Anwar Holid, 29 April 2003
Kosakata Kopi Pahit
================
When all I do is pour black coffee. Since the blues caught my eye…
- Burke & Webster, “Black Coffee”
Baru ketika memasuki masa aktif berorganisasi saat mahasiswa saja saya suka kopi. Bisa jadi dipengaruhi oleh kawan-kawan berkumpul, yang kebanyakan memadukannya dengan kesukaan merokok. Kata mereka, kawan terbaik kopi itu memang tembakau. Tapi karena tidak merokok, saya barangkali bisa agak berbeda menikmati kopi dibandingkan mereka. Bukan apa-apa, setiap kali menyajikan kopi buat teman-teman, kata mereka selera saya parah, tidak jelas, tidak padu, tidak pas. Kadang-kadang terlalu pahit, gulanya tak terasa. Di lain waktu terlalu manis, kata mereka itu adalah gula campur kopi. Akhirnya mereka sering nolak jika saya tawari, memilih membuat sendiri. Dalam istilah Sunda, kopi bikinan saya itu “cawerang”–barangkali padanan paling tepat untuk itu adalah hambar, atau bahkan nirasa. Saya sendiri akibatnya mulai mencoba mencari cara lain menikmati kopi, yakni menyereputnya pahit-pahit, apa adanya, tanpa tambahan apa pun selain siraman air panas.
Secangkir kopi pahit
Awalnya, beberapa kawan tentu saja merasa aneh atas perilaku saya, sebab kopi seperti itu seakan-akan menawarkan kegetiran atau keputusasaan. Pahitnya kadang-kadang membuat lidah langsung merasa terkejut begitu mencecapnya. Tapi justru di sanalah intinya: kita tahu bahwa rasa kopi yang sejati ada pada kepekatannya. Ada yang harum, tapi tak begitu pahit. Ada yang pahit, tapi begitu menyegarkan saat kita mencicipinya. Ada yang kepekatan warna hitamnya sangat kelam, sehingga kita pun selalu bisa mengaca setiap kali akan meminumnya. Kopi memang pahit, tetapi pahit yang berbeda dengan kina atau obat, misalnya. Aneh bukan? Secangkir kopi yang saya minum ternyata mampu mengantarkan khayal atau imajinasi pada banyak hal, menemani kesendirian, setia sampai batas antara dedek (ampas) dan airnya tak jelas lagi. Ketika itulah saya sendiri bertanya-tanya, kenapa sampai menyukai dia sampai seolah-olah begitu akrab dan jadi sukar dipisahkan.
Barangkali karena usianya yang sudah begitu tua, kita tak lagi pernah mendapati kontroversi “penerimaan” pada kopi, meskipun hal serupa kadang-kadang masih tersisa pada tembakau (i.e. rokok) atau ganja. Padahal menurut Katib Chelebi, seorang penulis-penikmat kopi Turki abad ke-17, kopi pada awal ditemukannya mengundang banyak perdebatan, baik di kalangan agama maupun pemerintahan Islam. Di dalam buku terakhirnya, yaitu Mizan al-Haqq (Perhitungan Kebenaran), dia menulis sejumlah essay tentang masalah-masalah yang masih kontroversial itu, salah satunya adalah kopi. Tentu saja dia termasuk orang memihak pelegalan kopi, sebab pada 1657 ternyata dia ditemukan meninggal dunia ketika tengah menikmati secangkir kopi.
Menurut dia, kopi aslinya berasal dari Yaman, yang oleh orang setempat dinamai qalb wabun, dari pohon tertentu yang buahnya bulat-bulat kecil. Sejumlah syaikh, yang hidup bersama para darwisnya di gunung-gunung, memakan kopi dengan cara menggorengnya terlebih dahulu, membubukkannya, kemudian meminum airnya. Kopi adalah “makanan kering dingin, cocok untuk kehidupan zuhud (asketik) dan merupakan penawar/penenang nafsu syahwat atau berahi.” Orang Yaman saling tahu akan hal itu, sementara para sufi, syaikh, dan lainnya menggunakannya. Dari sana kopi menyebar ke seluruh dunia, tiba ke Asia Kecil pada 1543-an. Kopi kemudian menjadi komoditi, diproduksi, dikembangkan, menjadi bagian peradaban manusia. Jika Anda mau sedikit bergaya, di kota-kota seperti Jakarta atau Bandung, kini kopi bisa disajikan dengan penuh keistimewaan, dilengkapi sebagai gaya hidup dan diolah dengan berbagai cara dan rasa.
Jika kita mau sedikit awas, ternyata ada banyak turunan yang berasal dari kata “kopi” yang tentu saja memiliki makna khasnya sendiri-sendiri. Itu menandai bahwa kopi memang sudah begitu dalam berpengaruh pada kehidupan manusia ini. Dalam bahasa Inggris, “coffee” berasal dari qahweh, sebuah kosakata Turki. Mereka kemudian mengenal kata coffee table, coffee break, coffee cake, coffee house, coffee shop, coffee mill (coffee grinder), bahkan coffee-table book. Kamus elektronik Merriam-Webster’s Unabridged Dicitionary saja memuat sekitar 50 lema yang memiliki hubungan dengan kata coffee. Sebanyak itu! Dalam bahasa Indonesia, muncul antara lain kata kopi andelan, kopi gelondong, kopi pahit, kopi susu, kopi pekat, dan bisa jadi “kopi darat.” Dalam bahasa Sunda ada kata kopi careuh, kopi tubruk, juga uang kopi. Dari ranah musik dangdut Fahmi Shahab dulu sempat jadi fenomena karena menciptakan lagu yang sangat rancak, yaitu “Kopi Dangdut”–meskipun iramanya ternyata hasil bajakan.
Kata bentukan itu tentu saja khas budaya masing-masing penghasilnya. Orang Barat tentu tak bakal mau meminum kopi careuh, yang kata orang Sunda itu adalah jenis kopi terbaik, meskipun berasal dari tinja careuh (binatang sejenis kucing). Sebaliknya kita rasanya tak mengenal coffee house dan sejenisnya, sebab kopi di sini kebanyakan disajikan alakadarnya di warung-warung kopi (warkop) sederhana, sambil ngobrol ngalor-ngidul tentang apa saja tanpa arah selain demi mengeratkan keakraban, dalam istilah singkat “ngopi”. Istilah ini mencakup banyak hal: bersantai-santai menikmati hidup, mungkin sambil makan kudapan atau merokok, membicarakan apa saja yang ke luar dari dalam hati, membicarakan kejadian-kejadian yang terlintas di dalam kehidupan. Itu berbeda dengan gaya hidup kaum intelektual dan kelompok penggemar lain di Barat yang menggunakan coffee house sebagai tempat pertemuan favorit pada abad ke-18 untuk mendiskusikan politik, sastra, dan topik lainnya. Begitu seriusnya obrolan di tempat minum itu, hingga pada 1675-an, Raja Charles II di Inggris diperingatkan oleh para intel agar berhati-hati terhadap kemungkinan adanya makar yang direncanakan dari warung kopi itu. Akibatnya warung kopi mendapat tekanan tinggi, salah satunya adalah dengan memungut pajak sangat tinggi terhadap penjualan kopi. Anda boleh percaya jika Jean-Paul Sartre, eksponen eksistensialis paling terkenal, sering berdiskusi tentang masalah serius di tempat seperti itu di Paris. Kini langkah itu dipraktikkan Christopher Phillips, seorang peminat filsafat, untuk mendiskusikan filsafat, pemikiran, juga kehidupan bersama banyak orang di dalam klubnya yang dia namai Socrates Cafe. Menurut Ali Audah, penulis novel legendaris Mesir Naguib Mahfouz juga sangat kerap nongkrong di warung kopi, menyapa dan ngobrol apa saja dengan kawan akrab atau kenalan baru. Hasilnya adalah serentetan karya yang sarat dengan realisme sosial masyarakat Mesir.
Apa kita benar-benar tak bisa membicarakan masalah serius di suatu warkop? Tanyai mereka yang mendatangi kafe-kafe itu, apa yang mereka bincangkan. Apa membicarakan hubungan antarpersonal, sebal pada seseorang, jenuh pada suasana kantor, bisa dikategorikan serius dan penting bagi kelangsungan moral manusia? Budaya dan adat kita memang berbeda dengan kebiasaan masyarakat Barat itu. Bisa jadi minum-minum kopi di kafe sejauh ini masih merupakan gaya hidup yang harus dibayar sedikit mahal, sementara kita juga belum bisa berharap terlalu banyak mendapatkan sesuatu dari obrolan itu. Dulu di saat awal krisis moneter, ada sekelompok kawan di Bandung yang pernah bikin kafe dengan niatan sebagai wadah untuk ngobrol-ngobrol secara menarik dan tajam, dalam suasana yang menyenangkan…. tapi nyatanya tidak berhasil. Barangkali karena merasa janggal, tempat seperti itu kok digunakan untuk ngobrol sesuatu yang malah bikin mumet. Bukannya orang datang ke sana untuk santai, meregangkan rutinitas, dan menikmati hidup? Tentu saja karena kenikmatan aroma, rasa, dan pengaruhnya, maka kopi menjadi kecintaan banyak orang, diminum ketika bersama-sama, merupakan bagian dari pergaulan, menjadi barang berharga, dicari-cari–selain karena secangkir sajiannya mampu memberi kenikmatan lebih pada kehidupan. Sebagaimana kata Katib Chelebi, kopi tidak memberi dampak buruk, bahkan dalam beberapa hal membantu orang, misalnya untuk menolak kantuk, melancarkan buang air, dan menyegarkan tubuh. Baru jika malah membuat seseorang sukar tidur atau gelisah, minum kopi dianjurkan dicampur dengan sedikit gula. Pada dasarnya Katib Chelebi menyarankan untuk minum kopi pahit.
Padanan kopi pahit dalam bahasa Inggris adalah “black coffee”, kebetulan juga merupakan salah satu judul lagu jazz standar favorit saya yang dinyanyikan ulang oleh Sinead O’Connor, ciptaan Burke & Webster. (Ada yang tahu nama lengkap mereka?) Lagu itu memang tentang kegetiran perempuan menunggu kekasihnya di rumah–sambil minum kopi pahit dan menghisap nikotin. Tapi di Bandung ada sebuah kelompok seni rupa bernama sanggar “Kopi Pahit”, yang dimotori salah satunya oleh Iwan R. Ismael. Sementara itu beberapa waktu lalu saya menerima email dari seorang kawan cyber, di awalnya dia sudah menulis, “Hei, kamu dapat kopi pahit ya?” Tahu sebabnya? Hahahaha, gara-garanya saya mendapat kecaman dari seseorang setelah mengedarkan tulisan tentang Noam Chomsky. Tahulah bahwa istilah itu memang memiliki beberapa konotasi. “Kopi pahit” dalam konotasi negatif tampaknya juga lazim kita alami dalam kehidupan sehari-hari, bukan?
Jadi saran saya: silakan buat secangkir kopi pahit dalam hidup Anda. Sesekali saja. Kapan saja Anda suka; entah pagi, sambil membaca koran atau sarapan roti. Siang ketika bosan pada panasnya matahari. Atau ketika malam sambil menikmati kesunyian. Tentu selain karena bukan perokok, minum kopi sambil merokok tidak saya anjurkan, sebab asap atau abunya bisa jadi mengganggu orang sekeliling. Hidup juga perlu sesekali terasa berbeda bukan? Rasakanlah bahwa pahit itu bukan sekadar getir, melainkan memberi nuansa tersendiri dalam keseluruhan jiwa kita. Barangkali Anda bisa mendapatkan sesuatu dari sana.[]wartax@…
saia lebih suka kopi yang ada di kedai kopi terdekat. hehe . .
suasana’nya enak, kopinya-pun bikin ketagihan . . .
kopi darat eneng pora?
ciwir´s last blog post..BBM : Belajar Bersama Masyarakat
kopi darat? neng ndi? mbok ajak-ajak kancane, mosok meneng-meneng wae
gajah_pesing´s last blog post..Haier C2000
kopi paste?
denologis´s last blog post..Caleg-Capres Pilihan Saya
15 + 9 = 24
15 + 10 = 25
bersaing ketat dengan mbak afrianti
denologis´s last blog post..Caleg-Capres Pilihan Saya
hubungane opo mas @denologis dengan kopi meng kopi??? hehehe….. Persaingan yang sangat menyenangkan……
afrianti Takaful´s last blog post..Bedanya Asuransi Murni Proteksi dengan Investasi
“esuk-esuk nginum kopi karo maca koran R***r Banyumas,urip koh jan maherel le pool”
jadi ingat koran lokal Banyumas :))
Pradna´s last blog post..Award Pertama
sayang, ane gak suka kopi
Pencerah´s last blog post..Musibah yang Tak Tercegah
biji kopi pilihan ciptakan kopi enak
DETEKSI´s last blog post..Tarif Internet Turun, Warnet Terancam Bangkrut
kuwi iklan
Mangstappp…

aku penggemar kopi juga kang, paling suka sama kopi jenis arabika… sek nandur mbakyuku (daerah bebeng – lereng gunung merapi), digilingke nggon tetanggane, wuihhhh… kalo pagi-pagi mbakyuku bikin kopi itu, nyium aromanya aja udah bikin melek, hehee
mariii ngopi
ãñÐrî ñâwáwï´s last blog post..Earth hour? 1 Jam untuk bumi?
Rasa kopi Arabika memang lebih banyak digemari… Dulu, jenis kopi itu yang pertama kali dibawa ke Indonesia oleh penjajah Belanda pada awal-awal tanam paksa. Karena ternyata tidak tahan terhadap penyakit karat daun, kopi Arabika digantikan oleh kopi Robusta yang lebih tahan penyakit dan bisa dibudidayakan di dataran rendah. Saat ini, Kopi Arabika masih banyak dibudidayakan di daerah-daerah dengan ketinggian >800dpl, karena di ketinggian itu tidak terkena karat daun. Indonesia selama berpuluh tahun menjadi produsen terbesar kopi Robusta di dunia. Saat ini bersaing ketat dengan Vietnam. Mari ngopi
duuuhhh sepertinya fahamnya banget dunia kopi meng kopi??? mauuuuuu
afrianti Takaful´s last blog post..Bedanya Asuransi Murni Proteksi dengan Investasi
Uedyannn… gek-gek sampeyan ki petani kopi yo kang…? hayo ngaku!
Hehee… tapi ono sek luwih maknyosss meneh kang, Kopi Luwak. Wahhh jannn, lha wong nggak bisa dicerna sama luwak, sampe dikeluarken lagi…

Tosss
ãñÐrî ñâwáwï´s last blog post..Seutas Do’a Untuk Keponakanku : Ayu Riza Fatimah & Suyudi
Hehehe… jangan nuduh dong!
Betul sekali… Kopi Luwak, aslinya adalah biji kopi yang ada dalam kotoran Luwak, sejenis musang. Kenapa enak??, karena yang dimakan Luwak hanya kopi yang benar-benar tua dan matang (red cherry), sehingga bijinya pun berkualitas tinggi.
Hanya saja, saya belum tahu, apakah proses fermentasi di dalam perut Luwak juga ikut memberikan rasa yang khas.
pas saya mengelana di rimba sumatra, ternyata kopi dari pohon langsung dikremes langsung juga nikmat sekali, sumpah…
Betul… banyak orang suka kopi mentah yang dikremes langsung karena ada aroma getah yang khas…
Kopi tubruk, kopi campur arak tuban. Maksudnya habis ngopi terus nubruk-nubruk karena mabuk
waduh, kalau saya masih mengandalkan kopi bungkus dari warung pak, habis disini ngga ada kebun kopi hehe
belajar seo´s last blog post..Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009
secangkir kopi dan sebungkus rokok sambil online waduhhh kenikmatan dunia tuh mas andy sampai-sampai hutang aja dilupakan sejenak huahahhah
sukses mas
Ahmad Maulana´s last blog post..Paradigma Pemberantasan Korupsi Di Mancanegara
Kopi bagi sebagian orang adalah teman yang paling setia mas termasuk saya
achmad sholeh´s last blog post..Ketidakpekaan Elit Politik Terhadap Kondisi Masyarakat Kecil
Kopi nikmat mas kalau lagi pusing… hehehe
afrianti Takaful´s last blog post..Bedanya Asuransi Murni Proteksi dengan Investasi
Jarene pancen enak lek ngeracik dhewe kang, opo maneh ditambahi kapulogo, hehehehe.. maknyus…
gempur´s last blog post..Open Suse 11.1: My Notebook Operating System
Lho… menurut commentluv judul tulisan terkini Opensuse….
Lha kok ini pake windows vista??? pasti sedang nggak pake leptopnya ya?
pd dasarnya dq suka kopi
tp skrg dah susah mas
produksi asam lambung dq kuat
jd klo abis minum kopi
hoax…hoaxx,,,..
Nyante Aza Lae´s last blog post..Kita dan Sepotong Roti
Wahhh ternyata memang petani / pedagang kopi tenan kang Andy iki…
ãñÐrî ñâwáwï menampilkan tulisan… Seutas Do’a Untuk Keponakanku : Ayu Riza Fatimah & Suyudi
aku penikmat kopi… sampai2 aku bela2in buka usaha kedai KOPI KOTOK di jogja,walopun cuma kecil2an.. yg penting aku bisa ngopi kapan aj & setip saat hehehehe………. tp yg jelas seneng bisa ksh tempat nongkrong anak2 jogja,terutama musisi band indie jogja,pkoknya seru dah….. slogan kedaiku : KREASIKAN INSPIRASIMU DENGAN SECANGKIR KOPI.
Kalo di Kalimantan Barat ada kopi lain mas.. namanya Kopi Pangku
Tapi konotasinya rada negatif soalnya identik sama kegiatan esek-esek
Saya pernah lihat di tivi Pak, kl gak salah di daerah Yogya atau Semarang, ada kopi jos namanya. Bukan jos rasanya tapi karena pas buatnya dimasukkin arang yang membara dari kayu yang dibakar, suaranya mak jossss, jadi namanya KOPI JOOOSSS. Kalau rasanya belum pernah coba. Saya termasuk penggemar kopi, kafeinnya sedikit membantu pada saat2 tertentu seprti sekarang ini.
sedulur kerja keras adalah energi kita menampilkan tulisan..Kerja Keras Adalah Energi Kita
wah, penggemar kopi sejati nich! saya juga suka kopi tapi enggak jauh dari kopi susu modern sih
alias espresso dan derivarent-nya
.
pernah nyobain kopi kilimanjaro segala? wah saya aja yang sudah pernah ke Tanzania belom pernah nyobain …
yang belom kesampaian yaitu minum kopi luwak (pernah ke cafe luwak malah enggak ada kopi luwaknya… aneh…. malu sama nama :-d ) sama kopi yang dicampur arang panas (kalau enggak salah di daerah UGM di jogja … ) mungkin nanti ….
BTW: saya support semarang banjir kuliner! semoga per-kuliner-an kita semakin ngetop markotop!
sedulur gadgetboi menampilkan tulisan..Linux Mint 8 Helena release!
aku juga suka sama kopi
:)
sedulur si Rusa Bawean menampilkan tulisan..Telkomsel Campus Blog Competition
aku suka kopi tapi yang manis bukan yang pahit (hehehe)
sedulur dameydra menampilkan tulisan..Page View Blog
samapi detik ini saya di rumah cuma mengkonsumsi 2 merk kopi mas,
kapal apai cap kopi dan kopi cap manuk glathik
tak lupa sebatang tembakau kretek (loro,telu,papat) buatan surabaya
Wohhh, pantesan kok koyo wes tau moco cerito iki, ternyata reBlog…
mari ngopi
sedulur andri menampilkan tulisan..Ternyata Udah Setahun 
arep gawe tulisan maneh kok agi aras-arasen, koneksine lemot polll…
Wahhh… barusan baru buka BLOGFest09
semoga menang, tulisane apik soale
sedulur andri menampilkan tulisan..Ternyata Udah Setahun 
sing penting semarak, mas Andri! tambah rame tambah gayeng!
Kalau dapat hadiahnya.. aku mauuu dooonkk.. hehehe
Kopi + Mocca = Kopi Paste…..
Wah….penggemar kopi. Kalo saya paling seneng ma kopi Bali. Soalnya pahit dan hitamnya yang khas membuat sayaa ketagihan. Tapi sayangnya sekarang sudah tidak bisa menikmati kopi Bali lagi.
sedulur Next Jimbun Punya menampilkan tulisan..Belajar Linux; Install Wifi Broadcom di Linux Mint 8
mas andy, gimana sih caranya bikin blog yang menarik? blog mas andy ini tampilannya bagus-bagus. ngiri aku!
soal kopi, sekarang ini aku kepikiran mau beli kopi impor (dari itali, prancis) yang di jual di salah satu supermarket deket rumahku. tapi harganya mahal-mahal, 100 ribu, 80 ribu. sampai aku ngebatin, ‘masak sih buat kopi aja harus semahal ini?’ jadi enggak kebeli-kebeli. tetap aja yang aku minum kopi aroma, kopi lokal bandung. kata semua orang, itu kopi legendaris. top bgt.
yang aku sukai juga ialah susukedelai campur kopi instan. nah, kalau yang instan, aku lagi suka kopiku brown coffee.
sedulur wartax menampilkan tulisan..
@wartax: wah… aku justru ingin bisa nulis bagus seperti dirimu….
nyawa dari website adalah konten, bukan pernak-perniknya… hehehe…
soal kopi, jangan pengin kopi2 eropa deh! kan kopi mereka asalnya dari amerika latin dan asia… cuma saja, mereka orang eropa bikin aneka blending dengan bahan dasar (pokok) robusta, arabika, dan ekselsa…
saya lebih suka kopi aroma… pernah sekali ke pabriknya dulu banget, itu benar2 dari kopi pilihan, bahkan ada yang diolah dari biji yang telah disimpan selama beberapa tahun dalam keadaan kering <13%…. hasilnya mantap banget…
kalo kata org malang “ipokane”
Seperti diketahui didaerah saya, sumatera selatan, khususnya daerah pagar alam, di lereng gunung dempo, adalah salah satu lumbung penghasil kopi di sumatera,,, Memilih biji kopi sendiri kemudian menjemurnya hingga kering diterik matahari, hingga menumbuk (memisahkan kulitnya) lalu di sangrai, kemudian ditumbuk lagi utk menghasilkan bubuk kopi adalah kebiasaan saia di kampung dulu…
Kini setelah ibunda tlh tiada dan jantungpun sudah tidak kuat lagi, akhirnya Kopi ABC Susu menjadi soulmate saya saban dino…
sedulur Mengembalikan Jati Diri Bangsa menampilkan tulisan..Hari Antikorupsi Dunia
Kalau saya biasanya suka kopi dalam sachet yang langsung tuang + air panas = enak, biasanya cari yang bubuk bukan yang instan, karna yg instan kurang baik… lebih sehat yang bubuk
sedulur papadanmama menampilkan tulisan..Persiapan bersalin atau persiapan kelahiran anak (2)
kopi luwak memang sedap walau hasil dari fermentasi hewan luwak
kopi !?? pasti nikmat….
@AndyMSE
apa benar kopi luwak berasal dari kotoran luwak. Setahu saya biji kopi luwak berasal dari muntahan biji yang dibuang dari luwak. Yang benar yang mana ya?
luwak (jenis tertentu) suka makan buah kopi yang matang. biji kopi yang ditelan luwak, karena dilindungi oleh kulit tanduk yang keras, tidak bisa dicerna oleh sistem pencernaan luwak. keluarnya masih dalam ujud biji, tentu saja bercampur aneka buangan cernaan luwak. setelah dipisahkan dan dibersihkan, biji kopi yang ada di kotoran luwak itu tetap bisa diolah menjadi wedang kopi.
kenapa enak? karena yang dimakan luwak hanya biji tua yang matang pohon… artinya sudah ada penyortiran secara alami.
kopi mulai ada di abad ke-17 tapi kok bisa tiba ke Asia Kecil pada taon 1543-an seeh om
ada abad ke 17 menyebar abad ke 14 *kok bisa gitu yah*
kopi tubruk, mmmm jadi inget masa kecil dulu ketika sang kakek masih ada di dunia ini :) sesekali sering juga ngikut nyicipin kopi tubruk beliau dan kopi tubruk tersebut juga hasil
sungguh nikmat…….. hingga sekarang pun saya menyandu yang namanya kopi itu, hampir tak pernah lepas tiap hari minimal 1 cangkir kopi saya alirkan dalam tubuh ini
menemani rutinitas kerja saya, menemani blogging saya, menemani saya dan teman2 ketika berkumpul bercanda ria, dan keyword “kopi” pun seakan2 telah menjadi seperti sampah dalam tret plurk saya karena memang terlalu sering saya ngtret plurk dengan kata kopi tsb
sedulur katakataku menampilkan tulisan..Tanya 
menubrukolahan sang kakek (bukan beli)kopi mulai digunakan sebelum abad 14… bukan abad 17…
abad 17 dalam tulisan di atas adalah keterangan tentang Khatib Celebi, seorang penulis yang juga penikmat kopi Turki yang hidup pada abad ke-17…
sampai sekarang, saya juga masih tetap menjadi penikmat kopi, terutama kopi hitam…
Kopi Local nggak ada bedanya dengan kopi nonLocal.
Cintai Kopi Indonesia!!
sedulur Uliah Black menampilkan tulisan..Smadav 2009 rev.7.5 dirils