :)

    Kalau kita muslim khan gampang. Ada kompleks baru, belum ada mesjidnya, langsung kita bangun mesjid. Dan besoknya setelah mesjid jadi kita dan siapapun bisa langsung sholat disana, karena gak ada sistem ikatan jemaat.

    Tapi soal ketidak adilan atau soal ketidak adilan Amerika saya setuju dengan pendapat di atas.

    Btw: Cak Nun tuh ada blognya gak sih? kangen juga baca tulisan beliau

  11. label “Andy” (pake Y) –yang sepertinya kurang berbau Arab, bahkan cenderung Barat :P– juga boleh kok disandang oleh seorang muslim..
    *komen mekso po ra to ki, halah porah*

    • bapakku ki mambu arab, tapi dalam hal njenengke anak’e bervariasi, semuanya sedikit berbau luar namun tetep ada lokalnya… ada yg namanya pakai ahmad dan muhammad, ada juga yang andy dan elvis… ditambahi nama lokal misalnya muryanto, muryawan, dlsb… unik… (barangkali maksudnya supaya bener2 bhineka) hahaha

  12. Sebuah tulisan yang bagus sekali.. dan saya sangat suka dengan tulisan kang Andy yang menyoal toleransi di paragraf-paragraf akhir postingan ini.. Jos..

  13. Mendadak nangis baca tulisan inih :D, tapi apa yang ada ditulisan ini memang ada benar nya juga sih kalau dipikir lebih lanjut :D…alllahuakbar…..:D

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *